Dampak Anomali Cuaca, BPBD Sulbar Ajak Masyarakat Cegah Karhutla Sejak Dini
MAMUJU--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Di tengah Anomali cuaca kekeringan di Indonesia saat ini dipicu oleh penguatan fenomena El Niño kategori kuat yang dikombinasikan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, kesiapsiagaan dan peran bersama dalam mencegah terjadinya bencana jadi hal yang penting untuk dimaksimalkan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah mengatakan, pencegahan Karhutla harus dimulai dari kesadaran setiap individu. Menurutnya, kebakaran besar sering kali berawal dari kelalaian terhadap sumber api kecil yang tidak segera dikendalikan.
Melalui peningkatan kesadaran masyarakat, pencegahan pembakaran sembarangan, pemantauan wilayah rawan, pelaporan cepat apabila terjadi kebakaran, serta penguatan kolaborasi seluruh pihak.
“Jangan biarkan api kecil menjadi bencana besar. Cegah Karhutla mulai dari diri sendiri. Mari bersama-sama meningkatkan kepedulian, tidak melakukan pembakaran sembarangan, serta segera melaporkan apabila melihat tanda-tanda kebakaran,” kata Yasir Fattah, di ruang kerja kalaksa BPBD Sulawesi Barat, Kamis (20/08).
Masyarakat, kata dia, memegang peran penting dalam mencegah Karhutla, khususnya dengan tidak membuka atau membersihkan lahan menggunakan cara pembakaran, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan sumber api benar-benar padam setelah digunakan.
Kekeringan jadi Pemicu Berantai
Anomali cuaca dan kekeringan yang terjadi di Sulawesi Barat harus dipandang sebagai ancaman strategis terhadap ketahanan pangan, lingkungan, ekonomi dan keselamatan masyarakat. Ahli mitigasi bencana Sulawesi Barat, Swandi menilai, Kekeringan tidak berdiri sendiri. Ia dapat menjadi pemicu berantai yang menghubungkan krisis air, gagal panen, kebakaran hutan dan lahan, penurunan pendapatan masyarakat.
"Hingga meningkatnya kebutuhan bantuan pemerintah," jelas Swandi kepada WACANA.Info.
Fakta lapangan, sambung dia, tahun 2026 menunjukkan bahwa dampaknya sudah mulai dirasakan pada sejumlah wilayah pertanian Sulawesi Barat. Di Mamuju Tengah telah ditemukan lahan yang mengalami kekeringan parah dan gagal panen, sedangkan di Mamuju, ratusan hektar sawah telah teridentifikasi terdampak kekurangan air.
Swandy. (Foto/Istimewa)
"Di Polewali Mandar bahkan telah dilakukan operasi penyelamatan lahan dengan suplai air menggunakan kendaraan pemadam. Oleh karena itu, strategi pemerintah harus bergerak dari responsif menjadi antisipatif, dari sektoral menjadi lintas sektor, dan dari pemadaman setelah kejadian menjadi pencegahan sebelum kejadian," terang Swandi, peneliti ahli muda Bapperida Provinsi Sulawesi Barat itu.
Kerangka operasional yang perlu dibangun, sambung Swandi adalah melakukan monitoring, deteksi dini, pemetaan risiko, peringatan, aksi dini, penyelamatan, penanganan, pemulihan, serta adaptasi.
"Dengan pendekatan tersebut, Sulawesi Barat tidak hanya berupaya menghadapi kekeringan 2026, tetapi sekaligus membangun sistem ketahanan air, ketahanan pangan dan ketahanan bencana yang lebih kuat untuk menghadapi variabilitas iklim pada tahun-tahun mendatang," pungkas Swandi.
Damkar Mamuju yang Cukup Sibuk
Di periode beberapa waktu terakhir, jajaran Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Mamuju cukup disibukkan dengan adanya sejumlah laporan kebakaran hutan dan lahan di beberapa titik. Randy Noertadi Tasdir, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Mamuju mengaku, pihaknya cukup disibukkan dengan aktivitas pemadaman api di tengah anomali cuaca kekeringan seperti yang terjadi saat ini.
Dalam keterangannya kepada WACANA.Info, Randy Noertadi mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat agar menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar. Langkah ini dinilai sangat berbahaya karena memicu karhutla yang meluas. Ia menyampaikan, cuaca kering meningkatkan risiko penyebaran api secara cepat.
"Pembukaan lahan dengan metode pembakaran tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menghasilkan kabut asap yang mengancam kesehatan pernapasan warga. Damkar mengingatkan adanya sanksi hukum pidana dan denda berat bagi siapa saja yang sengaja melakukan pembakaran liar. Masyarakat diimbau segera melaporkan ke posko Damkar terdekat jika melihat titik api atau aktivitas pembakaran lahan yang mencurigakan," tutur Randy Noertadi.
Ia menambahkan, metode membakar lahan merupakan tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan memiliki dampak domino yang merugikan banyak pihak. Selain merusak struktur tanah dan memusnahkan ekosistem lokal, kabut asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut dapat memicu gangguan kesehatan massal, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang sangat rentan menyerang anak-anak dan lansia.
(Foto/Pemadan Kebakaran Mamuju)
"Masyarakat diminta untuk beralih ke metode pembersihan lahan yang lebih ramah lingkungan, seperti sistem tebang-cacah atau pemanfaatan sisa tanaman menjadi kompos," harap dia.
Guna mengantisipasi situasi yang tidak diinginkan, personel pemadam kebakaran di Kabupaten Mamuju kini disiagakan penuh posko taktis. Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan setiap melihat adanya titik api sekecil apa pun atau aktivitas pembakaran liar di lingkungan sekitar agar dapat segera ditangani sebelum meluas menjadi bencana. (*/Naf)









