Puisi

Cahaya Tanah Mandar

Wacana.info
(Foto/Istimewa)

Oleh: Rahmat Jasinal Ambas

Hamparan hijau
Di bawah langit Mandar benderang 
Membaca-berguru berjalan bergandengan tangan 
Membuka jendela dunia terbentang luas 
Bagi anak-anak Mandar masa depan 

Di depan gerbang desa 
Terdengar suara merdu 
Guru mengaji menuntun dengan sabar dan tulus 
mengeja alif-ba-ta di keheningan waktu 
Mengalir berkah yang tak pernah putus 
Kalian bintang-bintang kecil berbinar 
Hiasan paripurna di tengah kegelapan 

Ada rumah berdinding cinta kasih sayang 
Menggenggam mimpi dan harapan 
Ketulusanmu jauh lebih berharga 
Langkah kecil dan fondasi kuat nan mulia

Bintang Kecil di Balik Lembaran 

Langkah kaki ini mungkin belum sejauh samudra 
Namun di dalam dada ada api yang terus menyala 
Aku adalah lelaki yang membawa sejuta mimpi 

Berdiri tegak berjanji pada ibu Pertiwi 
Di ujung waktu tempat aksara bermuara 
Kami membaca dan berguru membuka jendela dunia 
Bukan sekedar membaca atau menjaga kata 
Tapi menyalakan lilin di tengah gelapnya semesta

Aku Membaca dan Berguru

Setiap buku yang dibuka adalah harapan 
Bersama baris kalimat dan lembar buku terbaca 
Ada doa yang mengangkasa dan jiwa yang terjaga 
Kami bintang-bintang kecil itu menjadi cahaya 
literasi yang tak padam oleh waktu 
Mengukir ilmu mengubah duka menjadi tawa

Menjadi Kompas di Tengah Badai 

Lelaki hebat dia yang peduli pada sesama 
Di dalam dada yang bising oleh ambisi 
Ada ruang yang sunyi di tempat dunia melunak 
Mendengarkan bukan sekedar bunyi dari bicara 
melainkan meraba retak hati di hati sesama 
Empati adalah jembatan yang kita bangun 

Dari ego yang tinggi menuju jemari yang bertaut 
Saat kau pahami perih dan mimpi mereka 
Kecerdasan sosial bukan topeng kepalsuan 
Dia adalah seni menata rasa dari riak gelombang 
Ketika kamu mampu merangkul perbedaan 

Karena pemimpin sejati tidak lahir dari titah 
Bukan juga dari tingginya takhta yang bertakhta 
Dia adalah mata air dari gersangnya jiwa 
Yang menuntun tampak musti memaksa 
Membawa sejarah memanusiakan manusia

Peduli Bumi tak Butuh Gengsi 

Di antara lipatan kemeja yang rapi 
Pernah bersemayam ego yang tinggi 
Takut jemari kotor ditunjuk mata 
Takut dipandang rendah oleh sesama 
Bukan tugasku bisik gengsi di masa lalu 
Sembari berpaling dari tumpukan pilu 

Namun lihatlah sekeliling kita 
Ketika dunia perlahan renta
Mereka lalu lalang dengan mata buta 
Melempar plastik seolah itu tanpa dosa 
Bumi menjerit di balik beton dan baja 
Sementara masyarakat sibuk menutup telinga 

Hari ini, ku buang gengsi itu ke tempat sampah 
Biar meluap, biar pecah 
Kugulung lengan baju tampak ragu 
Memungut sisa kerakusan yang membatu 
Tak peduli cibiran atau tatapan sinis
Saat melihatku mengais di antara tangis 
Untuk apa? Tanya mereka meremehkan 

Tertawa di balik jendela yang nyaman 
Mereka lupa tanah tempat mereka berpijak 
Sedang sekarat menanti kehancuran yang bijak 
Biar saja aku dianggap gila 
Mengurus sisa yang tak mereka jaga 
Sebab peduli butuh aksi bukan sekedar basa-basi 
Dan mencintai bumi tak butuh selembar gengsi

==

Rahmat Jasinal Ambas adalah alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogja. Penggerak GUSDURian Jogja, juga petani. Ia merintis perpustakaan Bintang Kecil di desa Sugihwaras sebagai ruang literasi bagi masyarakat. Menyukai isu-isu kemanusiaan, lingkungan dan pendidikan. (*)