Kedekatan Pemimpin dengan Ulama, Ciri Masyarakat yang Kuat dan Terarah
MATENG—Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka menguraikan empat faktor utama yang menentukan arah keberlanjutan serta kemajuan suatu daerah maupun negara. Hal itu disampaikan Suhardi Duka dalam agenda safari Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Nurul Hidayah Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Senin (23/02) malam.
Di hadapan sejumlah jamaah salat Isya dan tarawih, Gubernur Suhardi Duka mengatakan, faktor utama arah keberlanjutan dan kemajuan stuatu daera adalah kasih sayang dari seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat akan menumbuhkan optimisme dan kepercayaan publik.
Menurutnya, perhatian tersebut diwujudkan melalui kebijakan nyata, seperti pembangunan sekolah, pemberian beasiswa bagi masyarakat kurang mampu, serta perluasan akses pendidikan agar seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.
“Bukan hanya masyarakat mampu yang bisa sekolah, tetapi masyarakat kurang mampu juga harus memperoleh pendidikan yang layak,” ujarnya.
Selain pendidikan, pemerintah juga memastikan layanan kesehatan dapat diakses seluruh masyarakat melalui penyediaan rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan, hingga ketersediaan obat-obatan.
Faktor kedua sambung dia, adalah pentingnya peran ulama dalam kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa hubungan harmonis antara ulama dan pemerintah menjadi kunci menjaga moral sosial dan mencegah berbagai persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.
“Kedekatan pemimpin dengan ulama menjadi salah satu ciri masyarakat yang kuat dan terarah,” tegas Bupati Mamuju dua periode itu.
Pilar ketiga adalah kepedulian sosial dari kalangan ekonomi mampu. Suhardi Duka menerjemahkannya lewat maksimalisasi penyaluran zakat, sedekah, dan kepatuhan membayar pajak. Kata dia, poin-poin tersebut memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan sosial antara kelompok masyarakat.
Kesejahteraan, sambungnya, tak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kontribusi masyarakat mampu dalam membantu kelompok rentan.
“Keseimbangan antara orang kaya dan masyarakat kurang mampu akan menciptakan harmoni sosial,” bebernya.
Tegaknya keadilan dan supremasi hukum tanpa pandang bulu, jadi faktor keempat yang disampaikan Suhardi Duka. Menurutnya, penegakan hukum yang adil, jadi fondasi penting dalam menciptakan kepastian dan rasa aman di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Suhardi Duka juga menjelaskan kondisi fiskal daerah yang berdampak pada penyesuaian anggaran pembangunan. Termasuk sejumlah proyek infrastruktur jalan di Mamuju Tengah.
Meski begitu, pemerintah tetap berupaya melanjutkan pembangunan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah.
“Yang penting kita tetap berusaha dan menempatkan anggaran secara tepat agar manfaatnya tetap dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Suhardi Duka juga menyuarakan optimismenya atas prospek komuditas kelapa sawit yang menjadi sektor unggulan di Mamuju Tengah. Menurutnya, bahwa harga sawit diperkirakan tetap stabil dalam kisaran Rp 2.500 hingga Rp3.500 per Kilogram dalam 10 tahun tahun ke depan.
Hal yang tak kalah pentingnya, sambung dia, adalah tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara produsen dan konsumen agar stabilitas harga tetap terjaga.
Safari Ramadan tersebut diakhiri dengan doa bersama serta ajakan kepada masyarakat untuk terus memperkuat kebersamaan, optimisme, dan semangat pembangunan demi kemajuan Sulawesi Barat. (*/Naf)









