Setahun SDK-JSM; Angka-angka yang Tumbuh serta Harapan yang Menguat
Laporan: Rakhmat (Staf Badan Kesbangpol Sulawesi Barat)
MAMUJU--Pagi di pesisir Sulawesi Barat selalu datang dengan cara yang sederhana. Matahari naik perlahan di ufuk timur, perahu-perahu nelayan kembali ke darat, dan aktivitas warga dimulai seperti biasa. Namun di balik rutinitas itu, ada cerita tentang perubahan yang pelan-pelan terasa.
Jumat, 20 Februari 2026, Tepat satu tahun kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga (SDK-JSM). Sebuah momentum penting yang lebih dari sekadar tentang angka dalam laporan. Ini tentang harapan yang dijaga, tentang kerja yang tak selalu terlihat, dan tentang keyakinan bahwa daerah ini bisa melangkah lebih jauh.
Di atas kertas, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat tercatat 5,36 Persen—lebih tinggi dari capaian nasional 5,11 Persen. Angka itu mungkin terdengar teknis. Tapi bagi pedagang kecil di pasar tradisional, bagi petani yang panennya terserap, bagi nelayan yang harga ikannya membaik, pertumbuhan berarti peluang yang terbuka.
Di sudut lain, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan harian kini merasakan sedikit kelonggaran. Tingkat kemiskinan turun dari 10,71 Persen menjadi 10,18 Persen. Angka itu memang belum ideal, tetapi ia adalah langkah kecil yang berarti.
Ketimpangan pun membaik. Gini rasio turun dari 0,316 menjadi 0,308. Bagi sebagian orang, ini sekadar statistik. Namun bagi masyarakat di pelosok yang mulai merasakan akses yang lebih setara—baik pendidikan, layanan kesehatan, maupun infrastruktur—ini adalah sinyal bahwa pembangunan tak lagi hanya bertumpu di pusat kota.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Barat naik dari 70,46 menjadi 71,16. Kenaikan itu berbicara tentang anak-anak yang tetap bersekolah, tentang layanan kesehatan yang semakin terjangkau, dan tentang umur harapan hidup yang membaik. Tentang masa depan yang perlahan dirawat.
Di jalan-jalan provinsi, perubahan bisa dilihat secara kasat mata. Persentase jalan mantap meningkat dari 46,89 Persen menjadi 49,77 Persen. Jalan yang lebih baik bukan sekadar aspal yang mulus. Ia adalah waktu tempuh yang lebih singkat, biaya logistik yang lebih rendah, dan akses yang lebih mudah bagi warga desa menuju pusat layanan.
Di balik itu semua, birokrasi juga berbenah. Indeks Reformasi Birokrasi mencapai 73,76 dengan kategori BB. Sebuah capaian yang menunjukkan upaya memperbaiki tata kelola, mempercepat pelayanan, dan membangun kepercayaan publik.
Namun satu tahun ini tak hanya tentang kinerja internal pemerintah. Ada sinergi yang dibangun dengan program strategis nasional. Sebanyak 648 Koperasi Merah Putih dibentuk di seluruh desa dan kelurahan. Di dalamnya, ada harapan tentang kemandirian ekonomi desa.
(Infografis/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)
Sekolah Rakyat Terintegrasi hadir di tiga lokasi dengan 295 siswa. Di ruang-ruang belajar sederhana itu, masa depan sedang ditulis ulang—oleh anak-anak yang mungkin sebelumnya nyaris tertinggal.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjangkau 340.944 penerima manfaat. Bagi sebagian keluarga, itu bukan sekadar bantuan, melainkan kepastian bahwa anak-anak mereka bisa belajar tanpa dihantui rasa lapar.
Dukungan terhadap pembangunan infrastruktur strategis—jalan, jembatan, irigasi, hingga bendungan—terus dikebut. Air yang mengalir ke sawah, jembatan yang menghubungkan desa, semuanya adalah bagian dari fondasi jangka panjang.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menyebut tahun pertama ini sebagai tahap memperkokoh dasar.
“Akselerasi Panca Daya dan sinergi nasional menghadirkan hasil nyata. Fondasi pembangunan Sulawesi Barat semakin kokoh. Terus bergerak, bekerja dan melayani. Mewujudkan Sulawesi Barat maju dan sejahtera,” beber Suhardi Duka.
Satu tahun memang belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan. Sulawesi Barat masih punya pekerjaan rumah. Kemiskinan yang perlu terus ditekan, kualitas pendidikan yang harus ditingkatkan, serta pemerataan pembangunan yang mesti diperjuangkan.
Namun seperti matahari yang terbit setiap pagi di pesisir Mandar, ada keyakinan bahwa perubahan tak selalu datang dengan gemuruh. Ia hadir lewat kerja yang konsisten, lewat langkah-langkah kecil yang tak berhenti.
Di tanah ini, satu tahun bukan akhir dari perjalanan. Ia adalah awal dari bab berikutnya, tentang harapan yang terus dirawat, tentang Sulawesi Barat yang ingin berdiri lebih tegak, lebih kuat, dan lebih sejahtera. (*/Naf)









