Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 H

Menyambut Senja, Menjemput Fajar 1448 Hijriah

Wacana.info
(Foto/Istimewa)

Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Sadat, M.Ag. (Guru Besar Ilmu Sosiologi Hukum Islam STAIN Majene)

Memasuki penghujung tahun hijriah, manusia sejatinya sedang berdiri di sebuah jembatan halus antara kenangan dan harapan. Dzulhijjah perlahan menutup tirainya seperti senja yang menurunkan warna-warna temaram ke atas langit jiwa, sedangkan Muharram datang laksana fajar yang belum sepenuhnya terang, namun cukup untuk memberi isyarat bahwa hidup masih menyediakan kesempatan baru.

Di antara senja dan fajar itu, setiap insan diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Ada saat ketika langkah harus diperlambat, bukan karena kehilangan arah, tetapi karena jiwa memerlukan ruang untuk mendengar suaranya sendiri. 

Tahun yang pergi bukan sekadar bilangan yang habis, melainkan lembaran umur yang telah terpakai, catatan amal yang telah ditulis, dan jejak pilihan yang akan dimintai maknanya.

Akhir tahun hijriah selalu mengandung nuansa yang lembut namun dalam. Ia seperti matahari yang tidak jatuh dengan suara, tetapi menghilang pelan-pelan sambil meninggalkan langit yang penuh warna. Demikian pula waktu; ia tidak pernah memaksa kita merenung, tetapi kepergiannya selalu membawa pertanyaan yang tak mudah diabaikan: apa yang sesungguhnya telah tumbuh dalam diri selama setahun ini ?.

Boleh jadi ada cita-cita yang berhasil diraih, tetapi ada pula doa yang masih disimpan Allah dalam ruang penantian. Ada perjumpaan yang menjadi anugerah, namun ada pula perpisahan yang melatih keikhlasan. Ada keberhasilan yang membuat syukur kian dewasa, dan ada kegagalan yang justru mengajari bahwa tidak semua kehilangan adalah musibah; sebagian adalah cara Tuhan membersihkan jalan pulang.

Senja akhir tahun hijriah karena itu bukan saat untuk larut dalam penyesalan, melainkan waktu terbaik untuk mengolah pengalaman menjadi hikmah. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling jernih membaca tanda-tanda Allah dalam setiap peristiwa.

Pada titik inilah muhasabah menjadi cermin yang tak bisa dibohongi. Di depan cermin itu, manusia tidak lagi diukur oleh tepuk tangan, gelar, jabatan, atau pujian yang ramai di permukaan. Yang tampak justru sesuatu yang lebih sunyi namun lebih menentukan; niat yang sebenarnya, luka yang belum sembuh, dosa yang belum ditangisi, dan harapan yang belum padam.

Muhasabah adalah keberanian untuk melihat diri tanpa hiasan. Ia bukan sikap memusuhi masa lalu, melainkan cara dewasa untuk berdamai dengannya. Seseorang yang mau bermuhasabah tidak sedang merendahkan dirinya, tetapi sedang membersihkan kaca jiwanya agar cahaya petunjuk dapat masuk tanpa terhalang debu kesombongan.

Barangkali selama setahun ada kata yang terucap terlalu tajam, ada amanah yang belum dijaga sebaik-baiknya, ada ibadah yang rutin tetapi belum benar-benar menghidupkan hati. Semua itu tidak perlu ditutupi dengan dalih. Justru dari pengakuan yang jujur itulah pintu perubahan mulai terbuka.

Muharram dan Makna Hijrah

Muharram datang bukan hanya membawa nama bulan, tetapi membawa ingatan besar tentang hijrah. Hijrah bukan semata perpindahan ruang, melainkan perpindahan kualitas hidup. Ia adalah perjalanan dari sempit menuju lapang, dari takut menuju percaya, dari tertindas menuju bermartabat, dari keterpecahan menuju peradaban.

Dalam kehidupan hari ini, hijrah tidak selalu berarti berpindah kota atau meninggalkan tempat tinggal. Sering kali hijrah yang paling berat justru terjadi di dalam dada; berpindah dari malas menuju disiplin, dari amarah menuju kebijaksanaan, dari riya menuju ikhlas, dari putus asa menuju tawakal. 

Gurun yang harus diseberangi bukan lagi bentangan pasir, melainkan kebiasaan lama yang nyaman namun menahan pertumbuhan jiwa.

Muharram 1448 Hijriah karena itu patut disambut bukan dengan seremoni kosong, tetapi dengan tekad batin yang lebih tertata. Tahun baru tidak otomatis melahirkan manusia baru, tetapi kesadaran baru dapat menjadikan tahun yang baru lebih bermakna daripada seluruh kalender yang pernah dilalui tanpa refleksi. Setiap awal tahun adalah fajar kecil dalam perjalanan umur. 

Fajar tidak pernah berteriak, tetapi cahayanya cukup untuk memisahkan jalan dari jurang. Ia datang dengan kesederhanaan yang agung, seolah berkata bahwa harapan tidak selalu hadir dalam dentuman besar; terkadang ia justru lahir dalam keheningan hati yang siap memperbaiki diri.

