Renovasi Anjungan Pantai Manakarra; Antara Estetika, Agama atau Politik

Wacana.info
Proses Renovasi Anjungan Pantai Manakarra. (Foto/Manaf Harmay)

MAMUJU--Langkah pemerintah kabupaten Mamuju yang akhirnya membongkar salah satu bagian Anjungan Pantai Manakarra belakangan menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

Tak bisa dipungkiri, polemik seputar desain Anjungan Pantai Manakarra diawali dari dinamika publik di sosial media tentang salah satu bagian di Anjungan yang dianggap menyerupai simbol mata satu dan diartikan sebagai simbol dajjal. Sangkaan tersebut juga sempat hangat di ruang perbincangan publik Mamuju beberapa tahun silam.

Singkat cerita, sejak Kamis kemarin, satu unit excavator milik dinas PU kabupaten Mamuju pun memulai aktivitasnya, membongkar bagian Anjungan yang dianggap menyerupai simbol dajjal tersebut.

Tentang proses renovasi salah satu icon kota Mamuju itu, Bupati Mamuju, Habsi Wahid menjelaskan, pihaknya mengedepankan aspek estetika dalam upaya penyempurnaan Anjungan Pantai Manakarra. Menurut dia, ada sejumlah bagian pada bangunan yang dicetus di era kepemimpinan Suhardi Duka di Mamuju itu yang tak lagi berfungsi normal.

"Kemudian bagaimana kenyamanan para pengunjung atau keluarga atau masyarakat Mamuju yang mau berekreasi di sana. Di sana itu, drainase sudah rusak, kemudian terjadi pencemaran-penemaran karena rupanya kolam itu ketika hujan itu tergenang air dan tidak ada pembuangan," terang Habsi saat di hadapan sejumlah awak media dalam sebuah agenda di DPRD Mamuju, Jumat (12/10).

Bupati Mamuju, Habsi Wahid. (Foto/Manaf Harmay)

Meski mengedepankan nilai estetika dalam merenovasi Anjungan Pantai Manakarra, Habsi pun tak menampik, bahwa proses pembongkaran bagian di Anjungan itu juga dipengaruhi oleh penilaian sebagian masyarakat seputar simbol dajjal yang diklaim terpampang jelas di sana.

"Kalau dari sisi agama, tentu publik akan bisa memberikan persepsi tentang itu. Contohnya, gambar-gambar yang mata itu. Itu tergantung orang yang memberikan persepsinya. Ketika itu dibongkar, yah tentu sudah hilang. Sudah tidak ada simbol itu," sambung Habsi.

"Kalau memang itu menguntungkan untuk masyarakat, kenapa kita tidak dengar. Tetapi sekali lagi saya katakan bahwa pertimbangan kita untuk melakukan perubahan di sana adalah kita ingin merubah jadi lebih baik. Supaya di sana dirasakan betul oleh masyarakat," urai pria yang juga ketua DPW NasDem Sulawesi Barat itu.

Mata Satu, Dajjal dan Islam

Urusan mata satu yang oleh sebagian orang dianggap mirip dajjal di atas, mendapat tanggapan dari ketua MUI Mamuju, Namru Asdar. Namru meyakini, tak ada unsur kesengajaan oleh pihak mana pun dalam hal simbol mata satu yang diartikan dajjal tersebut di Anjungan Pantai Manakarra. 

Menurut dia, baik itu pemerintah kabupaten sebelumnya, atau dari pihak desainer dan pekerja bangunan, sama sekali tak menyimapn niatan untuk dengan sengaja membuat bentuk Anjungan hingga menyerupai simbol-simbol tertentu.

"Ini hanya semacam desain mencontoh saja daerah dan di beberapa negara lain. Mungkin contoh itu oleh desainer tanpa sengaja dan tidak ada niatan untuk simbol itu," kata Namru.

Masih oleh Namru, dalam Islam, simbol mata satu tak harus ditafsirkan sebagai dajjal. Jauh sebelum Islam datang, simbol mata satu itu telah dikenal di peradaban Mesir kuno.

