OPINI

Isra’ dan Mi’raj; Perjalanan Cahaya Menembus Batas Semesta

Wacana.info
(Foto/Istimewa)

Oleh: Anwar Sadat (Guru Besar Sosiologi Hukum IsIam STAIN Majene, Sekretaris Umum ICMI Sulbar)

Ada momen ketika waktu berhenti berbicara, dan ruang seakan menyingkap tirainya. Di malam suci itu, Rasulullah SAW melakukan perjalanan terdalam dalam sejarah manusia. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus lapisan-lapisan langit menuju Sidratul Muntaha. 

Sebuah perjalanan yang tidak hanya lintas ruang, tetapi juga lintas makna. Menyingkap hubungan antara sains, spiritualitas, dan hakikat manusia.

Jika kita memandang langit dengan teleskop, kita melihat hamparan galaksi, energi, dan partikel yang saling berkejaran dalam kecepatan mendekati cahaya. Namun, bagi Rasulullah SAW, langit bukan sekadar ruang kosong, melainkan laboratorium ketuhanan. 

Setiap bintang menjadi saksi atas keagungan Sang Pencipta. Setiap orbit menjadi tanda keteraturan yang sempurna. Dalam sains modern, cahaya memiliki keistimewaan. Ia menembus ruang tanpa membutuhkan medium, menjelajahi jagat raya dengan kecepatan 300.000 Km per detik. 

Betapa menarik bahwa perjalanan Mi’raj kerap dianalogikan sebagai perjalanan 'melampaui kecepatan cahaya. Dimensi ruang dan waktu seakan runtuh oleh izin Allah. 

Relativitas Einstein berbicara tentang waktu yang melambat saat kecepatan mendekati cahaya; Isra’ dan Mi’raj seolah menjadi manifestasi spiritual dari teori itu. Sebuah 'penerbangan ilahiah' yang menembus hukum fisika alam raya. 

Jika tubuh adalah bumi, maka hati adalah langit. Isra’ mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dari pergerakan horizontal perjalanan sosial, kemanusiaan, dan moral dari Masjidil Haram (pusat tauhid) ke Masjidil Aqsha (pusat peradaban manusia). 

Setelah itu barulah manusia layak naik dalam rupa vertikal; Mi’raj. Menuju kesadaran spiritual tertinggi. Dalam bahasa sains, ini seperti proses kalibrasi energi. 

Seseorang tidak bisa mencapai frekuensi cahaya tanpa terlebih dahulu membersihkan medan magnetnya dari gangguan. Begitu pula manusia, tidak bisa meraih 'cahaya Ilahi' tanpa menata ulang moral dan amalnya. 

Hati yang bersih adalah antena penangkap sinyal wahyu.

Ilustrasi. (Foto/Net)

Pada puncak Mi’raj, Rasulullah SAW sampai kepada Sidratul Muntaha, tempat di mana malaikat Jibril berhenti. 

Sains menyebutnya 'horizon', batas dimana hukum fisika tak lagi berlaku seperti biasa. Itulah batas pengetahuan makhluk, the event horizon of faith

Di balik itu, tak ada teleskop, rasio, atau rumus matematika yang mampu menembusnya. Hanya iman yang bisa melangkah ke wilayah itu. Di sana, sang Nabi menerima perintah salat, sebuah koneksi langsung antara langit dan bumi. Antara energi spiritual dan aksi nyata. 

Salat seolah menjadi pengulang miniatur Isra’ Mi’raj setiap hari, membawa manusia dari dunia material menuju dimensi ketenangan dan cahaya.

Isra’ dan Mi’raj tidak sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah metafora hidup tentang perjalanan setiap insan. Kita semua mempunyai .Masjidil Haram' titik awal iman kita, dan 'Sidratul Muntaha' yang tujuan tertinggi pengabdian kita. 

Antara keduanya terbentang ruang belajar, bekerja, berjuang, dan berdoa. Dalam diri manusia, energi ilahi telah ditanamkan 'nur' yang mencari sumbernya, jiwa manusia pun selalu rindu pulang kepada Tuhannya. 

Isra’ dan Mi’raj mengingatkan bahwa iman sejati bukan sekadar berjalan di bumi, tetapi juga terbang dalam makna.

Wallahu a'lam...