Salurkan Sejumlah Bantuan, Bentuk Kepedulian Wartawan untuk Pengungsi asal Mamasa

Wacana.info
Sejumlah Bantuan yang Disalurkan Wartawan untuk Pengungsi Asal Mamasa. (Foto/Manaf Harmay)

MAMUJU--Gereja Toraja Mamasa yang terletak di desa Pokkang, Kalukku, Mamuju sejak tiga pekan terakhir dijadikan tempat posko pengungsian oleh sekira 130 jiwa eksodus asal Mamasa.

Sebagian besar dari mereka memilih untuk bertahan jauh dari kampung halamannya lantaran masih trauma atas goncangan gempa yang terus menggoyang Mamasa dalam beberapa waktu terakhir.

Untuk bertahan hidup, para pengungsi hanya mengandalkan bantuan dari pihak gereja baik yang ada di Kalukku, maupun yang datang dari kota Mamuju.

Kamis (22/11) sore, sejumlah wartawan dari Ikatan Jurnalis Sulbar (IJS) berkesempatan menyambangi posko pengungsian yang terletak kirajg lebih 10 Kilometer dari jalan poros trans Sulawesi itu.

Dalam kunjungannya tersebut, para wartawan juga mewujudkan kepeduliannya atas derita para pengungsi dengan menyalurkan sejumlah bantuan. Mulai dari beras, mie instan, air kemasan, hingga popok untuk anak disalurkan IJS bagi para pengungsi.

"Bantuan ini semata- mata karena persoalan kemanusiaan. Tidak ada motif lain," ujar ketua IJS, Irham Azis usai menyerahkan bantuan.

Di tempat yang sama, ketua Majelis Jemaat Gereja, Romelius mengaku, 130 jiwa yang masih bertahan di pengungsian dan hingga kini masih sangat membutuhkan bantuan.

"Ini sementara bantuan sumbangan dari beberapa gereja-gereja yang ada di Mamuju dan dari pemerintah desa Pokkang. Untuk dari pemerintah belum ada yang masuk, masih berusaha," begitu kata dia.

Oleh pengungsi, salah satu bangunan di kompleks gereja Toraja Mamasa tersebut dimanfaatkan sebagai dapur umum. Sementara untuk menginap, beberapa warga sekitar rela berbagi dengan mengizinkan para pengungsi untuk menginap di rumah-rumah penduduk.

"Keputusan kami semua pengungsi kami layani di satu dapur umum. Kami bikin nasi bungkus di sini," cetus Romelius. (Keto/B)