Sang Jendral yang Menolak Alasan
Oleh: DR. Farid Wajdi.M.P,d (Staf Ahli Gubernur Sulawesi Barat)
Berpulangnya Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga yang wakil gubernur Sulawesi Barat bukan sekadar kabar duka biasa. Ia menjelma menjadi kesedihan kolektif yang menyayat di banyak ruang dan lintas generasi.
Mereka yang pernah mengenalnya secara dekat, entah sebagai pimpinan, atasan, sahabat, guru, atau panutan, pasti merasakan kehilangan yang begitu nyata.
Duka yang sama bahkan juga dirasakan oleh mereka yang tak pernah bersua langsung dengannya. Yang hanya mengenal sosoknya lewat cerita, keteladanan, dan jejak nilai yang ia tinggalkan. Itulah tanda bahwa kehadiran beliau melampaui relasi personal; ia hidup dalam kesadaran publik sebagai simbol kejujuran, keberanian, rendah hati dan integritas.
Dalam setiap fase kehidupannya, baik sebagai prajurit, perwira tinggi, maupun ketika mengabdi di ruang sipil, Jenderal Salim S Mengga dikenal sebagai sosok yang meletakkan kejujuran sebagai fondasi utama.
Nilai itu bukan sekadar jargon atau petuah yang indah saat diucapkan, melainkan prinsip hidup yang ia jalani dengan konsisten, bahkan ketika sikap jujur menuntut pengorbanan. Ia memilih jalan yang lurus, meski jalan itu sering kali sepi, tak populer, dan penuh risiko.
Rasa kehilangan itu juga datang dari Yacobus K Mayong, lelaki kelahiran Toraja, Sulawesi Selatan. Sosok punya banyak jasa untuk pemekaran Provinsi Sulawesi Barat. Salah inisiator lahirnya UU pembentukan Provinsi Sulawesi Barat di senayan tahun 2004 lalu.
Dalam sebuah tulisan yang dimuat di salah satu media, Yacobus mengenang Jenderal Salim bukan hanya sebagai seorang perwira tinggi TNI, tetapi sebagai manusia utuh yang memancarkan keteladanan moral.
Tulisan yang bukan sekadar obituari, melainkan kesaksian batin tentang integritas, tentang bagaimana seorang pemimpin bisa tetap berdiri tegak di tengah godaan pragmatisme dan kompromi nilai.
Memang, tak akan pernah cukup tinta pena untuk menuliskan seluruh kisah hidup Jenderal Salim S. Mengga. Setiap bab kehidupannya seolah memuat petuah tentang kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian moral, dan kerendahan hati.
Namun justru karena itu, beliau akan selalu dikenang oleh rakyatnya. Bukan semata karena pangkat jenderal yang disandangnya, melainkan karena nilai yang ia jaga dengan setia hingga akhir hayat.
Ia pergi. Tetapi teladannya tinggal dan terus berbicara. Salah satu kutipan Yacobus terasa begitu dalam lagi menggugah; 'konsistensi itu sangat mahal. Pragmatisme selalu menemukan alasan'.
Kalimat ini bukan sekadar refleksi intelektual, melainkan ringkasan jalan hidup Jenderal Salim S. Mengga. Konsistensi memang mahal, karena ia menuntut keberanian untuk tetap jujur ketika berbohong terasa lebih mudah, untuk tetap lurus ketika berbelok menawarkan keuntungan, dan untuk tetap teguh ketika banyak orang memilih jalan pintas.
Sementara pragmatisme, sebagaimana diungkapkan Yacobus, selalu pandai mencari pembenaran, selalu menemukan alasan-alasan untuk melunakkan prinsip.
Jenderal Salim memilih sebaliknya. Ia tidak memberi ruang bagi kompromi, bahkan sekadar setipis benangpun, untuk menggeser kejujuran dari tempatnya yang utama. Bagi beliau, kejujuran bukan pilihan situasional, melainkan harga diri. Bukan sekadar sikap, tetapi ia adalah jati diri.
Kini, ketika sang jenderal telah berpulang, kita menyadari bahwa warisan terbesarnya bukanlah jabatan atau gelar, melainkan keteladanan moral. Di tengah zaman yang kerap merayakan kelihaian tanpa kejujuran, keluwesan tanpa prinsip, keberhasilan tanpa etika, keramahan tanpa empati, sosok seperti Salim S. Mengga hadir sebagai pengingat; integritas mungkin tidak selalu menguntungkan, tetapi ia selalu memuliakan.
Dan mungkin, di situlah makna kepergiannya menjadi sangat dalam. Ia tidak hanya meninggalkan pilu, tetapi juga meninggalkan cermin. Cermin untuk diri kita masing-masing; apakah sosok kita dalam cermin itu masih setia pada kejujuran, masih sanggup membayar mahalnya konsistensi, atau justru sedang sibuk mencari alasan-alasan pragmatis.
Jenderal Salim S. Mengga telah menuntaskan hidupnya dengan lurus. Kini, teladannya berjalan di hadapan kita, menunggu untuk dilanjutkan. Bukan sekadar dikenang. Dan cermin yang ditinggalkannya sebagai alat periksa diri kita itu seperti meninggalkan satu tanda tanya, apakah sosok 'aku' dalam cermin itu adalah 'aku' dalam integritas, atau 'aku' dalam kejujuran, atau 'aku' dalam konsistensi. Memang itu adalah 'aku'. Atau, jangan-jangan hanya bayangan 'aku-ku' saja, dengan segala alasan-alasannya. (*)









