Hadiri Upacara Adat Keraton Surakarta Hadiningrat, Ini Pesan Maradika Mamuju
SOLO—Maradika Mamuju, Bau Akram Dai menghadiri undangan resmi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dalam rangka Silaturahmi Dewan Kerajaan Majelis Adat Kerajaan Nusantara (DK-MAKN). Agenda yang juga dirangkaikan dengan Upacara Adat dan Prosesi Jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono XIV Hangabehi di Solo, Jawa Tengah belum lama ini.
Prosesi adat sakral dan momentum penting tersebut turut dihadiri oleh para raja, sultan, permaisuri, serta pemangku adat dari berbagai kerajaan di Nusantara. Dalam kesempatan tersebut, Maradika Mamuju, Bau Akram Dai menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya merawat dan mempererat tali silaturrahmi antarkerajaan dan lembaga adat di seluruh tanah air.
Menurutnya, pertemuaan antarraja Nusantara itu bukan sekadar agenda seremoni kebudayaan belaka. Baginya, mementum tersebut adalah sarana strategis untuk memperkuat persaudaraan nasional serta menjaga keberlangsungan nilai-nilai warisan leluhur di tengah arus perkembangan zaman.
"Kehadiran kami dalam prosesi sakral di Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan bentuk penghormatan tinggi terhadap tradisi, sekaligus momentum berharga untuk terus mempererat tali silaturrahmi dan persaudaraan antarkerajaan di seluruh Nusantara. Kerajaan dan kesultanan adalah penjaga akar sejarah serta nilai-nilai luhur bangsa," terang Maradika Mamuju, Bau Akram Dai dalam keterangan tertulisnya, Rabu (09/09).
(Foto/Istimewa)
Rangkaian Prosesi Jumenengan SISKS Pakubuwono XIV Hangabehi sendiri berlangsung khidmat sesuai tata adat dan pakem warisan Mataram Islam. Berbagai prosesi dilalui, dari pengiringan pusaka dan ampilan dalem, ucapan ikrar di Sitihinggil, hingga pengucapan sumpah kepemimpinan
Maradika Mamuju mengapresiasi tinggi konsistensi Keraton Surakarta dalam menjaga pakem adat yang diwariskan secara turun-temurun. Ia menegaskan, perbedaan wilayah maupun perjalanan sejarah antarkerajaan di tanah air tidak boleh menjadi penghalang untuk saling merangkul.
"Semoga komunikasi serta silaturrahmi antarkerajaan dan lembaga adat se-Nusantara dapat semakin erat dan solid. Dengan demikian, warisan budaya leluhur tidak berhenti hanya sebagai catatan sejarah pasif, melainkan tetap hidup, relevan, dan menjadi pedoman nilai bagi generasi penerus bangsa," pungkas Bau Akram Dai. (*/Naf)









