Humaniora

'Taragak Pulang', Mudik serta Badai Efisiensi yang Masih Mendera

Wacana.info
Kondisi Terminal Tipe A Simbuang Mamuju di Puncak Arus Mudik. (Foto/Accy)

POLMAN--"Alah batahun rantau manjadi labuhan hiduik. Tabayang kampuang tampek bamain maso dulunyo. Rindu manahun manyeso diri, siang jo malam samakin laruik. Mandayo badan pulang ka kampuang nan denai cinto, mandayo badan pulang ka kampuang nan denai cinto".

Sepenggal lirik dari lagu berjudul 'Taragak Pulang' yang dipopulerkan dara cantik bernama Ayu Atari. Sebuah lagu yang selalu meledak utamanya di setiap musim mudik jelang hari raya. Lagu yang oleh sebagian besar pemudik, selalu jadi back sound, pelengkap story perjalanan mudik yang dilakoninya.

Ramadan 1447 H, 2026 M tersisa beberapa hari lagi. Sebagian besar orang, utamanya mereka yang dilabeli sebagai perantau, kini sudah mulai meninggalkan kota. Mudik, pulang ke kampung halaman demi satu tujuan; merayakan hari raya bersama keluarga terkasih.

'Badai' efisiensi anggaran yang masih berlaku tahun ini, sepertinya tak mempengaruhi riuh aktifitas mudik oleh sebagian besar masyarakat kita. Belum wajah perekenomian yang semakin ke sini semakin tidak jelas akibat gejolak global, seolah tak berimplikasi langsung pada besarnya animo masyarakat untuk melakukan perjalanan pulang kampiungnya.

Prof. Dr. H. Anwar Sadat menilai, di tengah himpitan ekonomi masyarakat, fenomena mudik tetap konsisten penyebarannya. Mudik tetap 'jalan terus' meski APBN/APBD di-rem. Baginya, mudik bukan sekadar bepergian, tetapi 'ritual pulang' untuk memulihkan identitas, martabat, dan ikatan kekeluargaan yang tak mudah dikorbankan oleh logika penghematan ekonomi.

Mudik, kata dia, adalah habitus yang mengendap dalam tubuh dan jiwa orang Indonesia, terutama kaum urban perantau. Sejak masa kolonial, ketika arus urbanisasi menguat, pulang kampung setiap hari raya menjadi cara 'mengikat ulang' hubungan dengan kampung halaman, leluhur, dan keluarga besar.

"Karena itu, mudik bukan sekadar pilihan rasional yang bisa dibatalkan oleh naiknya harga tiket. Melainkan kebiasaan turun-temurun yang menyatu dengan identitas diri; 'saya orang sini, tapi akar saya di sana'," beber Prof. Dr. H. Anwar Sadat, Rabu (18/03).

Dalam perspektif sosiologis hukum Islam, mudik Idul Fitri berkelindan dengan nilai-nilai silaturahim dan tautsul arham (kewajiban menyambung kekerabatan), menjenguk orang tua, dan hadir secara fisik ketika momen sakral Idul Fitri tiba. Kata dia, Idul Fitri bukan hanya hari raya individu, tapi perayaan sosial yang menuntut kebersamaan dan kehadiran di tengah keluarga dan komunitas. I’lanul farah (menampakkan rasa gembira yang terukur), yang salah satu wujudnya adalah pulang, berdamai, dan saling memaafkan.

Guru besar ilmu sosiologi hukum islam, STAIN Majene itu mengatakan, ketika dilihat secara sosiologis, hukum islam tampil bukan hanya sebagai norma teks, tetapi sebagai kekuatan yang menghidupkan jaringan sosial. Mudik menjadi ritual islah memperbaiki hubungan, meruntuhkan jarak emosional, dan mengobati luka-luka lama dalam keluarga.

Prof. Dr. H. Anwar Sadat. (Foto/Istimewa)

"Karena itu, meski pengeluaran besar, mudik dipersepsikan sebagai 'pengorbanan syar’i sosial'; mengeluarkan harta demi terjaganya rahmat keluarga dan kehormatan orang tua. Di titik ini, efisiensi anggaran negara berhadapan dengan 'prioritas syar’i sosiologis' masyarakat. Belanja seremonial sangat mungkin dikurangi, tapi 'belanja pulang' tetap dipertahankan karena dianggap lebih bernilai secara agama dan sosial," urai dia.

Kebijakan efisiensi anggaran memang mengharuskan adanya penghematan hingga triliunan dengan memangkas belanja non-produktif, perjalanan dinas, dan berbagai pos lain. Di level akar rumput, warga merasakan tekanan, transfer ke daerah menurun, ruang fiskal pemerintah daerah menyempit, dan beberapa layanan publik ikut terimbas.

