Panggilan Baitullah (Bagian I)

Keselamatan Lebih Penting dari Kesempurnaan Ibadah 

Wacana.info
Syamsu Samad. (Foto/Istimewa)

Laporan: Syamsul Samad (Petugas Haji Daerah)
Kloter 24 UPG

MEKKAH--Kurang lebih sudah sepekan para jamaah haji kloter 24 telah berada di Kota Mekkah. Salah satu rukun haji pun telah ditunaikan yakni umroh wajib oleh jamaah kloter 24; jamaah gabungan asal Kabupaten Polman dan Pasangkayu.

Untuk diketahui Jamaah asal Sulawesi Barat tersebar di empat Kloter (Kelompok Terbang). Masing-masing Kloter terdiri dari 450 jamaah. Untuk memudahkan koordinasi, seluruh jamaah di Kloter 24 dibagi ke dalam 11 rombongan dan 34 regu. 

Dalam perjalan dari asrama haji Sudiang ke Bandara Sultan Hasanuddin, para jamaah sudah mengenakan pakaian ihram. Hingga beberapa saat sebelum mendarat di Jeddah saat pesawat berada di atas wilayah Yalamlan, sekitar 45 menit sebelum mendarat, para jamaah mengambil miqat kemudian para jamaah sudah diminta untuk melafadzkan niat sekaligus mulai berlakunya 
sejumlah larangan selama mengenakan pakaian ihram.

Meski dalalm perjalan dari Makassar ke Jeddah, ada satu jamaah Kloter 24 yang tak sempat ikut berangkat bersama rombongan lantaran gangguan kesehatan sesaat sebelum pesawat take off. Tapi Alhamdulillah, sudah sejak empat hari setelah kami tiba di Mekkah, yang bersangkutan sudah bergabung bersama kami, sebelumnya ia ikut dalam penerbangan bersama Kloter 26.

Ada banyak kejadian unik selama melakukan tugas-tugas sebagai petugas haji daerah. Wajar, sebab sebagian besar jamaah di Kloter 24 ini didominasi oleh Lansia, dan hampir sebahagian besar jamaah baru pertama kali melakukan perjalanan ke luar daerah.

Memastikan seluruh jamaah termasuk barang bawaan para jamaah aman, saya jadi yang paling terakhir turun dari pesawat. Di momen itu, ada salah satu jamaah yang tak membawa koper bawaannya. Saya pun menanyakan keberadaan kopernya. Jamaah yang Lansia itu justru menjawab barang bawaannya akan dibawa oleh pramugari turun dari pesawat. Mendengarnya, saya hanya balas dengan senyum dan sedikit candaan. Lalu bergegas kembali ke dalam kepintu pesawat untuk menjemput barang bawaan milik jamaah tersebut.

Evaluasi Para Petugas Haji Daerah. (Foto/Istimewa)

Belum lagi beberapa kejadian unik lainnya ketika di hotel. Misalnya, jamaah yang belum tahu cara membuka pintu kamar hotel, cara menggunakan lift dan seterusnya. Tapi, saat ini, jamaah haji di Kloter 24 ini semua sudah mulai terbiasa termasuk membiasakan selera untuk menyantap makanan yang disiapkan setiap waktu makan.

Umrah wajib yang telah ditunaikan oleh para jamaah Kloter 24 yakni dengan tawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram, minum air zam zam, melakukan Sa'i atau berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah yang jaraknya keseluruhannya sekira 4 Kilometer lebih. Lalu diakhiri dengan tahallul atau menggunting rambut.

Setelah itu, jamaah kembali ke hotel beristirahat menghuni kamar hotel dengan ketentuan jumlah jamaah dalam satu kamar ada yang tiga orang satu kamar, empat orang, bahkan ada yang lima orang dalam satu kamar. Semua demi memudahkan koordinasi kita dengan para jamaah.
 
Selesai dengan ibadah umroh wajibnya, para jamaah sudah bisa melepas pakaian ihram.

Perjalanan dari tanah air ke Mekkah, termasuk umroh wajib yang telah tuntas ditunaikan oleh para jamaah, kondisi fisik jelas terkuras. Belum lagi suhu di Mekkah yang terbilang cukup berbeda dengan kondisi di Sulawesi Barat. Sesuatu yang tentu membuat kondisi jamaah haji kita mulai terganggu.

