Belajar dari Eks Napi Terorisme
MAMUJU--Nasrullah. Pria paruh baya dengan pembawaan yang tenang, berperawakan teduh. Melihat penampilannya, tak ada yang bakal menyangka pria asal Kabupaten Mamasa itu adalah seorang mantan narapidana untuk kasus terorisme.
Satgaswil Sulawesi Barat Densus 88 AT menghadirkan Nasrullan serta Joko S sebagai salah pembicara di forum sosialisasi pencegahan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) bersama yang diinisiasi Muslimat NU Sulawesi Barat, Selasa (03/02).
Dalam paparannya, Nasrullah mengungkap asal muasal ia terpapar paham radikal. Semua berawal saat ia banyak mendengar sekaligus mengikuti kajian keagamaan dari salah satu kelompok.
Di sana, ia didoktrin bahwa hanya ada satu jenis hukum; alqur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Bahwa semua yang ada di luar itu adalah salah dan mesti dimusuhi.
"Makanya, penting untuk kita semua untuk memahami bahwa jangan sampai kita keliru dalam menerima sebuah ajaran. Penting untuk membandingkannya dengan sumber-sumber lain," ucap Nasrullah yang hingga kini masih menjalani sanksi wajib lapor itu.
Kesediaannya untuk berbagai pengalaman, serta terlibat aktif dalam setiap aksi edukasi ke masyarakat itu, sekaligus jadi bentuk penegasan tentang kesetiaan Nasrullah pada NKRI. Ia menyebut, pendampingan yang dilakukan oleh Satgaswil Sulawesi Barat Densus 88 AT juga jadi faktor utamanya.
"Tapi semua itu masa lalu saya. Sekarang saya telah berikrar, menegaskan diri untuk setia pada Pancasila dan NKRI," tegas Nasrullah disambut tepuk tangan dari para peserta yang didominasi kalangan perempuan.
Lain Nasrullah, lain pula Joko S. Pria asal pulau Jawa yang kini bermukim di Kabupaten Mamuju Tengah itu merupakan bekas anggota Jamaah Islamiyah (JI), organisasi yang sejak beberapa tahun lalu telah resmi dibubarkan.
Saat JI dibubarkan, Joko berada di barisan bekas anggota JI yang menyatakan ikrar setia pada Pancasila dan NKRI. Ia tak pernah dipidana.
Saat ini, Joko aktif sebagai seorang petani. Bersama para warga lokal, ia menginisiasi tanaman semangka di Tobadak, Mamuju Tengah.
"Yang perlu diwaspadai hari ini adalah penyebarluasan informasi melalui berbagai jenis media sosial. Ada banyak informasi yang begitu cepat kita peroleh lewat HP. Saya kira ini yang memang mesti kita waspadai bersama," tutur Joko S.
Joko S pun mengaku sangat bersyukur dengan adanya pendampingan dari Satgaswil Sulawesi Barat Densus 88 AT. Kata dia, program deradikalisasi dari pemerintah bikin ia dapat menjalani kehidupan sosial dengan ideal.
Terpisah, Kasatgaswil Sulawesi Barat Densus 88 AT, AKBP Soffan Anshari menjelaskan, secara umum, aktivitas terorisme di wilayah Sulawesi Barat memang agak sedikit landai, cenderung aman. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa paham dan ideologi radikalisme masih berpotensi tumbuh jika tidak diantisipasi bersama.
“Insyaallah di Sulawesi Barat ini menjadi tanggung jawab kita bersama dalam menangkal paham dan ideologi radikalisme. Mari kita jaga kampung yang kita cintai ini, siapa yang mau menjaga kampung yang kita cintai ini kalau bukan kita semua," begitu kata AKBP Soffan Anshari. (*)









