Literasi Digital untuk Lindungi Anak dari Konten Radikal di Dunia Maya
MAMUJU--Satgaswil Densus 88 Antiteror Sulawesi Barat mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya orang tua, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan konten radikal yang dapat memengaruhi anak-anak di ruang digital. Kasatgaswil Densus 88 Antiteror Sulawesi Barat, AKBP Soffan Asyari menilai, literasi digital adalah hal yang penting sebagai benteng utama dalam melindungi generasi muda dari berbagai bentuk propaganda, hoaks, ujaran kebencian, serta konten provokatif di internet.
Hal itu disampaikan Soffan dalam keterangan tertulisnya kepada WACANA.Info, Sabtu (30/05). Menurutnya, anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap pengaruh negatif dunia maya apabila tidak mendapatkan pendampingan yang memadai dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Menurutnya, keluarga adalah garda terdepan dalam membangun ketahanan digital anak. Orang tua, kata dia, mesti lebih aktif lagi mendampingi anak saat menggunakan internet.
"Mengawasi aktivitas media sosial, serta membangun komunikasi yang terbuka agar anak tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan," tutur AKBP Soffan Ansyari.
Selain itu, edukasi mengenai literasi digital sejak usia dini juga menjadi fokus utama. Kata Soffan, anak-anak mestinya didorong untuk belajar memilah informasi, mengenali ciri-ciri hoaks, memahami risiko akun anonim yang provokatif, serta menggunakan media sosial untuk kegiatan yang positif dan produktif.
"Dengan kemampuan literasi digital yang baik, anak diharapkan mampu menjadi pengguna internet yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab," sambungnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan konten yang mengandung unsur radikalisme, ujaran kebencian, maupun provokasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Langkah ini dinilai penting guna menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan ramah bagi anak-anak.
Melalui kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan upaya pencegahan penyebaran paham radikal di dunia maya dapat berjalan lebih efektif.
"Dengan demikian, anak-anak kita dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, damai, toleran, serta memiliki daya tahan terhadap berbagai pengaruh negatif yang berkembang di era digital. Literasi digital yang baik adalah benteng utama melindungi anak dari pengaruh radikal dan membangun masa depan bangsa yang lebih aman, damai, dan berkemajuan," tutup AKBP Soffan Ansyari. (*/Naf)









