OPINI

Haedar Nashir dan Seni Menjadi Besar Tanpa Harus Terlihat Besar

Wacana.info
(Foto/Net)

Oleh: Nur Salim Ismail (Ketua FKUB Sulawesi Barat)

Ada orang yang tampak besar karena segala sesuatu di sekelilingnya terlihat megah. Ada pula orang yang memperlihatkan kebesaran melalui kesanggupannya menjalani kehidupan dengan bersahaja. 

Pada sosok Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saya menemukan sesuatu yang begitu menarik untuk direnungkan: kebesaran yang tidak kehilangan kesederhanaan.

Beliau memimpin Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam yang telah berkembang menjadi kekuatan besar dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Di balik gerakan itu, berdiri ribuan satuan pendidikan, ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit, serta jaringan amal usaha yang menghidupi semangat pengabdian kepada umat dan kemanusiaan.

Namun, yang membuat saya takjub bukan semata-mata besarnya organisasi yang beliau pimpin. Ada sesuatu yang terasa lebih mendalam, lebih sunyi, dan lebih menyentuh; cara beliau menempatkan dirinya di tengah kebesaran itu.

Bayangkan seorang pemimpin organisasi besar yang tetap nyaman menjalani kehidupan sederhana. Duduk sendirian di stasiun kereta, membawa kardus oleh-oleh yang diikat tali rafia, dengan koper yang tampak telah lama menemani perjalanan. 

Pemandangan semacam itu mungkin terlihat biasa. Akan tetapi, di dalam kesederhanaan tersebut, tersimpan pelajaran tentang cara seseorang memahami dirinya, menjalani amanah, dan memaknai kehidupan.

Saya melihat sebuah pesan yang indah; jabatan tidak harus mengubah cara seseorang memandang dirinya. Menjadi pemimpin tidak mengharuskan seseorang kehilangan kebiasaan hidup bersahaja. Kebesaran tanggung jawab dapat berjalan seiring dengan kesederhanaan pribadi.

Di situlah saya merasa perlu berhenti sejenak, merenungkan sosok Haedar Nashir.

Kita hidup dalam zaman yang begitu dinamis. Kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup, dan perkembangan masyarakat telah menghadirkan beragam cara manusia mengekspresikan keberhasilan. Di tengah semua itu, kesederhanaan tetap memiliki tempat yang istimewa. Ia mengingatkan kita bahwa kualitas manusia tidak hanya bertumbuh melalui apa yang berhasil diraih, tetapi juga melalui cara ia memperlakukan apa yang telah dimilikinya.

Kesederhanaan yang bernilai bukan semata-mata tentang sedikitnya sesuatu yang dimiliki, melainkan tentang kebijaksanaan dalam menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.

Saya membayangkan bahwa kesahajaan seorang pemimpin seperti Haedar Nashir dapat menjadi ruang belajar bagi banyak orang. Bukan untuk meniru setiap detail kehidupan pribadinya, melainkan untuk menangkap nilai yang mendasarinya; kecukupan, kedisiplinan, efisiensi, dan kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memenuhi keinginan pribadi.

Ada keindahan tersendiri ketika seseorang tidak kehilangan kesederhanaannya setelah memperoleh kepercayaan yang besar. Sebab, semakin luas tanggung jawab yang dipikul, semakin penting pula kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri dan kepentingan yang lebih besar.

Di sini, saya melihat kesederhanaan sebagai bentuk kematangan batin.

(Foto/Net)

Orang yang matang tidak selalu merasa perlu menambahkan sesuatu pada dirinya untuk merasa berharga. Ia mampu menikmati kecukupan, menghargai hal-hal kecil, dan menemukan makna dalam pekerjaan yang mungkin tidak selalu tampak oleh banyak orang. Ia memahami bahwa hidup yang baik tidak semata-mata ditentukan oleh kemudahan yang dinikmati, tetapi juga oleh manfaat yang dapat diberikan.

Yang lebih menarik, kesederhanaan Haedar Nashir tidak membuat pemikirannya menjadi sederhana dalam arti dangkal.

Beliau dikenal sebagai intelektual yang terus berbicara tentang Islam, kebangsaan, kemanusiaan, dan masa depan peradaban. Dalam kepemimpinannya, Muhammadiyah terus mengembangkan peran melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, serta pemikiran keislaman yang berkemajuan.

Di sini terdapat pelajaran yang penting; seseorang dapat menjalani kehidupan pribadi dengan bersahaja sambil memelihara pikiran yang luas, visi yang jauh, dan cita-cita yang besar.

Kesederhanaan tidak harus mempersempit cakrawala. Justru, ketika seseorang mampu mengelola kebutuhan pribadinya secara bijaksana, ia memiliki kesempatan untuk memberikan perhatian lebih besar kepada gagasan, pekerjaan, dan pengabdian.

Barangkali, salah satu keistimewaan Haedar Nashir terletak pada kemampuannya mempertemukan dua hal yang sering dipahami secara terpisah; kesahajaan dalam kehidupan pribadi dan keluasan dalam pemikiran.

Beliau mengingatkan bahwa peradaban berkemajuan tidak hanya dibangun melalui gagasan besar dan institusi yang kuat. Peradaban juga tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Saya teringat pada pentingnya menghemat air ketika berwudu. Dalam pandangan sepintas, hal itu merupakan perkara sederhana. Namun, bukankah kesadaran terhadap hal-hal kecil merupakan bagian penting dari pembentukan karakter ?.

