Pemerintahan

Suhardi Duka ke Penyuluh Pertanian; Layani Masyarakat, Tingkatkan Kemampuan !

Wacana.info
(Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)

MAMUJU–Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI menginisiasi Rakor pendayagunaan penyuluh pertanian Provinsi Sulawesi Barat di Aula Poltekkes Kemenkes Mamuju, Senin (13/07). Hadi pada agenda tersebut, Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka memaparkan sejumlah poin penting terkait sektor pertanian di provinsi ke-33 ini.

Di hadapan ratusan penyuluh pertanian yang sempat hadir, Gubernur Suhardi Duka optimis perubahan status penyuluh pertanian menjadi pegawai pemerintah pusat bakal mampu meningkatkan kesejahteraan para penyuluh.

"Karena kemampuan daerah semakin tertekan, tunjangan fungsional maupun operasional penyuluh sulit mengalami peningkatan. Sekarang penyuluh menjadi pegawai pemerintah pusat. Gajinya di pusat, tunjangannya di pusat, operasionalnya juga di pusat. Dengan demikian sekarang penyuluh lebih sejahtera," beber Suhardi Duka.

Sektor pertanian merupakan fondasi utama kekuatan bangsa. Suhardi Duka menambahkan, meski terdapat pandangan bahwa kebutuhan pangan dapat dipenuhi melalui impor dengan mengandalkan kekuatan industri, ia menilai ketahanan pangan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas negara.

"Suatu negara yang kekuatan pertaniannya lemah sangat rawan dari sisi ketahanan bangsanya. Karena itu Presiden Prabowo menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional," sambungnya.

Indonesia kini tak lagi mengimpor beras. Suhardi Duka mengungkapkan, produksi nasional yang kini ada ki kisaran 32–34 Juta Ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di angka 30–32 Juta Ton. Meski begitu, kondisi tersebut harus dijaga dengan meningkatkan produktivitas agar tidak terganggu oleh ancaman kekeringan maupun bencana.

Polewali Mandar dan Mamuju, jadi dua kabupaten penopang utama produksi beras daerah. Suhardi Duka menilai, Indeks Pertanaman (IP) lahan sawah Sulawesi Barat saat ini baru 1,4. Dengan kata lain, dari 41 Ribu Hektare lahan sawah yang ada, rata-rata petani baru panen sekali lebih sedikit dalam setahun.

Bersama Para Penyuluh Pertanian se-Sulbar. (Foto/KominfoSS) 

"Kalau kita naikkan jadi 2 (IP), sama dengan kita cetak sawah sekitar 15 Ribu Hektare tanpa harus membuka lahan baru," beber dia.

Selain peningkatan IP, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga mendukung implementasi program Pertanian Modern Model Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang mulai diterapkan di Kecamatan Wonomulyo sebagai percontohan.

Target produktivitas program ini diharapkan naik dari 7 Ton per Hektare menjadi 10–12 Ton. Gubernur Suhardi Duka menegaskan, target itu hanya bisa tercapai kalau pasokan pupuk ikut ditingkatkan sesuai kepadatan bibit yang lebih tinggi. 

"Kalau makanannya sama, maka yang terjadi buahnya kempes. Kalau buahnya kempes, rendemennya menjadi 40. Bulog tidak mau beli kalau rendemennya 40, Bulog mau beli kalau rendemennya di atas 55, 56," masih oleh Suhardi Duka.

Selain sektor padi, Gubernur Suhardi Duka berharap, program bantuan bibit kakao dari Kementerian Pertanian dapat direalisasikan sesuai kebutuhan daerah. Sulawesi Barat, kata dia, telah mengusulkan sekitar 17 Juta bibit kakao melalui CPCL dan berharap sebagian besar dapat dipenuhi.

"Kalau 10 hingga 17 Juta terpenuhi, saya kira kakao di Sulawesi Barat 5 tahun ke depan akan semakin membaik dan berkontribusi kembali terhadap kakao dunia," Suhardi Duka dengan optimis.

Rakor hari itu diikuti ratusan penyuluh pertanian dari enam kabupaten di Sulawesi Barat. Turut hadir Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Sulawesi Barat, Ajbar dan Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti yang mengikuti kegiatan secara virtual.

Menutup arahannya, Gubernur Suhardi Duka mengingatkan kepada para penyuluh agar terus meningkatkan kompetensi di tengah perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, penyuluh harus selalu menjadi sumber pengetahuan bagi petani.

"Walaupun sekarang menjadi pegawai pemerintah pusat, ingat bahwa saudara bekerja di daerah dan melayani masyarakat. Banggalah menjadi penyuluh pertanian karena anda adalah pahlawan ketahanan pangan bangsa. Terus tingkatkan kemampuan, jangan sampai ilmu petani lebih maju daripada ilmu penyuluh. Sekarang teknologi, AI, YouTube, dan berbagai sumber belajar berkembang sangat cepat," Suhardi Duka menutup. (*/Naf)