Cuaca Tak Bersahabat, Harga Ikan Meroket
Laporan: Rusman 'Ucok' Rusli
MAMUJU--Aktivitas nelayan di sejumlah wilayah perairan Pulau Sulawesi tampak begitu terbatas. Cuaca buruk sejak Desember 2025 yang lalu jadi penyebabnya. Kondisi di aras memicu penurunan pasokan sekaligus lonjakan harga berbagai jenis ikan di pasar-pasar tradisional dan modern.
Informasi yang diperoleh dari Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Barat menyebutkan, fenomena di atas terjadi merata di tiga provinsi; Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Kondisi Cuaca dan Dampaknya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan intensitas angin, gelombang tinggi, serta curah hujan yang cukup signifikan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Sebuah kondisi yang jelas membatasi ruang gerak para nelayan untuk melaut, sehingga hasil tangkapan ikan menurun drastis.
"Pasokan dari laut sangat berkurang. Banyak nelayan yang memilih untuk tidak melaut demi keselamatan karena ombak terlalu besar," jelas Hasbi, seorang pedagang ikan di Pasar Sentral Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (10/01).
Lonjakan Harga yang Signifikan
Dampak langsung dari kelangkaan pasokan adalah kenaikan harga ikan yang cukup tajam. Berikut rincian kenaikan di beberapa wilayah:
1. Sulawesi Barat (Mamuju, Mamuju Tengah, Majene):
· Ikan Kembung: Naik dari Rp 40.000/kg menjadi Rp 60.000 - Rp 70.000/kg.
· Ikan Layang: Naik dari Rp 35.000/kg menjadi Rp 50.000/kg.
· Ikan Tongkol: Naik dari Rp 20.000/kg menjadi Rp 35.000 - Rp 40.000/kg.
2. Sulawesi Tengah (Kota Palu):
· Harga ikan Layang, Katombo, dan Bandeng dilaporkan mengalami kenaikan hingga dua kali lipat akibat pasokan yang minim sejak 7 Januari 2026.
3. Sulawesi Selatan:
· Kota Makassar (per 19 Desember 2025): Kenaikan diperparah oleh tingginya permintaan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
· Ikan Kembung: Naik dari Rp 3.000/ekor menjadi Rp 5.000/ekor.
· Ikan Tuna: Naik dari Rp 50.000/kg menjadi Rp 70.000/kg.
· Udang Vanname: Naik dari Rp 70.000/kg menjadi Rp 100.000/kg.
· Kabupaten Bulukumba (6 Januari 2026):
· Ikan Layang: Melonjak dari Rp 25.000/5 ekor menjadi Rp 50.000/5 ekor.
Faktor Pendukung dan Edukasi Publik
Selain cuaca, faktor permintaan yang tinggi pada momen hari besar turut memperkuat tren kenaikan harga. Masyarakat diimbau untuk memahami siklus alami ini.
Dr. Maya Sari, Pakar Ekonomi Kelautan Universitas Hasanuddin menjelaskan, kondisi di atas adalah contoh klasik bagaimana faktor alam (supply shock) dan permintaan tinggi (demand shock) bertemu.
"Yang menyebabkan tekanan harga yang signifikan. Konsumen bisa mulai mempertimbangkan diversifikasi pangan dengan sumber protein alternatif seperti ikan hasil budidaya (akuakultur), ayam, telur, atau kacang-kacangan untuk sementara waktu. Di sisi lain, ini juga momentum untuk memperkuat sistem logistik pendinginan (cold chain) agar stok ikan bisa lebih stabil," terang dia.
BMKG memperkirakan kondisi gelombang tinggi masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Nelayan dan masyarakat pesisir diimbau terus memantau peringatan dini cuaca maritim dari BMKG untuk keselamatan.
Dengan pemahaman yang baik dari semua pihak—mulai dari nelayan, pedagang, hingga konsumen—dampak fluktuasi harga akibat musim buruk dapat diantisipasi dan dikelola dengan lebih baik, tanpa mengorbankan keselamatan jiwa di laut. (*/Naf)









