Pemerintahan

Struktur Ketenagakerjaan di Sulbar Didominasi Sektor Informal

Wacana.info
Ilustrasi. (Foto/Net)

MAMUJU--Program padat karya, jadi salah satu penopang penyerapan tenaga kerja di Sulawesi Barat. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam catatannya menilai, program padat karya menjadi salah satu instrumen penting dalam memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat, terutama bagi kelompok pekerja yang terdampak kondisi tertentu, seperti nelayan saat menghadapi cuaca ekstrem.

Hal itu disampaikan kepala BPS Sulawesi Barat, Suri Handayani. Dalam keterangannya, indikator penurunan angka pengangguran tak hanya diukur dari peningkatan pekerja sektor formal saja. Dalam metodologi ketenagakerjaan, pekerja sektor informal juga masuk dalam kategori penduduk bekerja.

“Kalau bicara pengangguran, kita tidak bisa hanya melihat satu angka. Dunia kerja itu ada sektor formal dan nonformal. Pekerja bebas, pelaku usaha mandiri, hingga UMKM yang tidak memiliki pekerja tetap juga termasuk bekerja dalam sektor nonformal,” kata Suri, Selasa (02/06).

Struktur ketenagakerjaan di Indonesia, termasuk di Sulawesi Barat, kata dia, masih didominasi sektor informal. Kontribusinya terhadap penurunan angka pengangguran tidak dapat diabaikan.

Dalam catatan BPS Sulawesi Barat, kondisi ketenagakerjaan pada Februari 2026 menunjukkan tren yang positif. Jumlah penduduk bekerja mencapai 801,23 Ribu orang, bertambah 36,61 Ribu orang jika dibandingkan Februari 2025.

Sementara itu, jumlah pengangguran turun menjadi 24,20 Ribu orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 2,93 Persen. Lebih rendah dari kondisi Februari 2025 yang tercatat 3,17 Persen.

Dari total 1,12 Juta penduduk usia kerja di Sulawesi Barat, sebanyak 825,43 Ribu orang masuk kategori angkatan kerja. Sedangkan 293,78 Ribu orang tergolong bukan angkatan kerja.

Peningkatan juga terjadi pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada Februari 2026, TPAK Sulbar mencapai 73,75 Persen atau naik dari 71,81 Persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya. TPAK laki-laki tercatat sebesar 86,29 Persen, sedangkan perempuan mencapai 60,87 Persen.

Gubernur Suhardi Duka saat Menerima Penghargaan di Ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026. (Foto/KominfoSS Sulbar)

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sulawesi Barat. Selain itu, sektor perdagangan dan industri pengolahan juga menjadi sektor utama yang menampung tenaga kerja dalam jumlah besar.

Meski pekerja informal masih mendominasi dengan jumlah 575,03 Ribu orang atau 71,77 Persen dari total pekerja, jumlah pekerja formal juga mengalami peningkatan menjadi 226,20 Ribu orang atau 28,23 Persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Februari 2025 yang tercatat sebanyak 215,40 Ribu orang.

BPS juga mencatat peningkatan kualitas pekerjaan. Jumlah pekerja penuh yang bekerja minimal 35 jam per minggu mencapai 411,31 Ribu orang atau 51,34 Persen dari total pekerja. Sementara pekerja tidak penuh sebanyak 389,92 Ribu orang atau 48,66 Persen.

Secara keseluruhan, kondisi ketenagakerjaan Sulawesi Barat pada Februari 2026 menunjukkan perbaikan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja, bertambahnya partisipasi angkatan kerja, menurunnya angka pengangguran, serta meningkatnya jumlah pekerja formal dan pekerja penuh.

Seperti diketahui, pemerintah provinsi Sulawesi Barat menyabet penghargaan sebagai daerah terbaik dalam kategori penurunan tingkat pengangguran pada Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Regional Sulawesi yang digelar belum lama ini.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung kepada Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka dalam kegiatan yang digelar di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara. Selain diganjar penghargaan, pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga memperoleh insentif fiskal sebesar Rp 3 Miliar karena prestasinya itu. (*/Naf)