OPINI

Antara Istidraj dan Jalan Pulang

Wacana.info
(Foto/Istimewa)

Oleh: Dr. Nur Salim Ismail, M.Si (Kabid Keagamaan dan Pembinaan Umat MW KAHMI Sulbar)


Di zaman ketika keberhasilan sering diukur dari kekayaan, pengaruh, dan popularitas, manusia mudah percaya bahwa hidupnya berjalan baik-baik saja. Karier meningkat, reputasi membesar, dan pujian datang dari berbagai arah. 

Namun dalam tradisi spiritual Islam, terdapat satu peringatan halus; tidak semua keberhasilan adalah tanda kedekatan dengan Tuhan. Sebagian justru bisa menjadi istidraj. Yaitu kenikmatan yang perlahan menjauhkan manusia dari kesadaran ilahiah.

Dalam Kitab al-Fawāid al-Mukhtārah (hal. 431–432), dikemukakan kategorisasi manusia dalam status mukallaf, yakni manusia yang memikul tanggung jawab moral dan spiritual di hadapan Tuhan. Pembagian ini pada pandangan pertama tampak teologis. 

Namun jika dibaca secara reflektif, ia sebenarnya menghadirkan peta batin manusia; bagaimana hati bergerak di antara kesadaran, kelalaian, harapan, dan kemungkinan untuk kembali.

Di tengah kehidupan modern yang sering memuja pencapaian lahiriah, refleksi klasik ini terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di mata dunia. Tetapi oleh kemana arah batinnya sedang berjalan.

Dalam tradisi tersebut disebutkan bahwa manusia setidaknya dapat berada dalam empat keadaan spiritual.

Pertama, mereka yang hidup dalam keselarasan dengan tujuan penciptaan; mengabdi kepada Tuhan dan memperoleh keselamatan. Dalam tradisi keagamaan mereka digambarkan sebagai para nabi, wali, ulama, dan orang beriman yang saleh.

Jika dilihat dari sudut pandang psikologi modern, keadaan ini dapat disebut sebagai inner alignment, yaitu kesatuan antara nilai yang diyakini dengan tindakan yang dijalani. Pikiran, perasaan, dan perilaku bergerak dalam satu arah.

Pada masyarakat yang sering diliputi kecemasan sosial, kompetisi tanpa henti, dan kelelahan mental, orang-orang seperti ini menghadirkan sesuatu yang langka, yaitu ketenangan batin. Mereka tidak hidup untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Mereka hidup untuk menjaga kesetiaan kepada nilai yang diyakini.

Karena itu ibadah bagi mereka bukan beban, melainkan kebutuhan jiwa. Seperti seseorang yang merindukan udara segar, setelah lama berada dalam ruang yang pengap.

Kedua, ada manusia yang sepanjang hidupnya tampak jauh dari nilai-nilai spiritual, tetapi pada akhirnya menemukan jalan pulang. Dalam kategorisasi klasik, mereka digambarkan sebagai orang yang sempat hidup dalam jurang kekufuran, namun di akhir hayatnya bertaubat dan memperoleh keselamatan.

Fenomena ini tidak asing dalam kehidupan modern. Banyak orang menjalani hidup dengan orientasi yang sepenuhnya material; mengejar karier, kekayaan, atau pengakuan sosial. Akan tetapi di balik kesibukan itu sering tersimpan kekosongan batin.

Psikologi eksistensial menyebut keadaan ini sebagai existential vacuum atau kekosongan makna hidup. Manusia tampak berhasil secara sosial, tetapi tidak menemukan kedamaian dalam dirinya.

Kesadaran baru sering muncul ketika seseorang mengalami peristiwa yang mengguncang; kegagalan, kehilangan, penyakit, atau kesendirian yang panjang. Pada saat itulah manusia mulai mengajukan pertanyaan yang paling mendasar tentang hidupnya; untuk apa semua ini dilakukan ?.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering menjadi awal dari transformasi batin. Ambisi yang dulu terasa penting tiba-tiba tampak kehilangan maknanya. Dari sanalah lahir taubat. Sebuah perjalanan pulang menuju makna hidup yang lebih dalam.