Dalam konteks itu, kata Prof. Dr. H. Anwar Sadat, mudik menjadi 'koreksi halus' masyarakat terhadap logika negara yang terlalu ekonomistik. Pesannya sederhana, pembangunan boleh efisien, tapi jangan sampai mematikan ruang perjumpaan, pelukan keluarga, dan ritual pulang yang menjadi sumber energi sosial bangsa.

"Sosiologis hukum Islam dapat membaca fenomena ini sebagai tuntutan keadilan struktural dimana negara wajib menata kebijakan agar efisiensi tidak memutus akses warga untuk merayakan Idul Fitri secara bermartabat. Fikih sosial ditantang agar mampu menyuarakan maslahah yang tidak hanya bernuansa angka, tapi juga nuansa air mata rindu dan pelukan orang tua di kampung," terang mantan aktivis HMI itu.

Mudik adalah 'ijtihad sosial' umat. Masih oleh Prof. Dr. H. Anwar Sadat, mempertahankan mudik sebagai ritual pulang, meski ongkosnya makin berat. Beberapa pesan inspiratif yang bisa digarisbawahi bagi keluarga perantau khususnya, jadikan mudik sebagai ruang taqarrub sosial, memperdalam syukur, memulihkan hubungan, dan bukan sekadar ajang pamer kemewahan. 

Bagi pemerintah, rancang kebijakan transportasi, cuti, dan perlindungan sosial yang ramah pada tradisi mudik penting untuk didiskusikan bersama. kata dia, mudik menyimpan energi kohesi sosial yang menopang ketahanan bangsa. Bagi ulama dan akademisi, suarakan fikih mudik sebagai fikih rahmat menuntun umat mengelola rindu dan pengeluaran dengan bijak, tanpa mengebiri ruh silaturahim yang menghidupkan Idul Fitri.

Gubernur Suhardi Duka saat Menyapa Pemudik di Terminal Kelas Tipe A Simbuang, Mamuju. (Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Sulbar)

Menurutnya, kika anggaran negara memasuki 'badai efisiensi', maka tugas ilmu dan iman adalah memastikan bahwa yang dihemat adalah pemborosan, bukan kemanusiaan. Selama mudik masih hidup, selama orang tetap pulang meski harus berhemat dan bersiasat, berarti bangsa ini masih punya rumah bersama yang bernama keluarga, kampung halaman, dan Idul Fitri sebagai puncak rekonsiliasi sosial dan spiritualnya. 

"Pada akhirnya, mungkin dompet kita yang paling dulu berteriak 'Allahu akbar !', tapi hati kita pelan-pelan menjawab, 'Tenang, sebentar lagi sampai rumah'. Kalau anggaran negara boleh efisiensi, jangan sampai kita ikut menghemat pelukan, senyum orang tua, dan tawa di ruang tamu saat Idul Fitri.
Sebab siapa tahu, di tengah jalan berdesakan dan saldo yang menipis, justru di sanalah Allah sedang menabung pahala, menguatkan keluarga, dan diam-diam memperkaya jiwa kita," simpul Prof. Dr. H. Anwar Sadat.

Mudik; Belanja Spiritual

Data yang diperoleh dari Balai Pengelola Transportasi Darat kelas III Sulawesi Barat, sebanyak 1069 penumpang yang keluar dari terminal tipe A Simbuang di puncak arus mudik tahun 2026, Selasa (17/03). Para tersebut di angkut oleh 42 kendaraan AKAP.

Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas III Sulawesi Barat, Ahmad Rezy Setiawan mengungkapkan, seluruh armada yang beroperasi telah melalui pemeriksaan dan dinyatakan aman.

“Semua bus sudah kami cek dan dinyatakan layak jalan. Secara keseluruhan aman,” beber Ahmad Rezy Setiawan.

Jika dibandingkan dengan hari-hari biasa, angka di atas jelas bukan jumlah yang kecil. Angka yang sekaligus memberi penegasan tentang semangat untuk mudik yang sebegitu menggebu-gebunya.

Nur Salim Ismail. (Foto/Istimewa)

Di mata Dr. Nur Salim Ismail, M.Si, mudik sebenarnya memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan belanja spiritual. Mereka berani mudik, karena pos anggaran pemudik sejak awal sudah disisipkan. Tak peduli, soal stabilitas kondisi keuangan.

"Itulah emosi jiwa para pemudik. Bukan soal ada uang atau tidak. Ini kerinduan yang keliru jika ditakar dalam timbangan uang. Sebab pada titik tertentu, apapun bisa dijual asalkan mereka dapat mudik," begitu kata Nur Salim Ismail, pria yang juga pengasuh pondok pesantren Ihyaul 'Ulum DDI Baruga, Majene itu. (*/Naf)