'Merangkai Kata, Merawat Budaya'; Nyalakan Api Sastra di Generasi Muda
Laporan: Muhammad Taufik
TINAMBUNG--Taman Budaya, Buttu Cipping, Kecamatan Tinambung, jadi lokasi pelaksanaan workshop talenta bahasa dan sastra. UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, dalam inisiasinya mengusung tema 'merangkai kata, merawat budaya'.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari. Dimulai sejak Kamis 21 Mei hingga Jumat 22 Mei 2026. Sejumlah peserta yang datang dari anak didik siswa siswi sekolah tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatannya.
"Kami menghadirkan perwakilan budayawan, pegiat sastra, serta pemerhati budaya pada kegiatan ini. Hal ini juga jadi bentuk dukungan terhadap pengembangan literasi dan pelestarian budaya daerah," tutur Irma Trisnawati, kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat saat di temui di sela-sela seremoni penutupan kegiatan.
Workshop tersebut dihadiri oleh unsur siswa siswa tingkat SMP/MTSN, SMA/SMK, guru bahasa indonesia SMP, SMA, SMK, para kepala sekolah jenjang SMP, SMA, SMK, kalangan mahasiswa, serta dari perwakilan Sekolah Rakyat.
Selain digelar secara luring, UPTD Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat juga membuka sesi diskusi di forum workshop talenta bahasa dan sastra itu via daring. Ruang interkasi di forum tersebut dihadirkan lewat kanal youtube, facebook serta zoom.
Ada tiga pembicara utama di sesi diskusi yang digelar secara daring. Mereka masing-masing sastrawan-antropolog Stanifa Institut Yogyakarta, Bustan Basir Maras lewat materinya berjudul 'caraku menulis konten lokal dalam sastra', M Syariat Tajuddin yang merupakan akademisi sosial budaya dengan materi berjudul 'merangkai kata, merawat budaya', serta Hj Halima yang guru SMAN 1 Polewali lewat materi bertajuk 'penguatan pembelajaran bahasa Indonesia untuk merawat budaya'.
"Kehadiran para tokoh tersebut juga menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan di bidang sastra," sambung Irma.
Dujelaskan Irma, workshop talenta bahasa dan sastra juga jadi ikhtiar pemerintah dalam mengasah minat dan bakat para siswa, guru, serta pegiat sastra lainnya dalam menghasilkan karya sastra yang berkualitas dan memiliki daya saing.
Momentum itu juga jadi ruang belajar dan berbagi pengalaman dalam proses kreatif penulisan karya sastra, wadah pembinaan dan pengembangan potensi peserta di bidang sastra, baik dalam bentuk penulisan maupun apresiasi sastra.
Seperti diketahui, sastra dinilai sebagai salah satu cabang seni budaya yang memiliki peran strategis dalam penguatan karakter, pengembangan daya pikir kritis, serta pelestarian nilai-nilai budaya bangsa.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi dan diskusi mengenai teknik penulisan karya sastra, penguatan identitas budaya melalui sastra, hingga tantangan berkarya di era digital.
Kata Irma, para pemateri juga mendorong generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi, kreativitas, dan kemampuan adaptasi dalam berkarya sastra di tengah perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat.
"Melalui workshop ini diharapkan lahir penulis-penulis muda yang tidak hanya mampu menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga mampu menjaga dan merawat nilai budaya melalui rangkaian kata yang bermakna," pungkas Irma Trisnawati. (*)









