Pemerintahan

Memaknai 'Millete Diatonganan'

Wacana.info
(Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)

MAMUJU--Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat memperingati hari kesadaran masional dan hari desa nasional dengan menggelar upacara di halaman kantor gubernur Sulawesi Barat, Senin (19/01). Di hadapan para ASN yang sempat hadir, Gubernur Suhardi Duka meminta agar prinsip melayani masyarakat dengan kesadaran penuh mesti tetap dijunjung tinggi.

Gubernur Suhardi Duka juga menyinggung faslafah daerah, 'millete diattongangan' (berjalan di atas kebenaran) yang disebutnya sebagai kompas moral. Nilai yang harus dijaga oleh seluruh penyelenggara pemerintahan.

"Mari kita menanamkan slogan di dalam lambang Sulawesi Barat itu, 'millete diatongangan'. Sepanjang kita berada di situ, yakin daerah ini akan bisa maju," terang Suhardi Duka.

Menurut Suhardi Duka, ketimpangan dan ketidakadilan yang muncul di tengah masyarakat merupakan cermin tanggung jawab dari para pelaksana pemerintahan. Dari tingkat provinsi hingga desa. Kata dia, ketika pemangku kebijakan di semua level bekerja dengan benar, ketimpangan sosial tidak akan tumbuh.

"Kalau semuanya kita sadar, semuanya kita memberikan hak yang seharusnya diterima oleh masyarakat kita, saya yakin kita akan tidak terlalu jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain," jelasnya.

Seluruh ASN di lingkup pemerintah Provinsi Sulawesi Barat diminta untuk memperbaiki pola pikitr dalam melayani dan memberikan hak rakyat agar pelayanan benar-benar dirasakan masyarakat. Suhardi Duka bersama Wakil Gubernur, Salim S Mengga berkomitmen untuk melanjutkan hal-hal yang sudah baik dan memperbaiki yang belum berjalan. 

"Kita harus punya platform yang sama, punya cara pandang yang sama, punya kesadaran yang sama untuk merubah cara-cara kerja masa lalu yang tidak berpikir akan manfaat setiap pekerjaan kita," pinta dia.

Khusus ke PPPK, utamanya yang paruh waktu, Suhardi Duka memahami bahwa apa yang diterima saat ini belum sesuai harapan. Meski begitu, ia berharap adanya rasa syukur telah membawa manfaat dalam perjalanan mereka. Dari PPPK hingga menjadi ASN atau bahkan pejabat.

"Kalau jadi pejabat, Bahruddin Lopa pernah bilang 'dza muala muaq tania anummu'. Jangan ambil kalau bukan kau punya. Ambil yang menjadi hakmu," tegas Suhardi Duka. (*/Naf)