Pengabdian yang Paripurna dalam Diri Salim S Mengga
Oleh: Rakhmat (Staf Badan Kesbangpol Sulawesi Barat)
MAMUJU--31 Januari 2026. Tanah Mandar berselimut duka. Langit Sulawesi Barat seperti merunduk, melepas kepergian salah satu putra terbaiknya, Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga.
Kita tidak hanya kehilangan seorang mantan jenderal, bukan hanya kehilangan seorang wakil gubernur. Kepergian beliau adalah kehilangan seorang pengabdi sejati yang detak jantungnya selalu selaras dengan kepentingan rakyat.
Masih segar dalam ingatan kita, Kamis, 20 Februari 2025 yang lalu. Di Jakarta, di hadapan Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, almarhum berdiri tegak. Dengan suara yang lantang dan tatapan mata yang jernih, beliau bersumpah untuk membaktikan sisa hidupnya bagi kemajuan Sulawesi Barat.
Itu bukan sekadar pelantikan politik; itu adalah sebuah janji suci dari seorang prajurit kepada tanah kelahirannya.
Meski takdir hanya mengizinkan beliau memimpin kita dalam waktu yang singkat; tak sampai satu tahun, namun durasi bukanlah ukuran sebuah pengabdian. Almarhum mengajar kita bahwa, kualitas pengabdian tidak diukur dari lamanya menjabat, tetapi dari besarnya hati yang dicurahkan. Bahwa kepemimpinan bukan soal kursi, tetapi soal kehadiran di tengah kesulitan rakyat.
Dalam waktu yang singkat itu, beliau memberikan kita harapan. Beliau berjalan dari desa ke desa, membawa wibawa seorang jenderal, hadir dengan kehangatan seorang ayah.
Beliau membuktikan bahwa meski raga mungkin menua, semangat untuk melihat rakyat yang sejahtera tak pernah pudar.
Beliau pergi saat tugas sedang dijalankan. Beliau wafat 'di garis depan', dalam medan pengabdian sipil yang beliau pilih dengan penuh ketulusan.
Ini adalah cara berpulang yang paling mulia bagi seorang ksatria. Pulang saat sedang memberikan yang terbaik bagi bangsanya.
Selamat jalan, Jenderal. Selamat jalan, wakil gubernur kami. Tugasmu kini telah tunai. Engkau telah meletakkan fondasi integritas yang akan kami jaga.
Engkau telah menyalakan api semangat yang tak akan padam di hati rakyat Sulawesi Barat. Kami melepasmu dengan doa, dengan rasa bangga, dan dengan janji bahwa perjuanganmu untuk malaqbi-nya tanah ini akan terus kami lanjutkan.
Istirahatlah dengan tenang di sisi-Nya. (*)









