Tentang Moral Authority, serta Peran Vital Tokoh Agama
MAMUJU--Moral authority atau otoritas moral bagi tokoh agama adalah bagian yang sangat penting dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat. Bagi koordinator rilayah Jaringan Gusdurian Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampapua), Suaib Amin Prawono menjelaskan, otoritas moral tidak lahir dari kekuasaan formal atau jabatan.
Ia menyebut, otoritas moral tumbuh dari keteladanan, integritas, serta kepercayaan yang dibangun di tengah masyarakat.
“Keteladanan adalah bahasa universal yang lebih kuat daripada sekadar aturan,” sebut Suaib di forum peningkatan kapasitas SDM tokoh agama yang diinisiasi Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setda Provinsi Sulawesi Barat di Mamuju, Kamis (16/04).
Di hadapan puluhan tokoh agama yang sempat hadir, Suaib menjelaskan, para tokoh agama memiliki peran strategis. Bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai aktor sosial yang berfungsi meredam konflik, menjaga harmoni, serta memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Tantangan tokoh agama saat ini semakin kompleks. Utamanya di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap diwarnai ujaran kebencian, hoaks, serta krisis keteladanan.
Di sisi lain, kata dia, kecenderungan generasi muda yang lebih tertarik pada isu-isu kemanusiaan dibandingkan kajian teologis juga menjadi dinamika tersendiri yang perlu direspons secara bijak.
Suaib pun menyoroti adanya kesenjangan antara simbol persatuan di tingkat elit dengan realitas di akar rumput. Ia menilai, persatuan yang ditampilkan di ruang publik tidak serta-merta berbanding lurus dengan kondisi sosial masyarakat di lapangan.
“Sering kali tokoh agama tampak bersatu, tetapi di tingkat bawah justru masih terjadi konflik,” ucapnya.
Ia mendorong agar para tokoh agama lebih mengedepankan kesadaran diri, memperluas lingkaran pengaruh, serta memahami persoalan umat secara lebih mendalam berbasis fakta, bukan asumsi. Pendekatan tersebut dinilai penting agar peran tokoh agama tidak berhenti pada simbolik, melainkan mampu menyentuh akar persoalan sosial.
Keteladanan yang Utama
Di forum yang sama, antropolog dari Stanifa Institut, Bustan Basir Maras menambahkan, pergeseran pola pikir dan tata laku generasi tidak boleh menggerus nilai-nilai yang selama ini menjadi pijakan utama para pemuka agama. Menurutnya, di tengah perubahan sosial yang cepat, keteladanan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan umat.
Tanpa keteladanan, pesan-pesan keagamaan akan kehilangan makna dan daya pengaruhnya.
“Di hadapan umat, keteladanan bukan sekadar pelengkap, tetapi pilar utama. Ketika itu hilang, umat akan kehilangan panutan,” beber Bustan Basir Maras.
Bustan menambahkan, perubahan zaman memang menuntut adaptasi. Dengan catata, adaptasi tersebut tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar yang menjadi ruh kepemimpinan keagamaan.
Menurutnya, keseimbangan antara relevansi dan konsistensi nilai menjadi kunci agar tokoh agama tetap memiliki otoritas moral di tengah masyarakat lintas generasi.
"Tokoh agama meski membangun ketahanan sosial yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian, dan keteladanan. Itu juga sekaligus menjawab tantangan perubahan sosial yang terus berkembang," demikian Bustan Basir Maras. (*/Naf)









