Humaniora

Lebih Dekat dengan Partisipan 'Liminal Dots'

Wacana.info
(Foto/Istimewa)

MAMUJU--Lima seniman dengan berbagai latar belakang, jadi partisipan utama di event Liminal Dots yang diinisiasi oleh komunitas Bunyi Cicak dan Pitu Sinema. Kelimanya sedang dalam tahap penelitian.

Tak cuma partisipan lokal saja. Event itu juga menghadirkan sejumlah seniman dari luar daerah. Kelimanya masing-masing; Helmi Yusron, Mus'ad, Rahmania Nevra, Akbar dan Rahmi Ramli.

Para Partisipan residensi di event Liminal Dots bakal mengejewantahkan lewat karya seni apa dan bagaimana Mamuju yang direkam lewat kisah-kisah tradisi dan kebudayaan yang merepresentasikan geografis Mamuju; pesisir dan gunung. 

Termasuk bagaimana cerita-cerita itu menyusun kehidupan Mamuju hari ini yang telah bertransformasi menjadi ibu kota Sulawesi Barat. Semuanya diolah melalui pendekatan atau metode dari beragam praktik kesenian, seperti sketsa, seni bunyi, hingga film.

Berikut profil singkat lima partisipan residensi di event Liminal Dots.

1. Helmi Yusron


Pembuat film dán seniman audiovisual. Karyanya yang bertajuk 'Kulihat Kau Lihat Dia' (2023) diputar di Arkipel Jakarta International Documentary dan Experimental Film Festival serta di Painting with Light Festival (2025) di National Gallery Singapore. Ia merupakan bagian dari Sigisora dan saat ini menjadi seniman serta ko-peneliti dalam proyek Futures of Listening; Water Knowledge from Two Cities yang didukung oleh British Academy. Film terbarunya, A Saucerful of Secrets (2025), tayang perdana di Festival Film Tengah, Palu.

2. Mus'ad


Lebih dikenal dengan nama Aad Mandar, adalah perupa kelahiran Sulawesi Barat yang memulai karir berkeseniannya sejak aktif mengenal kaligrafi Islam di salah satu pondok pesantren di Polman. Aktif membangun relasi belajar seni rupa dan berpameran di Yogyakarta sejak tahun 2015. Inisiator komunitas Ikatan Perupa Sulawesi Barat dan pendiri Art Studio Alam Karya di Mamuju sejak tahun 2020. Fokus utama karyanya saat ini adalah 'Semesta Anjoro' objek visual dari kelapa yang punya peranan hidup dalam individu setiap orang.

3. Rahmania Nevra


Rara (Kebumen, 2001). Adalah seniman dan penulis yang berbasis di Depok, Jawa Barat. Ia lulus dari Program Studi Rusia, Universitas Indonesia pada tahun 2023. Sejak tahun 2024 ia tergabung dalam Milisifilem Collective yang berbasis di Jakarta. Kegiatannya saat ini adalah membuat karya visual dan menulis tentang film. Beberapa tulisannya dimuat dalam buku S... Untuk Sinema dan Minikino Articles.

4. Akbar

 
Adalah fotografer dan pembuat film asal Mamuju, Sulawesi Barat yang aktif memotret berbagai kegiatan di daerahnya. Ia dikenal luas di kalangan komunitas kreatif Mamuju lewat pendokuemtasian serta konsistensinya mereka momen sosial, acara lokal, hingga lanskap kota. Fokus karyanya banyak mengangkat sisi keseharian masyarakat dan lanskap alam Sulawesi Barat.

5. Rahmi Ramli


Akrab disapa Nami. Lahir di Topore pada tahun 2004. Mahasiswa Arsitektur Universitas Tomakaka Mamuju Saat ini tengah mengeksplorasi berbagai teknik dasar visual seperti sketsa dan gambar menggunakan pen dan gouache. Ia merupakan bagian dari Ikatan Perupa Sulawesi Barat sejak tahun 2024.

"Teman-teman sudah datang dari Kalumpang. Lima hari kami disana. Dalam waktu dekat, kami akan melanjutkan penelitian di Sampaga, khususnya di wilayah sungai Sampaga untuk memotret peran pentung sungai Sampaga sebagai urat nadi utama penghubungan pesisir dan pegunungan di Mamuju," terang Muhammad Aswad Atjo, inisiator kegiatan.

Liminal Dots sendiri rencananya bakal digelar di gedung perpustakaan dan kearsipan Mamuju, 22 hingga 25 April 2026. Menurut Aswad, di momentum tersebut akan dipamerkan berbagai karya seni hasil penelitian para seniman yang terlibat.

"Biar publik punya pendekatan lain dalam memaknai Mamuju dan segmen pesisir dan pegunungan yang tak bisa dipisahkan itu. Agar masyarakat mampu memetik hikmah, belajar dari sebuah kearifan lokal yang telah ada sejak zaman dulu," pungkas Muhammad Aswad Atjo. (*/Naf)