Jalan-Jalan Utama di Kota Palu Mulai Dipadati Kendaraan, Ini Buktinya

Wacana.info
Salah Satu Ruas Jalan Utama di Kota Palu Mulai Ramai. (Foto/Mursyid Syathir)

PALU--Kurang lebih sebulan sejak tragedi bencana gempa, tsunami dan likuefaksi yang menghantam Palu Sulawesi Tengah, kondisi 'Mutiara di Khatulistiwa' itu kini berangsur-angsur mulai membaik.

Pantauan langsung WACANA.Info, Kamis (1/11), akses jalan utama di kota Palu seluruhnya sudah dapat dilalui. Bahkan sejumlah jalan tampak dipadati kendaraan. Aktifitas perkantoran juga sudah mulai aktif, hingga pasokan listrik dan jaringan komunikasi kini telah pulih secara keseluruhan.

Area terdampak gempa dan tsunami seperti di jalan Cumi-Cumi, Taman Ria Palu Barat dan di Jalan Diponegoro mulai dibersihkan. Di area ini, nampak puluhan alat berat aktif bekerja meratakan bangunan roboh sembari berupaya mengangkat puing jembatan Ponulele Palu IV (Jembatan Kuning) yang ambruk dari dasar sungai.

"Kalau pulih totalnya butuh waktu bertahun-tahun untuk kembali seperti semula. Sekarang ini kami pemerintah juga berfokus melakukan pendataan bagi warga kita yang menjadi korban. Baik itu yang ada di pengungsian, maupun yang sempat meninggalkan kota Palu. Kita berupaya semaksimal mungkin," terang Camat Ulujadi, Nawab Kursaid.

Di sejumlah sudut kota Palu, roda perekonomian juga mulai berputar. Itu terbukti dengan ramainya aktifitas perekonomian di berbagai pusat pertokoan seperti di Jalan Imam Bonjol, Pasar Inpres Palu, Transmart Palu di Jalan Mohammad Hatta Palu Selatan. Pun dengan sejumlah rumah makan serta minimarket yang mulai berperasi kembali di titik.

Untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah juga terpantau sudah mulai berjalan. Meski siswa-siswi dan guru terpaksa berinteraksi di tenda darurat di halaman sekolah yang terdampak gempa cukup parah. Sementara di Universitas Tadulako pun dikabarkan bakal membuka kegiatan belajar mengajar mulai 4 November 2018 mendatang.

Di balik itu, posko pengungsian bagi korban likuefaksi masih berdiri kokoh. Seperti di titik pengungsian Balaroa dan Petobo. Para pengungsi masih bertahan di bawah tenda pengungsian sembari menunggu relokasi ke tenda layak huni bantuan dari berbagai negara maupun pengerjaan hunian sementara (Huntara) oleh pemerintah yang saat ini mulai dibangun disekitar lokasi pengungsian.

"Sudah itu pilihan, tidak mungkin balik ke rumah lagi. Bagaimana rumahnya sudah ditelan lumpur kan, sudah tidak ada lagi. Huntara satu-satunya solusi," ungkap Akbar, warga Balaroa. (Uci/A)