OPINI

Sunyi di Kotak Amal, Ramai di Jalanan

Wacana.info
Nur Salim Ismail. (Foto/Istimewa)

Oleh: Dr. Nur Salim Ismail, M.Si (Kabid Keagamaan dan Pembinaan Umat MW KAHMI Sulawesi Barat)

Selepas subuh, saya berdiskusi dengan salah seorang profesor, dosen saya. Kami mendiskusikan tentang fenomena praktik kedermawanan di tengah kehidupan umat Islam. Percakapan itu membawa kami pada satu kesadaran yang pelan namun dalam; fenomena ini bukan sekadar gejala sosial, melainkan undangan refleksi batin—terutama bagi mereka yang diberi amanah mengelola masjid.

Ramadan selalu mengajarkan bahwa memberi bukan sekadar tindakan, melainkan perjalanan batin. Namun setiap perjalanan membutuhkan ruang yang hidup, yang mampu menyapa, menggerakkan, dan memberi makna. Ketika ruang itu tidak cukup menghadirkan pengalaman, kebaikan tidak berhenti—ia hanya mengalir melalui jalur-jalur lain yang dirasakan lebih dekat dengan jiwa manusia.

Di titik ini, fenomena berkurangnya isi kotak amal semestinya tidak segera dibaca sebagai melemahnya semangat umat. Ia justru dapat menjadi cermin yang jujur bagi pengurus masjid untuk menengok ke dalam; sejauh mana masjid telah menjadi ruang yang menghidupkan keterlibatan, bukan sekadar menerima partisipasi yang pasif.

Selama ini, dalam banyak hal, masjid masih dijalankan dalam paradigma sebagai pengelola. Dalam posisi ini, pengurus menjalankan fungsi administratif; membuka, menjaga, mengatur, dan menerima. Amal datang, dikelola, lalu disalurkan. Umat hadir sebagai penyumbang, tetapi tidak selalu sebagai bagian dari proses kebaikan itu sendiri.

Paradigma ini tidak keliru, tetapi ia belum cukup.

Zaman menuntut pergeseran yang lebih halus namun mendasar; dari pengelola menuju fasilitator kebaikan. Dalam paradigma ini, pengurus masjid tidak lagi hanya mengatur alur amal, tetapi menghidupkan ruang partisipasi. Mereka tidak sekadar menunggu umat memberi, tetapi mengajak umat untuk terlibat—sejak dari niat, proses, hingga merasakan dampak dari kebaikan itu.

Menjadi fasilitator berarti membuka pintu yang lebih luas bagi umat untuk hadir secara utuh. Kebaikan tidak hanya diserahkan, tetapi dijalani bersama. Umat tidak hanya diminta untuk mengisi kotak amal, tetapi diajak untuk menyentuh langsung makna dari apa yang mereka berikan.

Di sinilah letak perubahan yang perlu direnungkan. Bahwa manusia hari ini merindukan pengalaman yang hidup dalam beragama. Mereka ingin merasakan bahwa kebaikan yang mereka lakukan bukan sekadar selesai dalam satu tindakan, tetapi menjadi bagian dari aliran makna yang lebih luas.

Masjid memiliki potensi besar untuk menjawab kerinduan ini. Ia dapat menjadi ruang di mana kebaikan tidak hanya terhimpun, tetapi juga dipertemukan dengan pengalaman. Program yang melibatkan umat, transparansi yang menghadirkan rasa percaya, serta ajakan yang menyentuh sisi kemanusiaan dapat menghidupkan kembali kedekatan antara masjid dan jamaah.

Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran. Bahwa amanah mengelola masjid bukan hanya soal menjaga bangunan dan aktivitas, tetapi merawat denyut kehidupan umat di dalamnya.

Kesunyian dalam memberi tetap memiliki nilai yang luhur. Ia adalah ruang kejujuran yang paling dalam antara hamba dan Tuhannya. Namun kesunyian itu akan menemukan kehangatannya ketika masjid mampu menjadi jembatan yang menghubungkan hati manusia dengan pengalaman kebaikan yang nyata.

Ramadan memberi kita kesempatan untuk melihat lebih jernih. Bahwa kebaikan tidak pernah berkurang, ia hanya bergerak mengikuti ruang yang mampu menampungnya dengan hidup.

Maka yang dibutuhkan bukan sekadar memperbanyak ajakan memberi, tetapi menggeser cara menghadirkan kebaikan itu sendiri. Dari yang semula dikelola, menjadi difasilitasi. Dari yang semula pasif, menjadi partisipatif. Dari yang semula sunyi tanpa keterhubungan, menjadi sunyi yang tetap hidup dalam makna kebersamaan.

Dan ketika masjid mampu mengambil peran itu, maka kebaikan akan kembali menemukan jalannya, mengalir dengan tenang, tumbuh dengan hangat, dan bermuara pada ketulusan yang semakin dalam.

Barru, 18 Maret 2026,-