Orasi Ilmiah di UNM, Suhardi Duka Singgung Implementasi Pasal 33 UUD 1945
MAKASSAR--“Secara global, kita melihat bagaimana geopolitik saling mengarungi antara satu kekuatan dengan kekuatan yang lain. Akibatnya juga terjadi perang, baik antara Ukraina dengan Rusia, Israel dengan Palestina dan beberapa negara Arab lainnya, maupun Amerika dengan Iran,”. Hal itu diuraikan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka dalam orasi ilmiah yang ia bawakan pada acara wisuda Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis (20/08).
Kata dia, dinamika geopolitik tak hanya berdampak pada aspek keamanan saja. Tetapi juga ikut berpengaruh pada kondisi perekonomian dunia. Karena itu, Indonesia perlu memainkan peran yang lebih aktif agar pembangunan nasional dapat diarahkan menuju kesejahteraan masyarakat.
Suhardi Duka ikut menyoroti arah kebijakan ekonomi nasional. Ia mengatakan, dalam satu dekade terakhir, Indonesia mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 4 hingga 5 Persen. Namun, pertumbuhan tersebut, kata dia, belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi itu tidak semuanya bisa dinikmati oleh masyarakat kita. Justru angka kemiskinan tetap ada di tengah-tengah kita. Pertumbuhan ekonomi itu hanya dinikmati oleh segelintir orang, akhirnya yang kaya semakin kaya, kemudian yang miskin tetap terabaikan,” beber dia.
Diperlukan perubahan paradigma di sektor pembangunan. Menurutnya, arah pembangunan perlu diarahkan kembali pada amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945, yang menempatkan sumber daya alam sebagai kekayaan yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Menurut Suhardi Duka, pengelolaan sumber daya alam harus mampu menghasilkan penerimaan bagi negara sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia juga menyinggung berbagai persoalan dalam tata kelola sumber daya alam, termasuk praktik seperti under-invoicing dan underpricing yang dinilai dapat mengurangi manfaat ekonomi yang seharusnya diterima negara.
Dalam kesempatan tersebut, Suhardi Duka secara khusus mengangkat potensi Sulawesi Barat sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumber daya mineral kritis, terutama rare earth elements atau unsur tanah jarang.
Menurutnya, tanah jarang saat ini menjadi salah satu komoditas strategis dunia karena berkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan kekuatan geopolitik.
“Yang menjadi rebutan dunia adalah yang dikenal dengan mineral kritis, yaitu rare earth atau biasa disebut tanah jarang,” kata Suhardi Duka.
Suhardi Duka mengatakan, hasil penelitian menunjukkan adanya potensi tanah jarang di Sulawesi Barat dengan deposit yang besar dan kualitas yang dinilainya sangat baik. Karena itu, ia menyebut Sulawesi Barat tidak hanya memiliki posisi strategis bagi Indonesia, tetapi juga berpotensi memiliki arti penting bagi dunia.
“Sesungguhnya Sulawesi Barat adalah masa depan Indonesia dan masa depan dunia. Siapa yang menguasai tanah jarang atau rare earth, itulah yang memainkan geopolitik dunia,” tegas dia.
Ia mencontohkan Cina yang saat ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam penguasaan tanah jarang, baik dari sisi cadangan maupun teknologi pengolahannya. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki deposit tanah jarang. Penguasaan teknologi untuk memisahkan dan mengolah unsur-unsur tanah jarang menjadi faktor yang sangat menentukan.
“Memiliki kandungan saja tidak cukup untuk bisa memainkan geopolitik. Kita juga harus menguasai teknologi,” urai Suhardi Duka.
Dalam konteks tersebut, Suhardi Duka mendorong perguruan tinggi mengambil peran strategis dalam pengembangan teknologi pengolahan tanah jarang. Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi di Indonesia telah mulai melakukan upaya untuk menguasai teknologi pemisahan unsur-unsur tanah jarang.
Perguruan tinggi, kata dia, harus menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi.
“Pertanyaan bagaimana dengan penguasaan teknologi, saya kira geopolitik itu harus dijawab oleh perguruan tinggi karena memiliki kandungan saja tidak cukup,” tuturnya.
Selain potensi mineral kritis, Suhardi Duka mengatakan, Sulawesi Barat juga memiliki sejumlah sektor unggulan lain yang dapat menjadi penopang ekonomi daerah. Ia menyebut perkebunan sawit dengan luasan sekitar 108 Ribu hektare, kakao sekitar 140 Ribu Hektare, serta potensi sektor pertanian, termasuk padi dan jagung.
Menurutnya, berbagai potensi tersebut harus dikelola secara optimal dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Sulawesi Barat. Di hadapan para wisudawan UNM, Suhardi Duka menekankan bahwa tantangan pembangunan ke depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menguasai teknologi dan membaca perubahan dunia.
Ia berharap generasi muda dan perguruan tinggi dapat menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut sehingga kekayaan sumber daya alam Indonesia, termasuk Sulawesi Barat dapat benar-benar menjadi kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*/Naf)








