Film Tanah Runtuh

Mengejar Makna di Balik 'Tanah Runtuh;, Satgaswil Densus 88 Sulbar Gelar Nobar

Wacana.info
(Foto/Net)

MAMUJU--Satgaswil Satgaswil Densus 88 Antiteror Polri Sulawesi Barat menginisiasi agenda Nobar film berjudul 'Tanah Runtuh' di Mamuju. Nobar film Garapan rumah produksi Denny Siregar Production itu ditujukan kepada stakeholder, serta seluruh lapisan masyarakat.

Nobar 'Tanah Runtuh' rencananya bakal digelar di stuio 2 XXI Matos, Mamuju pada Sabtu (4/07) siang. Kasatgaswil Densus 88 Antiteror Polri Sulawesi Barat, AKBP Soffan Ansyari menguraikan, agenda Nobar jadi salah satu strategi dalam mensosialisasikan dampak buruk dari konflik horizontal di masyarakat.

Dalam keterangannya kepada WACANA.Info, AKBP Soffan Ansyari menjelaskan, film 'Tanah Runtuh' terinspirasi dari kisah nyata konflik yang terjadi di wilayah Poso di tahun 2005 silam. TermasuktTentang dampak buruk yang dirasakan oleh masyarakat akibat konflik berdarah itu.

"Bahwa kita berharap, perdamaian, toleransi serta saling menjaga di antara beragam latar belakang masyarakat, merupakan sesuatu yang mesti kita jaga. Semoga film ini bisa diterima di masyarakat, serta pesan damai di film tersebut bisa tersampaikan dengan baik," terang AKBP Soffan Ansyari, Jumat (3/07) malam.

'Tanah Runtuh' sendiri mengisahkan perjalanan Ringgo (diperankan Ridho Khaliq) seorang anak dengan down syndrome dan Kai (Yoan) yang terpisah dari ibu mereka di tengah kondisi konflik. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, Kai bertekad membawa kakaknya mencari sang ibu, menelusuri pengungsian demi pengungsian sambil menghadapi rasa takut yang tidak sepenuhnya mereka pahami.

Di tengah perjuangan tersebut, mereka bertemu dengan seorang polisi Bernama Idham (diperankan oleh Vino G. Bastian), yang awalnya hanya bertugas menangani konflik di wilayah tersebut. Pertemuan Idham dengan Kai dan Ringgo perlahan mengubah arah perjalanan itu menjadi sesuatu yang lebih personal, tentang tanggung jawab, kepedulian, dan hubungan yang tumbuh tanpa direncanakan.

Melalui sudut pandang Ringgo, para penonton disiapkan agar dapat memahami kembali nilai sederhana dalam hidup manusia sebagai mahluk sosial ialah saling peduli dan mengasihi. Dikutip dari Tempo, sutradara 'Tanah Runtuh', Rudi Soedjarwo menegaskan, film itu tak cuma fokus pada konflik, melainkan juga berpusat pada hubungan emosional antarmanusia. 

"Sebenarnya yang kami tertarik angkat itu bukan sekadar konfliknya, justru orang-orang yang berada di dalam, di tengah-tengah itu, terutama anak-anak kecil yang terdampak," kata Rudi.

Untui informasi, film ber-genre drama aksi itu juga terinspirasi dari kisah nyata perjalanan tugas mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Idham Azis. Berlatar belakang peristiwa lonflik Poso, film ini mengisahkan ketegasan dan sisi humanis Komandan Idham saat menjalankan tugas khusus untuk meredam kerusuhan. 

Alur cerita juga menyoroti perjuangan kemanusiaan ketika Komandan Idham secara tidak sengaja bertemu dengan dua anak bersaudara yang terpisah dari ibunya di sebuah gereja hancur pasca insiden kerusuhan di Tanah Runtuh.

Di balik suasana konflik berdarah, film tersebut mengangkat pesan moral yang kuat mengenai toleransi, persaudaraan, dan keberanian aparat negara dalam melindungi setiap warga negara tanpa memandang latar belakang identitas atau agama. Idham Azis sendiri telah memberikan respon positif dan mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda Polri, untuk menonton film ini karena banyaknya nilai pengabdian di dalamnya. (*/Naf)