Suhardi Duka dalam Dialog Imajiner bersama Mendiang Salim S Mengga
MAMUJU--"Tidak ada celah, Pak Wagub pergi. Mungkin dia tidak ingin mengotori dirinya. Beliau sudah dalam keadaan suci. Beliau sudah lihat surga, sehingga dia pergi,". Gubernur Suhardi Duka dalam sepenggal sambutannya di momentum refleksi satu tahun kepemimpinannya bersama wakil gubernur Almarhum Salim S Mengga, Jumat (20/02).
Selain membeberkan sederet capaian kinerja selama setahun terakhir, Gubernur Suhardi Duka juga menyinggung peran Almarhum Salim S Mengga di setiap derap langkah jalannya birokrasi di provinsi ke-33 ini. Kata dia, sederet catatan positif di satu tahun terakhir ini adalah buah dari hormonisnya hubungan antara ia dengan mendiang Salim S Mengga.
"Kalau ingin belajar bagaimana menjaga harmoni hubungan antara gubernur dan wakil gubernur, datanglah ke Sulawesi Barat. Kami berdua saling percaya. Sejak dulu saya sudah menegaskan bahwa keputusan yang diambil oleh wakil gubernur adalah keputusan gubernur, dan keputusan yang saya ambil itu juga keputusan wakil gubernur. Begitu saling percayanya kami berdua dalam menjalankan pemerintahan," urai Gubernur Suhardi Duka di hadapan para tamu undangan yang sempat hadir.
Suhardi Duka, mantan anggota DPR RI itu bahkan mengungkap dialog imajiner bersama almarhum yang ia rasakan beberapa hari setelah Salim S Mengga berpulang. Dalam salatnya, Suhardi Duka membantin sedang berkomunikasi dengan almarhum.
"Kau tinggalkan aku. Kau pergi sendiri, aku sendiri sekarang. Itu dialog dalam diri saya dengan beliau," ungkap Suhardi Duka.
Sederet capaian yang telah diraih di satu tahun pemerintahan Suhardi Duka-Salim S Mengga diantaranya, pertumbuhan ekonomi 5,36 Persen, di atas rata-rata nasional 5,11 Persen. Begitupun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 70,46 Persen naik jadi 71,16 Persen.
Pun di sektor pembangunan jalan provinsi dari 46,89 Persen naik 49,77 Persen. Angka kemiskinan juga mengalami penurunan dari 10,71 Persen jadi 10,18 Persen. Ditambah gini rasio (tingkat ketimpangan) yang membaik dari 0,316 Persen jadi 0,308 Persen. Seturut dengan indeks reformasi birokrasi yang bertengger di angka 73,76 Persen sesuai kategori BB.
Di satu tahun pemerintahan Suhardi Duka-Salim S Mengga, sinergi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat juga menunjukkan angka yang positif. Dibuktikan dengan pembentukan 648 koperasi merah putih, penyelenggaraan sekolah rakyat di tiga lokasi dengan 295 siswa. Serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyentuh 340.944 siswa penerima manfaat.
"Apapun itu, mari kita tegar. Lanjutkan perjuangan beliau. Saya yakin, apabila kita tetap berada di koridir yang ada dengan harapan dan integritas yang ditanamkan oleh Pak Wagub, yakinlah bahwa Pak Wagub tersenyum di sana," simpul Suhardi Dua.
'Maaf Kalau Berlebihan, tapi Seperti Itulah Sosok Pak Jenderal'
Di momentum yang sama, istri Almarhum Salim S Mengga, Hj. Fatmawaty tak kuasa membendung kesedihannya saat mengenang 'Pak Jenderal' (sapaan akrab Salim S Mengga). Bagi Fatmawaty, kebersamaan pak jenderal dengan Gubernur Suhardi Duka merupakan wujud nyata dari istilah 'dwitunggal'.
Hj Fatmawaty. (Foto/Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik)
"Saya sebagai istri pak jenderal menyampaian terima kasih yang setulu-tulusnya kepada bapak gubernur yang telah bekerja sama dengan pak jenderal hinga terjalin keharmonisan yang luar bisa. Saya bisa merasakan itu sebagai pendamping pak jenderal," ungkap Hj. Fatmawaty.
Sebagai istri, Fatmawaty merasa begitu terhormat sekaligus sangat dihargai oleh gubernur Suhardi Duka, dalam bingkai kedinasan maupun secara kekeluargaan. Meski di sisi lain, tanggung jawab sebagai seorang wakil gubernur, kata dia, begitu berat untuk dijalankan oleh Salim S Mengga.
"Saya melihat bapak (Salim S Mengga) begitu iklas dan tulus mendampingi bapak gubernur meski di waktu yang singkat," ucap Fatmawaty dengan suara bergetar.
Ibu tiga anak itu juga mengungkap banyaknya tantangan, pengalaman, serta pelajaran yang sangat berharga selama almarhum menjabat. Satu poin penting yang terus dijaga oleh almarhum semasa hidupnya, kata Fatmawaty, adalah tentang pentingnya pengabdian yang tulus untuk masyarakat.
"Serta konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Jujur serta bertindak sesuai prinsip moral, walaupun sulit. Maaf kalau saya berlebihan, tapi seperti itu lah sosok pak jenderal," demikian Hj Fatmawaty. (*/Naf)









