Kesehatan

Realita dan Ekspektasi, Mengurai Benang Kusut Anxiety

Wacana.info
dr. Jeane Rachel Esra, SP.KJ. (Foto/Istimewa)

MAMUJU--"Kita ketemu di Kopken (Kopi Kenangan) saja yah ?,". Sebuah pesan singkat dari dr. Jeane Rachel Esra, SP.KJ ke smartphone asal Tiongkok kepunyaanku. Siang itu, kami pun bertemu di sana, sekaligus jadi yang pertama kalinya saya ngopi di tempat itu.

Jauh hari sebelumnya, saya memang telah menghubungi dr. Jeane, dokter spesialis kedokteran jiwa itu. Meminta kesediaannya untuk berbincang seputar krisis kesehatan mental. Sebuah keluhan kesehatan yang belakangan seolah menjadi sebuah fenomena khususnya di kalangan usia produktif.

Krisis Kesehatan Mental pada Generasi Muda

rspp.co.id melansir, Generasi Z (lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an) kini sedang menghadapi krisis kesehatan mental yang belum pernah terjadi sebelumnya. Data dari berbagai lembaga kesehatan global menunjukkan lonjakan signifikan dalam prevalensi gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi mayor di kalangan generasi ini. 

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada usia yang sama, Gen Z melaporkan tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi. dr. Jeane mengakui, di sejumlah poliklinik tempat ia mengabdi, pasien yang datang memang didominasi oleh keluhan gangguan kecemasan.

"95 Persen pasien saya itu datang dengan keluhan anxiety. Dan mayoritas dari mereka itu datang dari kelompok usia produktif, bahkan ada yang belasan tahun," beber dr. Jeane Rachel Esra.

Efek Media Sosial hingga Pola Asuh

Dokter yang sehari-hari bekerja di RS Mitra Manakarra, RS Mutiara Ibu dan RS Punggawa Malolo itu menambahkan, Gen Z memang jadi segmen yang cukup rentan terkena anxiety. Faktornya bisa bermacam-macam, kata dia.

Mulai dari pola asuh di internal keluarga, pengaruh media sosial, hingga kondisi psikologis di sirkel pergaulan, serta beberapa pemicu lainnya. Padahal, menurut dia, kecemasan adalah bagian dari pengalaman manusia yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti sulit tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

"Salah satunya memang pengaruh soaial media. Di era digital yang informasi apapun berseliweran sebegitu cepatnya, kehidupan orang lain kadang terlihat begitu sempurna di layar ponsel. Di sisi lain, banyak anak muda yang tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih mapan. Perbandingan sosial ini dapat memicu rasa tidak cukup baik, rendah diri, hingga kecemasan tentang masa depan," urainya.

Perfeksionisme dan Ekspektasi Tinggi

Yang juga digarisbawahi dr. Jeane adalah tentang pentingnya mendudukkan ekspektasi secara bijak. Dari apa yang ia hadapi, ada sekian banyak kasus pasien anxiety yang datang dengan latar belakang perfeksionis. 

"Ketika apa yang telah ditarget tak tercapai, kadang-kadang orang bisa sangat kecewa, yang berujung pada gangguan kecemasan. Makanya, penting untuk meletakkan ekspektasi di posisi yang lebih bijak. Bahwa mematok target itu wajar, tapi ketika hal-hal yang berada di luar kendali kita bikin target tersebut tak bisa terwujud, ini yang mesti hati-hati untuk kita menanggapinya. Kadang orang akan merasa sangat kecewa kalau tidak bijak. Dan rata-rata memang tipikal perfeksionis yang seperti ini," terangnya.

Menurut dr. Jeane, hidup sering kali jadi ruang tempat harapan dan kenyataan justru tampil saling bertolak belakang. Kita kerap menyusun cetak biru kehidupan yang begitu terukur. Dari garis waktu, pencapaian, standar kebahagiaan, hingga hasil akhir yang serba sempurna. Namun, dinamika dunia tidak pernah benar-benar berjalan di atas rel yang kita gambar. 

"Makanya di teori kejiwaan, ada yang dinamakan aksi-reaksi. Ia berpijak pada mekanisme bagaimana otak manusia merespon sebuah pemicu. Ketika sebuah kejadian atau pemicu fisik terjadi sebagai sebuah 'aksi', otak tidak langsung melahirkan emosi secara mentah, melainkan memproses dan mengartikannya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengeluarkan 'reaksi'. Bisa berupa respon emosional, sensasi tubuh, maupun tindakan," sambungnya.

Ketika seseorang mengalami gangguan cemas, terjadi ketidakseimbangan senyawa kimia atau neurotransmitter di dalam otak. Kondisi tersebut, kata dia, bersifat sangat personal dan manifestasinya berbeda-beda pada setiap individu. Faktor pemicu atau stressor tertentu akan merangsang otak untuk mengaktifkan respon alami 'fight or flight response'.

Menariknya, pemicu yang dianggap sepele oleh seseorang, bisa jadi merupakan hal yang sangat besar dan berat bagi orang lain, yang mana kondisi ini kerap memiliki hubungan erat dengan pengalaman atau trauma di masa lalu.

Saling Silang; GERD dan Anxiety

Menurut dokter spesialis kejiwaan dari UNAIR itu, keterkaitan antara GERD dan kecemasan dapat terjadi melalui dua jalur. Pada beberapa kasus, GERD dapat muncul terlebih dahulu akibat pola makan yang tidak teratur atau gaya hidup tidak sehat, di mana sensasi rasa sakit dan tidak nyaman pada lambung tersebut kemudian menjalar memicu rasa cemas. 

"Di sisi lain, kecemasan juga bisa muncul lebih awal akibat beban pikiran atau tekanan masalah, yang pada akhirnya berdampak langsung pada kondisi lambung dan memicu GERD," tuturnya.

Ketika kedua kondisi di atas sudah muncul secara bersamaan, timbul interaksi timbal balik yang intensif di antara keduanya. Rasa sakit dari GERD akan memicu dan memperburuk rasa cemas, sementara tingkat kecemasan yang meningkat justru akan semakin memperparah kondisi GERD

"Oleh karena itu, penanganan yang komprehensif baik dari segi kesehatan fisik pencernaan maupun kesehatan mental sangat diperlukan untuk memutus siklus ini," kata dr. Jeane.

Penanganan serta Pemulihan

Lantas, apa dan bagaimana menangani pasien dengan keluhan kecemasan berlebihan itu ?. 

Menjawab pertanyaan itu dr. Jean menilai, diperlukan diagnosis serta kondisi spesifik dari pasien. Dengan kata lain, penanganannya akan sangat tergantung pada kondisi masing-masing pasien, apa pemicunya, serta berbagai kondisi spesifik pasien tertentu.

"Ada yang hanya dalam hitungan bulan sudah sembuh, tapi ada juga pasien yang nanti bertahun-tahun baru bisa sembuh. Semua tergantung kondisi pasiennya. Jadi, kita terlebih dahulu harus paham kondisi pasiennya. Termasuk apa pemicunya. Yang tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana menjalani gaya hidup secara sehat. Dari aktivitas fisik teratur, pola makan dan tidur, serta yang paling utama dukungan keluarga dan sirkel sosial terkecil," pungkas dr. Jeane Rachel Esra. (*/Naf)