Ketua MUI Mamuju, Namru Asdar. (Foto/Istimewa)

"Simbol ini memang sejak dulu ada sebelum Islam datang. Mesir Kuno dengan Dewa Matahari. Jadi sebelum Islam datang sudah ada, sebelum dajjal diperkenalkan oleh Nabi Muhammad Sallahu ‘Alaihi Wasallam,” urainya.

Jika sebagian publik kemudian melabeli desain Anjungan sebagai simbol dajjal, Namru menilai hal tersebut terlalu berlebihan. Sebab di benak dia, tak ada tempat bagi pengikut dajjal di 'Bumi Manakarra' ini.

"Saya hanya menduga orang hanya mengaitkan dan mebesar-besarkan saja. Saya kira ini dilebih-lebihkan. Hanya orang yang membuat statemen dan mengaitkan sebagai pembeda saja antara Islam dan orang yang mengikuti aliran yang meyakini itu," pungkas Namru Asdar.

Apa Kata Politisi di DPRD ?

Renovasi Anjungan Pantai Manakarra itu faktanya juga menyerempet ke urusan yang sifatnya poitis. Beragam diskusi di sosial media dengan sebegitu cepatnya menggiring polemik tersebut ke ranah politik, terlebih jelang pelaksanaan Pemilu 2019.

Sejumlah politisi di DPRD Mamuju pun ikut bersuara membeberkan pandangannya seputar renovasi bangunan yang diresmikan Suhardi Duka medio 2015 silam itu. Muhammad Bakri Bestari salah satunya.

Politisi PKB itu menilai, kalau hanya karena alasan estetika, pemerintah idealnya tak harus sampai membongkar salah satu bagian di Anjungan Pantai Manakarra itu. Masih ada cara lain yang, kata Bakri, jauh lebih efektif, jauh lebih efisien untuk menyelesaikan persoalan bau, sampah, atau pertimbangan estetika lainnya.

"Kalau alasan kotor dan busuk, saya kira tidak perlu dibongkar. Cukup dibersihkan. Buktikan bahwa gerakan Mamuju Mapaccing bukan cuma jargon. Kasihan uang rakyat yang dipakai untuk membangun Anjungan Pantai Manakarra dengan segala propertinya," tutur politisi PKB yang belum lama ini dilantik sebagai anggota DPRD Mamuju itu.

Muhammad Bakri Bestari. (Foto/Net)

Membongkar bagian di Anjungan, kata Bakri, mestinya dijadikan opsi terakhir oleh pemerintah jika memang berkeinginan untuk membuat salah satu icon kota Mamuju itu jadi lebih indah. Pun dengan anggapan publik tentang simbol dajjal yang katanya terlihat jelas di Anjungan, Bakri menganggapnya, tak perlu direspon secara reaktif oleh pemerintah kabupaten Mamuju.

"Harusnya dibicarakan dulu. Jangan panik. Karena saya yakin, desainernya masih bisa diajak bicara. Begitu pula pemerintah sebelumnya. Semua masih bisa diajak bicara," tutup Muhammad Bakri Bestari.

Setali tiga uang, anggota DPRD Mamuju dari partai Hanura, Hapisah Ayyub juga menilai, merenovasi Anjungan Pantai Manakarra dengan pertimbangan sampah, bau, atau beberapa sistem drainase yang sudah tak berfungsi itu merupakan kebijakan yang terlampau terburu-buru.

Kata dia, masalah bau yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah tersebut juga bisa 
diatasi dengan membersihkan sampahnya. Termasuk dengan memperbaiki bagian yang sudah dianggap tak bergungsi normal, bukan justru langsung merenovasinya.

"Nah seharusnya memang setiap bangunan, apalagi kalau itu untuk publik, hendaknya disertai dengan biaya perawatan. Ini lah yang agak kurang saya lihat. Di sini ada kelemahan dan kami menyarankan agar setiap ada program misalnya untuk ruang publik, bukan hanya sekedar dibangun, tetapi tetap juga ada biaya kelanjutannya seperti untuk perawatannya," terang Hapisah.

Hapisah Ayyub. (Foto/Manaf Harmay)

Hapisah juga menyesalkan cara penerimaan informasi seputar simbol dajjal yang disebut begitu jelas tampil di Anjungan Pantai Manakarra. Menurut dia, semua pihak hendaknya bisa lebih dewasa, bisa lebih jeli dalam menanggapi isu-isu seperti itu.

