Hilal Ramadan; Keluar dari Ego 'Aku Mau' Menuju Sikap 'Allah Menghendaki'
Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag (Guru Besar Ilmu Sosiologi Hukum Islam STAIN Majene)
Ketika era di mana manusia semakin percaya bahwa tombol di gawai dan rumus di layar mampu mengendalikan hampir segala hal, sunnah rukyatul hilal datang sebagai koreksi yang halus namun tegas bahwa tidak semua awal bisa kita tentukan sendiri. Tidak setiap 'mulai' sah hanya karena kita merasa siap.
Di ufuk barat, saat senja menipis dan cahaya hari merunduk, ada satu detik sunyi yang tidak bisa direkayasa. Detik 'penampakan' sepotong cahaya tipis di langit memutuskan apakah Ramadan sudah datang atau masih harus ditunggu.
Di situlah keangkuhan 'aku mau' diuji oleh kalimat sederhana 'Allah menghendaki'. Hilal menjadi cermin, apakah kita masih hamba yang menyesuaikan jadwal dengan kehendak Tuhan, atau sudah menjadi 'tuhan kecil' yang hendak menawar setiap takdir dengan hitungan dan perdebatan.
Sunnah rukyatul hilal di awal Ramadan sejatinya bukan hanya tentang melihat bulan sabit. Tetapi tentang melihat kembali seberapa 'tunduk' ilmu kita kepada wahyu, seberapa rendah hati kita di hadapan keputusan Allah. Seberapa siap kita menjadikan satu garis tipis di langit sebagai garis tegas perubahan hidup di bumi.
Ramadan tidak dimulai ketika kalender kita berkata 'sudah masuk !'. Tetapi ketika kita tunduk pada sabda Rasul "berpuasalah karena melihat hilal". Di situlah letak kemuliaan ketaatan, bukan kecanggihan hitungan
Rukyatul hilal adalah pelajaran dari langit bahwa otak boleh sepintar bintang. Tetapi hati tetap harus serendah bulan sabit yang tipis. Nyaris tidak terlihat, namun dengannya Ramadan dimulai dan saat umat menatap hilal di langit yang satu, mereka sedang diikat oleh tujuan yang sama. Bukan sekadar mencari bulan, tetapi mencari ridha Tuhan yang satu.
Setiap tahun menjelang Ramadan, jutaan pasang mata di seluruh penjuru dunia menengadah ke langit barat. Mereka tidak sedang mencari pesawat, tidak pula mengawasi drone, tidak juga memandangi kembang api. Mereka mencari sesuatu yang sangat kecil, sangat halus, bahkan sering kali nyaris tak terlihat.
Mereka mencari sepotong cahaya tipis bernama hilal. Di situlah dimulai sebuah pelajaran besar dalam agama ini bahwa awal ibadah tidak ditentukan oleh kehendak manusia, tetapi oleh tanda yang Allah letakkan di langit.
Rasulullah SAW meneladankan, “Berpuasalah karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihatnya.” Kalimat ini tampak sederhana, namun menyimpan makna yang amat dalam. Seolah-olah beliau berkata: 'Jangan kalian mulai ibadah besar ini hanya karena kesepakatan di bumi, tetapi karena isyarat yang datang dari langit'.
Kita semua diingatkan bahwa Ramadan tidak dimulai ketika kalender dan aplikasi berkata 'Start !'. Melainkan ketika hati kita tunduk pada sunnah Nabi dan keputusan Allah, apa adanya.
Harus diakui zaman sekarang, teknologi hisab begitu maju. Posisi bulan bisa dihitung sampai detik dan derajat, diproyeksikan bertahun-tahun ke depan bahkan sampai ratusan tahun. Namun Islam mengajarkan hal yang indah bahwa secanggih apa pun perhitungan, ia tetap harus duduk di kursi 'khidmah' (pelayan) bagi wahyu. Bukan di singgasana yang menggantikan wahyu.
Ilmu falak dalam Islam itu mulia. Tetapi kemuliaan yang tertinggi tetap milik ketaatan. Di sinilah hikmah rukyatul hilal yang mengajarkan bahwa ukuran mulia tidak selalu sejauh angka dan rumus, tetapi sejauh kesediaan untuk tunduk.
Kita bisa hafal derajat elongasi, memahami kriteria imkanur rukyah. Tetapi tetap harus merendahkan diri ketika langit berkata; 'Hari ini tidak terlihat hilal'. Fenomena ini menjadi cermin, apakah kita siap menerima kenyataan yang tidak selalu cocok dengan keinginan dan perhitungan kita atau tidak.
Rukyatul hilal adalah pelajaran lembut dari langit bahwa otak boleh sepintar bintang, namun hati tetap harus serendah bulan sabit yang tipis. Ilmu bisa menembus galaksi, tetapi tanpa kerendahan hati, ilmu menjadi kering, dingin, dan menjauh dari sumbernya (Allah SWT). Sunnah ini menempatkan ilmu dan cinta pada posisi yang benar, berjalan bersama dalam bimbingan wahyu.
