'Rumah, Bumi, Laut', Liminal Dots Dibuka dengan Diskusi Kebudayaan
MAMUJU--Ikhwan Wahid yang seorang sutradara film dari komunitas Pitu Sinema, serta Bustan Basir Maras yang budayawan-antropolog Stanifa Institute Yogyakarta jadi dua pembicara diskusi kebudayaan di rangkaian pembukaan pameran seni bertajuk 'Limanal Dots' yang dipusatkan di landscape Mamuju, Rabu (22/04) sore.
Secara umum, keduanya mengupas perspektif masing-masing apa dan bagaimana nilai serta makna dari apa yang di-capture oleh para seniman tentang koneksi budaya yang menghubungkan pesisir dan pegunungan di Kabupaten Mamuju. Tentang memaknai cerita, kebiasaan, serta berbagai macam bentuk kebudayaan pesisir dan pegunungan yang kini membentuk wajah utama Kabupaten Mamuju.
Bagi Bustan, pesisir dan pegunungan adalah dua segmen kebudayaan utama yang tak boleh lenyap. Sederet keatrifan yang telah hadir sejak dulu, wajib dilestarikan utamanya bagi generasi sekarang.
Bustan juga mengapresiasi gelaran Liminal Dots. Baginya, pameran seni dengan menggabungkan berbagai macam latar belakang kesenian, merupakan sesuatu yang baru di tataran lokal. Sebuah langkah nyata dalam menghadirkan harapan dan semangat berkesenian di Provinsi Sulawesi Barat.
(Foto/Manaf Harmay)
"Saya kira, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Bisa dikatakan pameran dengan kelas seperti ini, sudah menggunakan perspektif audio visual, adalah event pertama di Mamuju. Ini adalah langkah yang sangat baik dan juga revolusioner untuk Bumi Manakarra di masa depan," tutur Bustan Basir.
Liminal Dots sendiri adalah ruang ekspresi bagi sejumlah seniman dari berbagai latar kesenian untuk merekam sekaligus mengejewantahkan apa yang mereka dengar, lihat dan rasakan di kehidupan pesisir dan pegunungan yang ada Kabupaten Mamuju. Setelah selama beberapa waktu sebelumnya, para seniman itu tuntas dengan agenda penelitiannya ke berbagai tempat; Kalumpang, Sampaga serta Pulau Karampuang.
Inisiator Liminal Dots, Muhammad Aswad Atjo menyebut, pesisir dan pegunungan adalam proporsi menarik untuk dijadikan pijakan utama dalam upaya menjaga nilai kebudayaan sekaligus implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.
"Liminal Dots adalah salah satu cara untuk dapat memahami serta membaca Mamuju lewat kisah-kisah dua tradisi dan kebudayaan yang merepresentasikan geografis Mamuju; pesisir dan gunung," beber Aswad Atjo dalam paparannya.
Rangkaian Liminal Dots dibuka secara resmi oleh Maradika Mamuju, Bau Akram Dai. Event tersebut terbuka untuk umum dari 22-25 April 2026 di landscape Mamuju. Gratis. (*/Naf)