Ketiga, ada manusia yang perlahan mengalami pembekuan batin. Mereka terlalu lama hidup dalam kesombongan, penolakan, atau fanatisme diri hingga kehilangan kemampuan untuk menerima kebenaran.

Dalam masyarakat modern, keadaan ini sering muncul dalam bentuk narsisme sosial. Keberhasilan pribadi menjadi satu-satunya ukuran nilai manusia. Kekuasaan, kekayaan, dan reputasi menjadi pusat orientasi hidup.

Menariknya, orang-orang seperti ini sering tampak kuat di permukaan. Mereka bisa sangat cerdas, berpendidikan tinggi, bahkan memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Namun di balik semua itu, jiwanya mengalami kegersangan spiritual. 

Di sini, ego telah berubah menjadi tembok yang membuatnya tidak lagi mampu merendahkan diri di hadapan kebenaran.

Yang paling menggetarkan adalah kemungkinan keempat; manusia yang sebenarnya hidup dalam lingkungan religius dan menjalankan ibadah, tetapi perlahan terjebak dalam istidraj. Yaitu keadaan ketika seseorang terus memperoleh kenikmatan dunia, padahal pada saat yang sama ia sedang menjauh dari Tuhan.

Dalam kehidupan modern, kondisi ini sangat mudah terjadi. Dunia digital, budaya popularitas, dan pencitraan sosial menciptakan ilusi keberhasilan yang nyaris tanpa batas. Karier meningkat, pengaruh meluas, pujian datang dari berbagai arah. Semua itu memberi kesan bahwa hidup berjalan baik-baik saja.

Padahal bisa jadi pada saat yang sama jiwa sedang kehilangan kepekaan spiritual. Ibadah masih dilakukan, tetapi tanpa kehadiran hati. Nilai agama masih dibicarakan, tetapi tidak lagi menjadi kompas kehidupan.

Ironisnya, orang yang berada dalam kondisi ini jarang menyadari bahwa dirinya sedang jatuh. Justru karena dunia terus memberinya pengakuan.

Empat kategori manusia yang disebut dalam khazanah klasik itu, pada akhirnya bukan sekadar klasifikasi teologis. Ia adalah cermin perjalanan manusia sepanjang zaman. Setiap orang dapat berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain. Ada yang memulai hidup dengan iman lalu perlahan terperangkap dalam ambisi dunia. Ada pula yang lama tersesat, tetapi akhirnya menemukan jalan pulang.

Refleksi ini terasa semakin relevan ketika Ramadan datang setiap tahun. Bulan suci ini seharusnya tidak hanya menjadi peristiwa ritual yang berulang, tetapi ruang perenungan yang jujur tentang keadaan jiwa manusia.

Puasa bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga, melainkan kesempatan untuk menilai kembali arah perjalanan batin kita: apakah ia semakin peka terhadap panggilan ilahi atau justru semakin tenggelam dalam rutinitas yang kehilangan makna.

Dari titik inilah, kategorisasi tentang manusia dalam tradisi keilmuan Islam itu menjadi cermin yang tajam. Ia mengingatkan bahwa ukuran kehidupan bukan hanya apa yang tampak di mata manusia. tetapi ke mana arah batin kita sedang bergerak.

Ramadan, pada akhirnya, bukan sekadar kalender ibadah tahunan. Ia adalah undangan untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sudah sampai di mana perjalanan ruhani kita tahun ini ?.

Apakah Ramadan benar-benar membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, ataukah ia hanya lewat sebagai rutinitas religius yang tidak meninggalkan jejak apa pun dalam jiwa kita.

Sebab dalam kehidupan manusia, yang paling menentukan bukanlah seberapa jauh kita berjalan di hadapan dunia. Melainkan apakah kita masih menemukan jalan pulang menuju Tuhan. (*/Naf)