Ketika Perempuan Memimpin Masa Depan; Visi dan Pengabdian dari Kota Tua Majene
Oleh: Zulkarnain Hasanuddin,.SE,.MM (Dosen STIE YAPMAN)
Dalam kajian kepemimpinan masa kini (modern), seorang pemimpin tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan administratifnya, tetapi dari kapasitas visioner yang dimilikinya. Yaitu kemampuan membaca arah perubahan sosial sekaligus merumuskan orientasi masa depan bagi masyarakat yang dipimpinnya.
Dalam perspektif ini, penghargaan Indonesia Visionary Leader Award yang diraih oleh Ibu Andi Rita Mariani Basharoe ( Wakil Bupati Majene) dapat dipahami bukan hanya sebagai capaian personal, tetapi sebagai pengakuan atas praktik kepemimpinan yang berorientasi pada masa depan dan transformasi sosial. Secara konseptual, kepemimpinan visioner mengandaikan tiga dimensi utama.
Pertama, dimensi epistemik. Yakni kemampuan memahami realitas sosial secara mendalam, melihat struktur masalah, potensi lokal, serta dinamika perubahan yang sedang berlangsung.
Kedua, dimensi normatif. Yakni komitmen etis seorang pemimpin untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Ketiga, dimensi praksis. Yaitu kemampuan menerjemahkan visi menjadi kebijakan, program, dan tindakan nyata yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam konteks masyarakat Mandar Majene, kepemimpinan memiliki dimensi kultural yang kuat. Tradisi politiknya sejak lama menempatkan pemimpin bukan semata sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga keseimbangan sosial dan moral masyarakat. Dalam kerangka ini, seorang pemimpin diharapkan mampu memadukan rasionalitas modern dengan kearifan lokal yang telah lama menjadi fondasi kehidupan sosial.
Karena itu, kepemimpinan visioner di daerah seperti Majene tidak dapat dilepaskan dari dialektika antara modernitas dan tradisi. Pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan peningkatan indikator ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga dengan penguatan identitas sosial, solidaritas komunitas, dan keberlanjutan nilai-nilai budaya.
Pemimpin yang visioner adalah mereka yang mampu menjembatani dua dunia tersebut, mendorong kemajuan tanpa tercerabut dari akar peradaban lokal. Dalam perspektif politik, kepemimpinan yang demikian dapat dipahami sebagai bentuk etika pengabdian publik.
Penghargaan nasional yang diterima oleh Ibu Dr. Andi Rita Mariani Basharoe pada dasarnya menegaskan bahwa praktik kepemimpinan di tingkat lokal dapat memiliki resonansi yang lebih luas dalam ruang nasional. Sekaligus menunjukkan bahwa daerah bukanlah objek pembangunan saja, tetapi juga sumber lahirnya gagasan dan praktik kepemimpinan yang inspiratif.
Dan makna terdalam dari kepemimpinan visioner bukan hanya pada penghargaan yang diterima, tetapi pada warisan intelektual dan moral yang akan ditinggalkan. Seorang pemimpin visioner tidak hanya membangun program, tetapi juga membangun kesadaran masyarakatnnya tentang masa depan yang mungkin dicapai bersama.
Dengan demikian, prestasi yang diraih oleh Ibu Dr. Hj. Andi Rita Mariani Basharoe dapat dibaca sebagai bagian dari proses panjang pembentukan kepemimpinan daerah yang reflektif, etis, dan transformatif, sebuah kepemimpinan yang tidak hanya mengelola masa kini, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi masa depan masyarakat Majene tanpa pandang bulu, entah itu laki-laki, ataupun perempuan.
Pada Akhirnya kami masyarakat majene mengucapkan selamat atas pencapaian yang telah diraih, berharap penghargaan tersebut menjadi ruang pengabdian yang lebih berdampak lagi kedepan pada seluruh masyarakat majene, sekaligus dimasa yang akan datang dapat memastikan bahwa Majene adalah kota peradaban.
Kota ini menyandang sebagai kota pendidikan sekaligus kota tua, dimana awal mula peradaban di Tanah Mandar titiknya ada di Kabupaten Majene. (*/Naf)