Air yang digunakan secukupnya, waktu yang dikelola dengan disiplin, fasilitas yang dirawat dengan baik, dan sumber daya yang dimanfaatkan secara efisien merupakan bagian dari etika kehidupan yang berkemajuan.

Kita sering membicarakan perubahan besar, sementara kebiasaan-kebiasaan kecil terkadang belum memperoleh perhatian yang memadai. Padahal, kualitas kehidupan bersama sangat dipengaruhi oleh keputusan-keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari.

Dalam konteks ini, hidup hemat bukan berarti menutup diri dari kenyamanan. Hidup hemat adalah kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, kemudian mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Produktivitas pun bukan sekadar banyaknya aktivitas, melainkan sejauh mana waktu, tenaga, pikiran, dan sumber daya menghasilkan manfaat.

Kesederhanaan, dengan demikian, bukan sekadar pilihan gaya hidup. Ia merupakan bagian dari etika yang dapat membentuk pribadi produktif, organisasi yang sehat, dan masyarakat yang lebih bertanggung jawab.

Muhammadiyah memberikan pelajaran penting tentang bagaimana gagasan dan pengabdian dapat dilembagakan menjadi gerakan yang luas. Keberadaan berbagai amal usaha Muhammadiyah menunjukkan bahwa nilai keislaman dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata yang manfaatnya dirasakan masyarakat.

Dalam perjalanan panjang sebuah organisasi, tentu terdapat kontribusi banyak orang, tradisi yang terpelihara, serta kerja kolektif yang tidak sederhana. Karena itu, kebesaran Muhammadiyah patut dipahami sebagai hasil pengabdian bersama yang terus diwariskan dan dikembangkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Haedar Nashir menarik untuk direnungkan. Seorang pemimpin tidak hanya bertugas mengelola apa yang ada pada hari ini, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang memungkinkan sebuah gerakan bertahan dan bertumbuh pada masa depan.

Kesederhanaan pribadi dapat menjadi bagian dari keteladanan itu. Ia menghadirkan pesan bahwa amanah yang besar dapat dijalani dengan sikap yang wajar, pertimbangan yang matang, dan kesadaran untuk terus belajar.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang harus menjalani pola hidup yang persis sama. Setiap manusia memiliki kebutuhan, keadaan, dan tanggung jawab yang berbeda. Yang dapat kita pelajari dari sosok Haedar Nashir adalah nilai yang lebih mendasar; kemampuan menjaga proporsi, memelihara kecukupan, dan menempatkan pengabdian sebagai bagian penting dari tujuan hidup.

Barangkali, di sinilah letak daya tarik kesederhanaan yang sesungguhnya. Ia tidak hadir untuk meminta perhatian, tetapi justru mengundang orang lain untuk berpikir. Ia tidak perlu disampaikan melalui banyak kata, sebab maknanya dapat terasa melalui kebiasaan yang dijalani secara konsisten.

Saya membayangkan, kehidupan yang berkemajuan membutuhkan lebih banyak pribadi yang mampu mempertemukan keluasan ilmu dengan kerendahan hati, kecakapan memimpin dengan kesediaan belajar, serta keberhasilan dengan rasa syukur.

Haedar Nashir memberikan inspirasi tentang kemungkinan itu. Melalui kesahajaan yang diperbincangkan banyak orang dan pemikiran yang terus menghidupkan percakapan tentang Islam serta kebangsaan, beliau menghadirkan gambaran bahwa kebesaran dapat tumbuh tanpa harus menghilangkan kewajaran hidup.

Pada akhirnya, saya merasa bahwa pelajaran terpenting dari sosok beliau bukanlah tentang kardus oleh-oleh, koper yang usang, atau perjalanan tanpa kemewahan. Semua itu hanyalah gambaran kecil dari sesuatu yang lebih dalam.

Pelajaran itu terletak pada cara kita memaknai kehidupan; bahwa semakin banyak yang dipercayakan kepada seseorang, semakin besar pula kesempatan baginya untuk menumbuhkan manfaat. Bahwa keluasan pengetahuan semestinya berjalan bersama kerendahan hati. Bahwa kemajuan tidak harus membuat manusia kehilangan kesanggupan menikmati kesederhanaan.

Dan barangkali, inilah seni menjadi besar yang sesungguhnya: membiarkan pikiran tumbuh luas, pengabdian menjangkau jauh, dan hati tetap bersedia hidup bersahaja.

Sebab, pada akhirnya, kebesaran seseorang tidak hanya tercermin dari luasnya pengaruh yang ia miliki, tetapi juga dari ketenangan dirinya dalam menjalani kehidupan, kejernihan pikirannya dalam melihat persoalan, dan manfaat yang terus tumbuh dari pengabdiannya.

Di tengah dunia yang terus bergerak menuju kemajuan, sosok Haedar Nashir mengingatkan kita bahwa manusia tetap membutuhkan kesederhanaan agar tidak kehilangan arah, keluasan pikiran agar tidak berhenti bertumbuh, dan pengabdian agar hidupnya memiliki arti. (*)