Betapa tidak, di pukul 11 siang saja, suhu di Makkah itu ada di kisaran 42-44 derajat celsius. Habis salat subuh, suhunya di angka 34 derajat celsius. Panasnya luar biasa.

Kondisi di atas jadi salah satu pertimbangan kami di petugas pendamping jamaah haji untuk mengambil satu kebijakan penting. Dari hasil rapat evaluasi yang kami lakukan, kami sepakat untuk memberlakukan kebijakan yakni membatasi agenda ibadah sunnah oleh para jamaah di Masjidil Haram.

Cukup mudah memang untuk menuju Masjidil Haram, hanya berjarak sekira 7 Kilometer saja dengan lalu lintas bus yang disediakan oleh pemerintah Indonesia yang terbilang cukup memadai.

Petugas Haji Daerah Memastikan Kondisi Kesehatan Jamaah. (Foto/Istimewa)

Hanya saja, kami memberlakukan kebijakan pembatasan itu dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan para jamaah haji sendiri. Kami tidak ingin kondisi jamaah terusik, apalagi kesehatannya sampai terganggu karena kecapean untuk ibadah yang sifatnya sunnah itu. 

Kebijakan yang sama juga kami terapkan untuk ibadah sunnah lainnya, seperti agenda ziarah dan lain sebagainya.

Apalagi, saat ini kondisi kota Mekkah itu sudah sangat padat. Jamaah dari Jeddah, dari Madinah itu sudah ada di Makkah. Di Masjidil Haram sendiri pun begitu, petugas yang ada di sana saat ini sudah mulai memberlakukan sistem buka tutup portal. Maksudnya, kadang jamaah ke Masjidil Haram itu masuk di satu pintu, tapi diarahkan keluar di pintu lainnya. Atau kadang juga dibolehkan salat magrib di satu titik, tapi tidak dibolehkan di titik yang sama untuk salat isya. Yang kita hindari juga dengan kondisi seperti itu adalah potensi terjadinya kasus jamaah yang kesasar.

Prinsipnya, keselamatan jauh lebih utama ketimbang kesempurnaan ibadah.

Segala kebijakan yang kita berlakukan itu sesungguhnya didasarkan pada persiapan kita semua dalam menghadapi rukun haji lainnya yang juga membutuhkan kondisi fisik yang fit lagi prima. Apa itu ?, Wukuf di Arafah.

Alhajjul Arafah; Haji itu di Arafah

Insya Allah, para jamaah akan bergeser menuju Arafah itu pada tanggal 8 Zulhijjah atau mungkin bertepatan tanggal 15 Juni 2024. Para jamaah dituntut untuk berada dalam kondisi yang prima dalam menjalani salah satu rukun haji itu. Apalagi akan ada sejumlah ibadah yang mesti dilalui oleh para jamaah yang menurut pengalaman orang-orang yang telah berhaji itu jamaah akan berjalan kaki kurang lebih sepanjang tujuh Kilometer dari tenda Mina menuju pelontaran jumrah di Jamarat sebanyak tiga kali atau tiga hari berturut turut.

Ibadah wajib yang jelas membutuhkan ketahanan fisik yang kuat dari para jamaah, sehingga kita mengambil kebijakan dan disampaikan ke masing-masing ketua rombongan dan ketua regu bahwa diminimalisir dulu jamaah untuk keluar hotel, termasuk ke Masjidil Haram. Takutnya fisiknya terganggu karena kelelahan dan seterusnya. 

Khusus untuk kloter 24, jamaah kita sarankan untuk lebih banyak di hotel saja. Salat berjamaahnya cukup di hotel saja, sebab juga disiapkan mushallah yang representatif. 

Secara umum, kondisi jamaah untuk Kloter 24 dalam keadaan yang baik-baik saja. Meski ada satu jamaah asal Campalagian, Polman beberapa hari yang lalu terpaksa harus dirujuk ke RS. Alhamdulillah hari ini sudah bergabung dengan rombongan.

Ada juga satu jamaah, juga dari Campalagian yang juga kita rujuk. Insya Allah besok juga sudah bisa keluar dan bergabung dengan jamaah lainnya. Rata-rata memang karena keluhan kelelahan, sesak nafas, serta keluhan lainnya yang memang rata-rata dikeluhkan oleh Lansia. (*)