Isteri Akbar Baru Pulang, Tak Sempat Lihat Jasad Suami
MATENG--Isteri Almarhum Akbar (25), Munaria baru tiba di Karossa, Mamuju Tengah, Jumat (31/03). Ia tak sempat melihat jasad suaminya yang sebelumnya harus meregang nyawa akibat dimangsa ular phyton.
Saat peristiwa yang akhirnya merenggut nyawa Akbar, Munaria memang sedang berada di kampung halamannya di Palopo. Bahkan, hingga jenazahnya dikebumikan, Munaria sedikitpun tak tahu menahu ihwal musibah yang menimpa suami tercintanya itu.
Seperti diberitakan sebelumnya, saat Akbar meninggal, keberadaan Munaria diketahui sedang berada di tanah kelahirannya di salah satu desa terpencil di Palopio. Kerabat Akbar sama sekali tak bisa memberi tahu Munaria perihal peristiwa itu lantaran di tempatnya tak ada signal.
Munaria akhirnya mengetahui kabar duka tersebut dari penyampaian adiknya, Rusdi yang kuliah di Palopo.
“Karena dia dapat telpon dari tante di Samarinda, waktu malam Rabu. Jadi dia yang masuk kasi tahu ka," ungkap Munaria seperti dikutip dari portal berita tribunnews.com.
Akbar, akhirnya meninggal dunia setelah tak kuasa melawan ganasnya ular phyton di kebun kelapa sawit miliknya. Dari informasi yang dihimpun, rupanya Akbar sedang mengumpulkan uang untuk menjemput sang isteri di Palopo.
Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Desa Salubiro, Karossa, Mamuju Tengah, Junaedi menuturkan, Munaria sebelumnya memang telah berada di kampung halamannya di salah satu desa di Palopo.
Ia memutuskan untuk melahirkan buah hatinya di sana.
"Jadi sebenarnya sudah pulang waktu Januari kemarin. Tapi setelah umur anaknya itu sudah ada satu bulan, isterinya kembali lagi ke Palopo. Sampai sekarang belum pulang. Kerabat di sini tidak bisa hubungi isterinya Pak, di kampungnya isterinya itu tidak ada signal. Jadi ia belum tahu kabar ini," tutur Junaedi Selasa (28/03) lalu.
"Jadi Akbar pergi panen sawit itu karena memang telah berencana untuk menjemput isterinya di Palopo. Hasil dari panen sawitnya itu Pak yang rencananya akan dia pakai untuk jemput isterinya," kata Junaedi.
Akbar harus lebih dulu menghadap Sang Khalik. Ia meninggalkan satu isteri dan dua anak.
"Anak pertamanya berusia lima tahun,sementara anak keduanya baru berusia tiga bulan," ujar ayah Akbar, Ramli seperti dikutip dari tribunnews.com.
Tiga bulan sebelum kematiannya, Akbar mengantar Munaria ke Palopo. Setelah 10 hari kelahiran anak kedua mereka, Akbar kembali ke Salubiro mengais nafkah.
“Mau sekali lihat itu anaknya yang bayi, karena Akbar tinggalkan saat bayi berusia 10 hari, tapi,” kata Ramli, menangis.
Akbar, di mata keluarga, adalah sosok pendiam.
"Sabar sekali ini Akbar, pendiam," kata Ramli.
"Karena sabarnya, dia tidak pergi cari kerja. Jadi saya suruh saja kerja sawit karena dia tidak tahu pergi cari kerja," sambungnya.
Di mata keluarga, ada yang 'aneh' jelang kematian Akbar. Gelagat Akbar dianggap lain ketika berangkat dari rumah ke kebun sawit, dusun Pangerang, desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Minggu (26/3) pagi.
"Barusan (Akbar) ini tidak bawa HP (handphone) sama naik motor,” kata paman Akbar, Adhan Andi Sirajuddin (45) yang ditemui di rumah duka, Desa Salubiro, kemarin.
Jarak antara rumah dan kebun almarhum tidaklah dekat, namun baru ketika itu jalan kaki.
“Jadi, (Akbar) jalan kaki menuju kebunnya, sejauh satu kilometer lebih," tutur Adhan.
Pria dua anak yang dikenal pendiam itu rupanya pergi untuk selamanya.
Senin (27/3) malam, setelah dicari puluhan warga, Akbar ditemukan tak bernyawa di perut ular piton raksasa 7,1 meter di kebunnya, tersebut.(*/Naf)