"Saya kira pemerintah tidak perlu mendengarkan anggapan seperti itu. Itu hanya hoaks. Kalau misalmya itu disebut mirip dajjal, emang kita pernah melihat dajjal ?. Jadi janganlah kita ini terlalu terburu-buru mengabil kebijakan. Yang seharusnya masih ada kebijakan lain yang harus kita perhatikan, masih banyak pembangunan yang lebih perlu kita sentuh," tutup Hapisah Ayyub.

Usul Rp. 500 Juta di Tahun 2019

Apapun perdebatannya, kini proses renovasi Anjungan Pantai Manakarra itu telah dimulai. Untuk tahap awal, pemerintah kabupaten Mamuju hanya akan meratakan plus menimbun bagian Anjungan yang dianggap merusak nilai estetika itu, yang menimbulkan bau dan yang jadi tempat air tergenang.

"Solusinya kita bongkar untuk penataan ulang. Yang jelas kolamnya ditutup. Nah untuk sementara ini, setelah kita bongkar, orang sudah bisa duduk-duduk disekitar landmark 'Pantai Manakarra' itu," ungkap Kadis PU Mamuju, Salihi Saleh.

Salihi Saleh menyebut, proses renovasi Anjungan Pantai Manakarra memang sudah sejak lama menjadi kajian pemerintah. Alasannya, agar ruang publik itu bisa dinikmati masyarakat tanpa terganggu bau tak sedap akibat sampah, atau akibat air yang tergenang.

"Jadi, tindaklanjutnya itu yah harus dibongkar, kemudian kolamnya ditutup. Tidak ada lagi air. Kalau perahu yang ada di sana itu akan diamankan sementara, sambil menyelesaikan perencanaannya, 2019 kita akan tempatkan itu perahu pada sisi sesuai dengan hasil desainnya nanti," sambungnya.

Kadis PU Mamuju, Salihi Saleh. (Foto/Manaf Harmay)

Rencananya, wajah baru Anjungan Pantai Manakarra akan hadir di tahun 2019 mendatang. Kata Salihi Saleh, pihaknya menyiapkan anggaran sebesar Rp. 500 Juta untuk mewujudkan wajah baru Anjungan Pantai Manakarra.

"Sekarang ini sudah mulai direncanakan. Tahun 2019 nanti masuk itu sudah jalan kegiatannya. Saya hanya melihat bahwa kolam ini harus ditutup dan bisa orang tinggal di situ duduk-duduk, bercengkrama, memandang-mandang," cetusnya.

Ditanya soal apakah ada opsi lain selain membongkar kolam di Anjungan untuk menyelesaikan persoalan bau itu, Salihi Saleh menyebut jalan satu-satunya untuk menuntaskan masalah tersebut hanya dengan membongkar, tidak ada yang lain.

"Persoalannya ini, airnya tidak mengalir, buntu. Apalagi, kolamnya itu dalam. Itu kolam itu kan komponennya banyak, ada instalasi di dalamnya, nah semua itu suda tidak berfungsi. Termasuk ada lampu-lampu di dalamnya itu yang juga tidak berfungsi. Jadi memang harus dibongkar dan ditimbun supaya tidak adal lagi airnya dan tidak berbau lagi," kata dia.

"Penganggarannya sendiri, kita akan usulkan nanti dalam APBD tahun 2019. Sekrang ini sudah dimulai proses desainnya. Yang sekarang ini, penganggarannya itu sifatnya hanya bentu tugas pokok dan fungsi dinas PU yang tidak mungkin membiarkan. Kita ini kan pelayanan, tidak mungkin ada keluhan itu kita tidak layani. Itu tugas pokok dan fungsi. Tidak mungkin orang yang bukan tugasnya itu kemudian menangani ini, tidak mungkin. Untuk yang akan datang, kita lagi desain yang tentunya akan jauh lebih baik lagi. Yah kurang lebih setengah Miliar lah, kurang lebih yah. Semangatnya kita untui menghadirkan ruang publik yang nyaman lah," simpul Salihi Saleh. (Naf/A)