Humaniora

Merajut Mamuju dalam 'Liminal Dots'

Wacana.info
Kegiatan Para Seniman di Salah Satu Titik di Kecamatan Kalumpang. (Foto/Pitu Sinema)

MAMUJU--Pesisir dan pegunungan. Dua proporsi utama yang membentuk Kabupaten Mamuju hari ini. 

Dua segmen itu juga yang memberi warna utama serta karakteristik primer terhadap pola pergaulan sosial masyarakat Mamuju. Sebuah komposisi menarik untuk dijadikan pijakan utama dalam upaya menjaga nilai kebudayaan sekaligus implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah deskripsi yang dijadikan alas berpikir oleh Muhammad Aswad Atjo dalam inisiasinya menggelar event budaya bertajuk 'Liminal Dots'. Baginya, Liminal Dots adalah salah satu cara untuk dapat memahami serta membaca Mamuju lewat kisah-kisah (budaya oral) dua tradisi dan kebudayaan yang merepresentasikan geografis Mamuju; pesisir dan gunung.

Tentang bagaimana cerita-cerita itu menyusun kehidupan Mamuju yang hari ini telah bertransformasi menjadi Ibukota Provinsi Sulawesi Barat.

"Semua diolah lewat pendekatan atau metode dari beragam praktik kesenian. Dari sketsa, seni bunyi, hingga film," tutur Muhammad Aswad Atjo, Senin (06/04).

(Poster/Istimewa)

Ditemui di Ngalo Rock Coffee, Aswad akan ada sejumlah item kegiatan di event tersebut. Dari residensi, pameran, produk visual, forum diskusi serta pemutaran film.

Dalam prosesnya, ada lima orang seniman yang sedang melakukan penelitian, sekaligus merekam berbagai macam objek, kisah lisan dan cerita turun-temurun masyarakat terkait hubungan erat antara pesisir dan pegunungan yang berlaku di  Mamuju. Para seniman itu datang dari berbagai latar belakang kesenian.

"Teman-teman sudah datang dari Kalumpang. Lima hari kami disana. Dalam waktu dekat, kami akan melanjutkan penelitian di Sampaga, khususnya di wilayah sungai Sampaga untuk memotret peran penting sungai Sampaga sebagai urat nadi utama penghubungan pesisir dan pegunungan di Mamuju," terang Aswad, pria yang juga aktivis kesenian itu.

Liminal Dots sendiri rencananya bakal digelar di gedung perpustakaan dan kearsipan Mamuju, 22 hingga 25 April 2026. Menurut Aswad, di momentum tersebut akan dipamerkan berbagai karya seni hasil penelitian para seniman yang terlibat.

"Biar publik punya pendekatan lain dalam memaknai Mamuju dan segmen pesisir dan pegunungan yang tak bisa dipisahkan itu. Agar masyarakat mampu memetik hikmah, belajar dari sebuah kearifan lokal yang telah ada sejak zaman dulu," pungkas Muhammad Aswad Atjo. (*/Naf)