Humaniora

Liminal Dots; Gratis untuk Umum !

Wacana.info
Proses Produksi Karya Seni yang Bakal Dipamerkan di Liminal Dots. (Foto/Aswad Atjo)

MAMUJU--Event budaya bertajuk 'Liminal Dots' bakal digelar mulai Rabu, 22 April 2026 besok. Publik diberi kesempatan seluas-luasnya untuk dapat menikmati, belajar tentang banyak hal tentang koneksi budaya pesisir dan pegunungan yang membentuk wajah utama Mamuju hari ini.

Oleh penyelenggara, event tersebut terbuka secara umum, tanpa biaya alias gratis. Kawasan lanscape Mamuju jadi venue utama event tersebut. Lokasi kegiatan bakal dipenuhi oleh karya seni dari para partisipan Liminal Dots yang sebelumnya telah menuntaskan penelitiannya di Kalumpang, Sampaga dan Pulau Karampuang, Kabupaten Mamuju.

Lewat karyanya, para partisipan itu bakal mengejewantahkan berbagai macam objek, kisah lisan dan cerita turun-temurun masyarakat terkait hubungan erat antara pesisir dan pegunungan yang berlaku di Mamuju lewat berbagai jenis karya seni.

"Insyaallah kegiatannya akan dibuka secara resmi oleh Maradika Mamuju, PYM Bau Akram Dai. Eventnnya sendiri terbuka untuk umum dan gratis," tutur inisiator Liminal Dots, Muhammad Aswad Atjo, Selasa (21/04) malam.

Rencananya, event tersebut bakal digelar hingga 25 April 2026. Selain pameran karya seni, Liminal Dots juga menghadirkan panggung diskusi kebudayaan. 'Rumah, Bumi, Laut' jadi tema diskusinya.

Maradika Mamuju, PYM Bau Akram Dai dan budayawan-antropolog Stanifa Institute Yogyakarta, Bustan Basir Maras akan didaulat sebagai pembicara utama pada diskusi tersebut.

"Di sana juga akan ada pemutaran film hasil residensi berjudul 'Aswadi', sebuah karya dari sutradara Nurul Akbar," sambung Aswad Atjo.

Seperti diberitakan, pesisir dan pegunungan ada;ah dua proporsi utama yang membentuk Kabupaten Mamuju hari ini. Dua segmen itu juga yang memberi warna utama serta karakteristik primer terhadap pola pergaulan sosial masyarakat Mamuju. 

Sebuah komposisi menarik untuk dijadikan pijakan utama dalam upaya menjaga nilai kebudayaan sekaligus implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Deskripsi yang dijadikan alas berpikir oleh Muhammad Aswad Atjo dalam inisiasinya menggelar Liminal Dots. Baginya, Liminal Dots adalah salah satu cara untuk dapat memahami serta membaca Mamuju lewat kisah-kisah (budaya oral) dua tradisi dan kebudayaan yang merepresentasikan geografis Mamuju; pesisir dan gunung. (*/Naf)