Hilal itu kecil, tenang, tidak berisik. Ia tidak memaksa manusia untuk menatapnya. Justru manusialah yang diperintah untuk mencarinya. Di sini terdapat pesan spiritual yang kuat, semakin tinggi derajat ibadah, semakin 'halus' cara Allah memanggil kita. Tidak dengan guntur dan petir, tetapi dengan sepotong cahaya tipis di ufuk senja.
Ketika kita keluar untuk melihat hilal, sebenarnya kita sedang dilatih untuk menundukkan ego. Di hadapan ufuk yang luas, gunung yang tinggi, laut yang tak bertepi, kita sadar bahwa diri kita ini kecil. Di antara 'kekecilan' itu Allah menggantungkan awal bulan suci pada sesuatu yang bahkan lebih kecil dari kita yakni garis cahaya tipis di langit.
Seolah Allah ingin berpesan; 'Kalau untuk memulai Ramadan saja harus kau cari tanda dari-Ku di langit, bagaimana mungkin kau merasa bisa mengatur hidupmu sendiri di bumi ?.
Rukyatul hilal mengajarkan bahwa tidak semua yang benar harus selalu jelas dan besar. Kebenaran terkadang hadir seperti hilal (senyap, tipis) dan baru bisa dilihat oleh orang yang bersungguh-sungguh mencarinya. Hanya hati yang jernih dan mata yang tekun bisa menangkapnya.
Sunnah melihat hilal juga membawa pesan kebersamaan spritual. Di banyak tempat, orang-orang berkumpul di pantai, di puncak bukit, di gedung tinggi, menatap langit yang sama, menunggu saat yang sama. Tiba-tiba perbedaan status sosial, ekonomi, dan latar belakang jadi memudar. Terlihat kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, dosen dan nelayan semuanya menengadah ke satu arah.
Saat umat menatap hilal di langit yang satu, sebenarnya mereka sedang diikat oleh tujuan yang sama bukan sekadar mencari bulan, tetapi mencari ridha Tuhan yang satu. Hilal menjadi semacam 'tanda tangan langit' bahwa Ramadan ini berlaku untuk semua. Bukan hanya untuk satu kelompok. Ia menyatukan ritme ibadah manusia dengan ritme alam semesta
Dengan rukyatul hilal, langit tidak lagi sekadar pemandangan. Tetapi menjadi kalender hidup yang mengatur ibadah. Kita tidak hanya diatur oleh jadwal kerja dan kalender akademik, tetapi juga oleh jadwal langit yang ditetapkan Allah SWT. Di situlah seorang mukmin menemukan kehormatan, hidup mengikuti tuntunan wahyu. Bukan sekadar perputaran dunia.
Satu lagi pesan dalam munculnya hilal Ramadan yakni umur kita. Setiap kali hilal tampak, itu artinya satu putaran bulan telah bertambah dalam perjalanan hidup kita. Kalau kini hilal Ramadan kembali datang, itu berarti satu Ramadan lagi berkurang dari jatah hidup kita.
Pertanyaannya, apa yang berubah dari diri kita sejak hilal yang lalu?. Langit senja hanya memberi waktu sebentar sebelum gelap turun dan hilal tak lagi bisa dilihat. Begitu pula kesempatan taubat, kesempatan mendekat kepada Allah, kesempatan memperbaiki diri. Ia datang dan pergi, sering tanpa kita sadari.
Orang yang siap menyambut hilal, tidak akan kaget oleh datangnya Ramadan. Sebagaimana orang yang siap menyambut kematian, tidak akan panik ketika dipanggil pulang oleh Allah. Merenungi hilal adalah merenungi hidup yang sangat singkat, terbatas, dan penuh peluang yang tidak selalu datang dua kali.
Dari semua hikmah tadi, kita bisa melihat satu garis besar bahwa rukyatul hilal bukan sekadar 'prosedur teknis' memulai puasa. Tetapi latihan ruhani untuk mengikat diri pada jadwal langit, jadwal Allah. Kita diajak keluar dari ego 'aku mau' menuju sikap 'Allah menghendaki'.
Kita dilatih keluar dari kesibukan bumi menuju keheningan ufuk. Dari layar gawai menuju cahaya halus di tepi langit. Di sinilah makna kalimat pamungkas itu menemukan bentuk bahwa sunnah rukyatul hilal sejatinya bukan hanya tentang melihat bulan sabit di ufuk barat. Tetapi tentang melihat kembali seberapa tunduk ilmu kita kepada wahyu, seberapa rendah hati kita di hadapan keputusan Allah. Dan seberapa siap kita menjadikan satu garis tipis di langit sebagai garis tegas perubahan hidup di bumi.
Jika hilal yang tipis saja mampu mengubah status waktu dari 'biasa' menjadi 'suci', maka sudah seharusnya Ramadan ini mengubah status diri kita dari 'biasa' menjadi lebih taat, lebih lembut, dan lebih rendah hati. Hilal hanya muncul sekejap. Tapi bekasnya harus menetap sepanjang hidup di hati seorang mukmin.
Wallahu A’lam









