Humaniora

Manakarra Kolektif Rayakan Valentine dengan Semangat Kebebasan dan Persatuan

Wacana.info
(Foto/Atjo Aswad)

MAMUJU– Hari kasih sayang tahun ini tak hanya sebatas makan malam romantis, cokelat atau sekuntum bunga mawar saja. Di salah satu sudut kota Mamuju, komunitas anak muda yang menamakan diri Manakarra Kolektif mengubah momentum 14 Februari menjadi panggung kebebasan berekspresi dan persatuan lintas genre.

Lewat gigs yang bertajuk 'Galentine's Riot', Manakarra Kolektif hendak menyuarakan makna cinta dan kasih sayang dari sudut pandang berbeda. Meski sederhana, event yang digelar di Ngalo Rock Coffee itu jadi penegasan tentang makna kasih sayang secara lebih luas. Tak sekadar relasi romantis, tetapi kemanusiaan, persahabatan, solidaritas, serta kemandirian.

Muhammad Saddam Hamzah, salah satu inisiator galentine's Riot menjelaskan, event tersebut merupakan medium perlawanan terhadap stigma sosial yang menempatkan nilai diri pada status hubungan di setiap tanggal 14 Februari.

(Foto/Atjo Aswad)

"Ini tentang selebrasi kebebasan berekspresi, kebersamaan lintas identitas, dan energi kolektif yang menyatukan musik, gagasan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu validasi romantisasi semu," tegas Saddam.

Malam itu, secara bergantian, Aelea, Funfromhate, Toneriots Attack, Revivalis hc, Jetss, Strike Back, Samastah, Hour Foro, Artja, serta Human Error mengisi panggung utama. Para pengunjung pun tampak larut dalam euforia cinta yang menggebu-gebu.

"Kami percaya bahwa gig musik bukan hanya tentang panggung dan suara, tetapi tentang pertemuan rasa, persahabatan, solidaritas, dan kemanusiaan. Sebuah ruang aman untuk saling mendukung, merayakan kesetaraan, serta membangun support system dalam lingkaran skena yang sehat dan produktif," demikian Muhammad Saddam Hamzah.

Melihat langsung deretan band indie lokal di Galentine's Riot malam itu rupanya meninggalkan kesan bagi Restu, salah seorang pengunjung Ngalo Rock Coffee. Melihat sekumpulan anak muda dengan semangat yang ledakan semangat yang begitu menggebu merupakan sesuatu yang mesti diapresiasi.

"Ini membuktikan, Mamuju sama sekali tak krisisi kreatifitas. Melihat mereka secara bergantian menampilkan karya musiknya, bikin saya tak khawatir tentang musikalitas band indie Mamuju. Begitu juga dengan semangat solidaritas yang mereka tunjukkan. Saya kira, hal-hal seperti ini mesti kita apresiasi," tutur Restu. (*/Naf)