Muharram adalah undangan untuk menulis ulang arah hidup dengan tinta niat yang lebih bening. Jika tahun lalu langkah masih terseok oleh keraguan, maka tahun ini semoga kaki lebih teguh. Jika tahun lalu hati mudah kusut oleh kecewa, maka tahun ini semoga jiwa lebih lapang memeluk takdir. Jika tahun lalu ibadah masih sebatas kewajiban, maka tahun ini semoga ia menjelma kebutuhan ruhani yang dirindukan.

Tahun baru hijriah bukan sekadar pergantian lembar kalender, melainkan pembukaan babak baru dalam kitab perjalanan batin. Dan setiap babak baru selalu meminta satu hal: keberanian untuk tidak hidup dengan pola kesalahan yang sama.

Menanam Niat, Menuai Cahaya

Segala perubahan besar selalu berawal dari sesuatu yang tidak terlihat; niat. Niat itu ibarat benih yang ditanam jauh di dalam tanah; ia tidak langsung tampak, tetapi darinya akar tumbuh, batang menguat, dan kelak buah dipetik. Maka menyambut Muharram berarti menanam benih-benih batin yang baik sebelum menuntut panen kebaikan di masa mendatang.

Niat untuk menjadi hamba yang lebih taat, orang tua yang lebih teduh, pendidik yang lebih ikhlas, pemimpin yang lebih adil, sahabat yang lebih tulus, dan manusia yang lebih berguna. Semua itu tidak lahir dari keinginan sesaat, melainkan dari kesungguhan yang dirawat hari demi hari. Sebab cahaya hidup bukan hadiah untuk mereka yang hanya berharap, tetapi untuk mereka yang mau menyalakan pelita dari dalam dirinya

Tidak sedikit orang memasuki tahun baru dengan hati yang masih penuh serpihan luka. Ada kekecewaan yang belum selesai, ada hubungan yang retak, ada kehilangan yang masih menyisakan sunyi panjang. Namun waktu mengajari bahwa luka yang tidak diajak berdamai akan berubah menjadi bayang-bayang yang terus mengikuti langkah.

Muharram adalah saat yang indah untuk memulai rekonsiliasi: dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan ketentuan Allah. Memaafkan bukan berarti menghapus seluruh rasa sakit, tetapi melepaskan diri dari penjara batin yang selama ini dibangun oleh dendam dan kecewa. 

Dalam keluasan maaf, hati menemukan jalan pulangnya menuju ketenangan. Harapan pun kembali tumbuh seperti tunas kecil yang menembus tanah selepas hujan. Ia rapuh, tetapi hidup. Ia sederhana, tetapi menyimpan masa depan. Dan sering kali, justru dari tunas harapan yang kecil itulah Allah menumbuhkan pohon kehidupan yang rindang.

Pergantian tahun hijriah mengingatkan bahwa waktu bukan sekadar sesuatu yang berjalan, melainkan sesuatu yang menguji. Ia menanyai manusia dengan diam: apakah umur yang berkurang juga diiringi kedewasaan yang bertambah ?. Apakah hari-hari yang lewat hanya habis dipakai, atau sungguh-sungguh diolah menjadi ibadah, karya, pelayanan, dan kemanfaatan ?.

Orang yang bijak tidak hanya menghitung waktu, tetapi menjaga makna di dalamnya. Ia sadar bahwa setiap hari adalah halaman yang akan dibuka kembali, setiap amal adalah jejak yang akan berbicara, dan setiap niat adalah rahasia yang kelak diumumkan nilainya di hadapan Allah. 

Karena itu, menyambut Muharram seharusnya juga berarti memperbaiki disiplin hidup, menata prioritas, dan menolak menukar umur yang berharga dengan kesibukan yang tidak bernilai.

Doa di Ambang Tahun

Di ambang berakhirnya tahun dan dimulainya Muharram 1448 Hijriah, barangkali yang paling pantas dibawa adalah doa yang lahir dari kejernihan hati.
Ya Allah, jika tahun yang pergi dipenuhi kelalaian, maka jadikan penyesalan ini sebagai mata air kesadaran. Jika langkah selama ini masih terseok dalam lumpur dosa dan kelemahan, maka angkatlah hati ini agar mampu menatap jalan-Mu dengan lebih terang.

Ya Allah, ajari kami membaca waktu sebagai amanah, bukan sekadar rutinitas. Ajari kami memaknai hijrah bukan hanya sebagai kisah yang dikenang, tetapi sebagai gerak jiwa yang terus berlangsung; dari gelap menuju cahaya, dari lalai menuju sadar, dari rapuh menuju tangguh, dan dari sibuk pada dunia menuju rindu kepada ridha-Mu.

Semoga akhir tahun hijriah ini menjadi senja yang meneduhkan, bukan senja yang menyesakkan. Dan semoga Muharram 1448 Hijriah datang sebagai fajar yang membangunkan, bukan sekadar lewat sebagai cahaya yang tidak sempat disambut. Dengan demikian, tahun baru tidak hanya hadir di dinding kalender, tetapi benar-benar lahir di dalam jiwa, sebagai awal dari hidup yang lebih bening, lebih bernilai, dan lebih dekat kepada-Mu ya Allah, Aaamiin... (*)