Liminal Dots; Memahami Pulau Karampuang dalam Lanskap Suara
MAMUJU--Tak cuma lukisan, sketsa, dan film. Pameran kesenian bertajuk 'Liminal Dots' juga menghadirkan satu hal yang baru bagi pegiat kesenian di Sulawesi Barat; soundscape atau lanskap suara.
Secara umum, lanskap suara mengajak pengunjung untuk ikut merasakan keindahan dan dinamika sebuah wilayah lewat bunyi-bunyian khas. Dari debur ombak pesisir, hiruk-pikuk percakapan warganya, hingga semilir angin serta aktivitas sosial masyarakat di satu tempat.
Lewat tata suara yang cukup presisi, menggunakan empat buah speaker pasif yang diletakkan di tiap sudut ruangan, para pengunjung dapat merasakan suasana Pulau Karampuang lewat berbagai jenis bunyi yang keluar dari speaker berteknologi double stereo.
"Dari suara mesin kapal, debur ombak, obrolan masyarakat Karampuang, serta berbagai jenis suara yang kami capture. Pengunjung bisa merasakan suasana Pulau Karampuang lewat audio," tutur Adi Hermawan, salah satu tokoh di balik lahirnya soundscape Pulau Karampuang di event Liminal Dots, Jumat (24/04).
Pengunjung Liminal Dots. (Foto/Manaf Harmay)
Merekam kondisi alam serta pergaulan sosial masyarakat Karampuang dalam format audio juga jadi ikhtiar para pegiat kesenian lokal untuk merawat ingatan. Mengabadikan kondisi dan keadaan masyarakat per hari ini.
"Sebab dalam lima atau sepuluh tahun yang akan datang, bukan mustahil suara-suara yang telah kita abadikan itu bakal lenyap. Entah karena takluk oleh modernitas, atau karena faktor lain. File audio ini bisa menjadi arsip sejarah bagi kita. Menjadi pengingat bagi generasi yang akan datang tentang Pulau Karampuang dengan berbagai keasliannya," terang Muhammad Aswad Atjo, inisiator Liminal Dots.
Rangkaian Liminal Dots sendiri dibuka secara resmi oleh Maradika Mamuju, Bau Akram Dai, Rabu 22 April 2025. Event tersebut terbuka untuk umum hingga 25 April 2026 di landscape Mamuju. Gratis. (*/Naf)









