Pendidikan

Relawan Bergerak, Pendidikan Berdetak

Wacana.info
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Nehru Sagena. (Foto/Manaf Harmay)

MAMUJU--Mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan jadi salah satu program prioritas pemerintah provinsi Sulawesi Barat. Di tengah masih terpuruknya kualitas pendidikan di provinsi ke-33 ini, program tersebut dinilai jadi salah satu pintu keluar dalam meretas persoalan kualitas pendidikan di Sulawesi Barat.

Pemerintah provinsi Sulawesi Barat sendiri telah berhasil mengembalikan sebanyak 550 ATS ke bangku pendidikan formal maupun non formal. Itu setelah proses rekonfirmasi dari sebanyak 1.700 ATS yang ditemukan oleh petugas rekonformasi data (PLKB, pendamping desa, PKH, guru, serta mahasiswa KKN IHS). Tanggal 2 Mei 2026 yang lalu, tepat di peringatan hari pendidikan nasional, 550 ATS itu pun resmi dikembalikan ke sekolah lewat satu seremonial istimewa di kantor gubernur Sulawesi Barat.

Pemerintah provinsi Sulawesi Barat kini sedang dalam fase melanjutkan gerakan ATS. Dengan spektrum yang lebih luas, serta dengan metode yang lebih canggih lagi. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Sulawesi Barat, Muh Nehru Sagena menguraikan, sejumlah relawan saat ini sedang bergerilya di beberapa titik di Sulawesi Barat untuk melakukan proses konfirmasi dan rekonfirmasi data ATS.

Lewat berbagai kanal, semua pihak kini dapat memasukkan laporan tentang ATS. Salah satunya lewat kanal 'MASIGA' (Masyarakat Siaga Gerakan Anak Kembali Bersekolah). Sebuah saluran yang dapat diakses melalui website resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Sulawesi Barat; dikbud.sulbarprov.go.id.

Kepada WACANA.Info, Nehru mengatakan, saluran MASIGA menyediakan format lengkap tentang temuan ATS. Siapa saja bisa mengakses laman tersebut, dengan harapan akan semakin banyak laporan tentang ATS.

"Dari laporan yang masuk, sistem akan mendeteksi lokasi dan mengirim notifikasi penugasan serta koordinat ATS secafa real time ke relawan terdekat," beber Nehru Sagena yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (02/09) siang.

Nehru mengaku telah bekerja sama dengan sejumlah pihak yang bersedia untuk menjadi relawan gerakan ATS. Model kerjanya mirip aplikasi layanan transportasi online, penanganan laporan ATS yang masuk akan diarahkan ke relawan terdekat dari titik koordinat ATS tersebut.

"Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, kami berhasil mengajak sejumlah pihak untuk menjadi relawan gerakan ATS ini. Makanya kami tidak melakukan rekrutmen terbuka untuk menjadi relawan, yang ada adalah kami menginisiasi agar gerakan ini memang datang dari teman-teman sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas pendidikan kita di Sulbar," urainya.

Para relawan itu pun bakal melakukan kunjungan ke tempat ATS yang dimaksud. Tujuannya untuk melakukan pendekatan dan wawancara yang hasilnya wajib dilaporkan ke aplikasi rekonfirmasi data. Hasil dari proses itu akan dimasukkan ke basis data UPTD BALDATIN Dikbud provinsi Sulawesi Barat untuk dilakukan proses cleaning demi menghindari duplikasi dan menghasilkan data ATS yang valid lagi akurat.

"Koordinasi lintas sektor jadi tugas selanjutnya yang dilakukan oleh relawan. Ke kepala sekolah, PKBM serta ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten. Outputnya adalah dinas pendidikan, kepala sekolah dan PKBM menempatkan anak sesuai jenjangnya melalui eksekusi nyata gerakan kembali bersekolah," papar Nehru.

Yang tak kalah pentingnya, kata Nehru adalah proses monitoring dan evaluasi. Ia menilai, fase ini adalah tahap yang cukup krusial. Bagaimana relawan dapat memastikan agar ATS yang telah kembali bersekolah itu bisa tetap mengenyam pendidikan, tanpa berfikir untuk kembali berhenti.

"Serangkaian proses ini juga penting agar berbagai jenis bantuan kepada anak sekolah itu bisa tepat sasaran. Tidak dibagikan secara sporadis tanpa basis data yang jelas," pungkas Muh Nehru Sagena. 

Untuk informasi,  per Rabu, 2 September 2026, terdapat 499 data ATS yang telah direkonfirmasi oleh relawan dan diinput ke dalam aplikasi. Dari jumlah tersebut, 301 merupakan laki-laki dan 198 perempuan. Rata-rata usia ATS yang terdata sekitar 17 tahun.

Sebaran data yang telah masuk aplikasi berasal dari lima kabupaten, yakni Mamuju Tengah sebanyak 18 anak, Polewali Mandar 260 anak, Majene 183 anak, Mamasa 30 anak dan Mamuju delapan anak. Sementara Pasangkayu belum terdapat data yang masuk dalam pencatatan tersebut.

Untuk pilihan kembali ke jalur pendidikan, sebanyak 315 anak tercatat ingin melanjutkan melalui pendidikan nonformal, sementara empat anak memilih jalur pendidikan formal. Selain data hasil rekonfirmasi, laporan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam penjangkauan ATS. Tercatat 272 laporan masyarakat terkait anak yang ingin kembali bersekolah.

Dari jumlah tersebut, 246 laporan telah selesai ditindaklanjuti oleh relawan, sementara 26 laporan masih berstatus pending dan belum ditindaklanjuti. (*/Naf)