Patut Dicontoh, Desa Bambamanurung Deklarasikan Zero ATS
MATENG--Bambamanurung Zero ATS (Anak Tidak Sekolah). Sebuah jargon yang dibunyikan Pemerintah Desa Bambamanurung, Kecamatan Topoyo, Mamuju Tengah lewat satu inovasi yang dinamai BTPS alias Bambamanutung Tak Putus Sekolah.
Deklarasi Bambamanurung Zero ATS pun dilakukan sekaligus jadi penanda atas gerakan memberantas ATS khususnya di wilayah Desa Bamba Manurung. Nanang Wahidin, kepala desa Bambamanurung menjelaskan, deklarasi zero ATS merupakan agenda seremoni yang dimaksudkan sebagai ajang evaluasi untuk kerja-kerja pemerintah desa yang bekerja sama dengan PKBM Rams Setara dalam memberantas ATS.
"Sekaligus menyampaikan ke publik dan memberikan semangat tersendiri kepada kami sebagai inovator agar zero ATS di tahun ini bisa menjadi beban kami secara moril untuk dipertahankan di masa-masa yang akan datang," tutur Nanang Wahidin kepada WACANA.Info, Kamis (10/09).
Dalam menjalankan program tersebut, pemerintah Desa Bambamanurung menggandeng sejumlah pihak. Selain dengan PKBM Rams Setara, keterlibatan dinas pendidikan Kabupaten Mamuju Tengah serta dari dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Sulawesi Barat jadi kunci utama jalannya misi itu.
"Apresiasi yang besar atas pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi dalam hal ini dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, khususnya untuk Bapak Muhammad Nehru Sagena untuk segenap petunjuk dan pembinaannya," ungkap Nanang.
Dalam prosesnya, misi BTPS dijalankan dengan menggunakan basis data yang akurat. Kata Nanang, sinkronisasi data mulai dari pemerintah desa, sekolah, data pendidikan kabupaten, hingga data dari dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi adalam sebuah keharusan.
"Sehingga ketika sudah rampungkan semua data. Terkoneksi antara satu dari data dengan data lainnya. Dari sanalah kemudian kami bisa berani menyatakan dan menegaskan bahwa kita sudah sampai di titik zero ATS," pungkas Nanang Wahidin.
Sebagai informasi, sebanyak 133 anak yang telah dikembalikan ke program pendidikan non formal dengan rincian 16 untuk paket A, 68 paket B, serta 49 anak untuk paket C. Sementara yang mengikuti program keaksaraan sebanyak 21 orang, hingga program Bimbel sebanyak 35 anak. Total keseluruhan sebanyak 189 anak.
Layak Dijadikan Role Model
Apa yang telah dilakukan pemerintah Desa Bambamanurung di atas mendapat apresiasi dari dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat. Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Nehru Sagena menilai, apa yang dilakukan oleh pemerintah Desa Bambamanurung itu merupakan satu langkah inovatif berbasis swadaya dan pelibatan masyarakat yang menyeluruh.
"Ini sebagai sebuah terobosan besar yang patut diacungi jempol. Keberhasilan desa dalam memetakan, memverifikasi, hingga mengembalikan anak putus sekolah ke bangku pendidikan melalui jalur kesetaraan maupun formal dinilai sejalan dengan visi besar peningkatan mutu pendidikan daerah. Saya kira, ini layak dijadikan role model. Bagaimana komitmen memberantas ATS itu lahir dari desa," tutur Nehru Sagena.
Nehru berharap, deklarasi Bambamanurung Zero ATS itu tak sekadar menjadi wujud perayaan atas keberhasilan menuntaskan angka anak tidak sekolah saja, tetapi juga menjadi motivasi dan dorongan semangat tersendiri agar pencapaian Zero ATS di Desa Bambamanurung dapat terus dijaga dan dipertahankan secara berkelanjutan di masa-masa mendatang.
"Sebab yang tak kalah beratnya adalah bagaimana menjamin anak-anak itu bisa tetap bersekolah. Tak lagi terlintas di benak mereka untuk berhenti," demikian Muh Nehru Sagena. (*)









