Mamuju di Titik-486; Tangguh Secara Historis, Kuat dalam Budaya
MAMUJU--"Perjalanan 486 tahun bukanlah rentang waktu yang singkat,". Begitu petikan sambutan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka saat menghadiri upacara peringatan hari jadi Mamuju ke-486 tahun yang dipusatkan di lapangan Kantor Bupati Mamuju, Selasa (14/07).
Di hadapan para peserta upacara, Gubernur Suhardi Duka berharap agar hari jadi Mamuju itu dijadikan momentum untuk merenungi panjangnya perjalanan itu. Sekaligus mensyukuri setiap langkah yang telah ditapaki hingga hari ini.
"Perjalanan 486 tahun bukanlah rentang waktu yang singkat. Usia yang hampir mencapai lima abad ini menandakan Mamuju memiliki ketangguhan historis, kekuatan budaya serta semangat juang yang terus menyala dari generasi ke generasi," tegas Suhardi Duka.
Di kesempatan itu, Suhardi Duka juga menyuarakan rasa syukur serta terima kasihnya atas kepercayaan yang telah ia terima selama 10 tahun memimpin pemerintahn di Kabupaten Mamuju. Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap bekerja sama dalam menjaga Mamuju.
"Izinkan saya sampaikan sepenggal ungkapan bahwa bumi Manakarra bukanlah wilayah administrasi saja. Mamuju adalah tempat saya mengabdi dan menorehkan sejarah tahun 2005 sampai 2015 saya dipercaya masyarakat memimpin Mamuju," ungkapnya.
Upacara Hari Jadi Mamuju ke-486 di Kantor Bupati Mamuju. (Foto/KominfoSS)
Kabupaten Mamuju, masih oleh Suhardi Duka, terus menunjukkan gerak di jalur pembangunan yang tepat dan terukur. Perekonomian di Mamuju saat ini relatif stabil. Tahun 2025 saja, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mamuju ada di atas 5 Persen.
"Mamuju terus mengalami kemajuan. Program pengentasan kemiskinan di Mamuju berjalan sangat efektif dan bisa jadi contoh serta model bagi daerah lain untuk menurunkan angka kemiskinan," tutup Suhardi Duka.
Sejumlah tokoh penting turut hadir pada upacara peringatan hari jadi Mamuju ke-486 itu. Mereka diantaranya; Anggota DPD RI, Almalik Pababari, Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat, Sekretaris Daerah Sulawesi Barat, Junda Maulana, jajaran Forkopimda, Bupati Mateng, Bupati Majene, Wakil Bupati Mamasa, para mantan Bupati Mamuju, Ketua DPRD Mamuju, serta tamu undangan lainnya.
Membincang 'Mamuju Marendeng'
Peringatan hari jadi Mamuju ke-486 seolah punya pesan magis. Istilah Mamuju Marendeng yang dijadikan jargon utama di momentum spesial itu seperti menyimpan berjuta makna, berderet pesan luhur.
Maradika Mamuju, Bau Akram Dai. (Foto/Istimewa)
Maradika Mamuju, Bau Akram Dai menjelaskan, istilah marendeng digunakan untuk menginterpretasikan hadirnya keseimbangan dalam hidup. Dari keseimbangan sosial, dalam hal ini menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, keseimbangan spritual yakni menjaga hubungan dengan Tuhan dan leluhur, serta keseimbanan emosi alias tidak terlalu tinggi hati saat sukses dan tak terpuruk di kala gagal.
"Peringatan hari jadi Mamuju yang ke-486 ini juga jadi momentum pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjalani hidup dengan bijak, tenang, dan selalu menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan," terang Bau Akram Dai.
Pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman serta gerak modernisasi yang kian menggeliat juga jadi poin harapan yang disampaikan Bau Akram Dai. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa saling mengayomi dan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah.
"Sebab sinergi antara adat dan pemerintah bakal mempercepat pembangunan daerah tanpa menghilangkan identitas sejarah dan budaya lokal," simpul Bau Akram Dai. (*/Naf)









