Wawancara Khusus

Pengangkatan Pegawai SPPG menjadi PPPK serta Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik

Wacana.info
Ilustrasi. (Foto/Net)

Wawancara Khusus dengan Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag (Akademisi STAIN Majene)

Pemerintah berencana mengangkat ribuan pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). 

Lewat Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025, terbuka jalan bagi pegawai SPPG selaku unit pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diangkat sebagai ASN PPPK. Dengan status tersebut, pegawai inti SPPG yang diangkat sebagai PPPK berhak memperoleh penghasilan sekitar Rp 2,5 Juta hingga Rp 4 Juta per bulan, belum termasuk tunjangan.

Kebijakan tersebut terlihat progresif karena menjanjikan kepastian kerja dan kesejahteraan bagi pekerja pada program strategis nasional seperti MBG. Meski begitu, keputusan itu belakangan malah memicu gelombang protes dari banyak pihak, terutama dari guru honorer di berbagai daerah.

WACANA.Info berkesempatan untuk membincang isu di atas bersama akademisi STAIN Majene, Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag, Senin (16/02). Di sela-sela aktivtasnya, Prof,. Anwar membagikan perspektifnya tentang rencana pemerintah itu.

Berikut kutipan wawancara khusus WACANA.Info dengan Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag.

 

WACANA.INFO: Prof. Anwar Sadat, bagaimana Anda melihat rencana pengangkatan pegawai MBG menjadi PPPK di tengah masih banyaknya guru yang hidup pra sejahtera dan menunggu kepastian status selama bertahun-tahun ?

Prof. Anwar Sadat: Saya melihatnya sebagai kegembiraan yang bercampur luka. Di satu sisi, penguatan program MBG penting untuk masa depan anak-anak kita, tetapi di sisi lain ada ironi besar: ribuan guru yang sudah mengabdi puluhan tahun masih hidup dalam kondisi pra sejahtera dan terus menunggu pintu keadilan terbuka bagi mereka.

WACANA.INFO: Apakah menurut anda kebijakan ini bisa disebut tidak adil bagi guru dan tenaga kependidikan yang sudah lama mengabdi ?.

Prof. Anwar Sadat: Kata ‘tidak adil’ itu muncul bukan karena iri, tapi karena rasa keadilan publik terusik. Guru yang sejak dulu menjaga akal dan akhlak generasi muda seolah berada di antrean belakang, sementara pegawai dalam program baru justru mendapat jalur cepat menuju PPPK. Guru dan nakes yang mengabdi lama merasa; ‘Mengapa pengabdian kami seakan kurang dihargai dibanding program yang baru berjalan ?.

WACANA.INFO: Bagaimana anda memposisikan program MBG itu sendiri ?. Apakah patut diapresiasi, atau justru dikritik ?.

Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag. (Foto/Istimewa)

Prof. Anwar Sadat: Substansi program MBG patut diapresiasi; memberi makan bergizi gratis adalah investasi jangka panjang untuk melawan stunting dan membangun kualitas SDM bangsa. Hanya saja, apresiasi terhadap MBG tidak boleh membutakan mata kita terhadap ironi kesejahteraan guru. Kita bisa mendukung programnya, sambil tetap bersuara lantang bahwa pilar pendidikan—terutama guru swasta dan honorer—tidak boleh dibiarkan terus dalam situasi pra sejahtera.

WACANA.INFO: Menurut anda, sikap apa yang sebaiknya diambil oleh para guru dalam situasi seperti ini ?.

Prof. Anwar Sadat: Pertama, guru harus tetap memegang martabat profesinya; nilai seorang guru tidak turun hanya karena gajinya kecil atau statusnya belum jelas. Kedua, aspirasi harus disalurkan secara terhormat dan terorganisir: melalui asosiasi guru, forum akademik, dialog dengan pemerintah daerah dan pusat, serta pengawalan di ruang legislatif. Ketiga, guru perlu aktif mengawal realisasi anggaran dan program kesejahteraan guru yang sudah dijanjikan, agar benar-benar menyentuh guru swasta yang paling rentan, bukan berhenti di tataran slogan.

WACANA.INFO: Sebagian orang berkata, ‘Perjuangan guru itu percuma, kebijakan sudah dikunci dari atas’. Bagaimana anda menanggapi pandangan pesimis seperti ini ?.

Prof. Anwar Sadat: Pesimisme itu manusiawi. Tetapi tidak boleh menjadi kompas. Sejarah perubahan kebijakan di negeri ini menunjukkan bahwa suara yang konsisten, tertib, dan bermartabat sering kali mampu menggeser arah keputusan. Guru bukan sekadar korban kebijakan; mereka adalah suara nurani bangsa. Kalau nurani itu diam, kebijakan akan melaju tanpa koreksi.

WACANA.INFO: Apakah anda melihat peluang perubahan ke depan bagi guru-guru swasta dan honorer ini ?.

Prof. Anwar Sadat: Saya melihat peluang itu selalu ada, justru karena kegaduhan moral ini sedang muncul ke permukaan. Sorotan publik terhadap ketimpangan antara pegawai MBG dan guru lama bisa menjadi pintu untuk merumuskan skema afirmasi baru bagi guru swasta dan honorer. Jika tekanan moral dari kampus, ormas, asosiasi guru, dan masyarakat terdidik dijaga secara cerdas, pemerintah akan sulit menutup mata terhadap kebutuhan regulasi yang lebih adil.

WACANA.INFO: Kalau boleh dirangkum, pesan utama anda kepada pemerintah dan kepada para guru sendiri seperti apa, Prof ?.

Prof. Anwar Sadat: Kepada pemerintah, pesan saya jangan membangun generasi sehat jasmani sambil melupakan kesejahteraan mereka yang menyehatkan akal dan jiwayaitu para guru. Program makan bergizi akan timpang jika guru-gurunya terus bergulat dengan kemiskinan yang berkepanjangan. Kepada para guru, terutama guru swasta dan honorer, jagalah martabat, kuatkan ikhtiar, dan jangan lelah menjadi suara keadilan. Mungkin pegawai MBG mendapat jalan cepat menuju PPPK hari ini, tetapi sejarah bangsa ini akan mencatat: ada guru-guru yang tetap mengajar dengan cinta, walau kebijakan belum sepenuhnya memihak pada mereka.”

WACANA.INFO: Terakhir Prof, adakah pesan inspiratif untuk guru-guru yang saat ini sedang merasa lelah dan hampir menyerah ?.

Prof. Anwar Sadat: Saya ingin mengatakan kepada mereka; boleh jadi hari ini mereka merasa ‘kalah’ secara administratif, tetapi mereka menang secara sejarah. Anak-anak yang dulu mereka ajar dengan honor pas-pasan kini banyak yang menjadi dokter, pejabat, pengusaha, dan pemimpin di berbagai bidang itu adalah jejak abadi yang tidak bisa diukur dengan nominal. Terus suarakan keadilan, tetapi jangan padamkan cinta mengajar. Sebab pada akhirnya, bangsa ini akan berdiri tegak bukan hanya karena program besar yang dicanangkan presiden, tetapi karena kesetiaan guru-guru kecil yang tidak pernah lelah menyalakan cahaya di ruang-ruang kelas yang sunyi.”

(*/Naf)