Di Balik Riuh Perayaan, Menagih Jejak Perubahan
Oleh: Dr. Nur Salim Ismail, S.Th.I, M.Si. (Wakil Ketua ICMI Sulawesi Barat)
Maulid Nabi sejatinya bukan hanya momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan kita. Tradisi Maulid yang telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat merupakan bentuk kecintaan kepada Rasulullah. Namun, di balik berbagai bentuk perayaan tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih penting; setelah Maulid selesai, apa yang berubah dalam diri dan kehidupan sosial kita ?.
Dari Perayaan Menuju Penghayatan
Kita tentu tidak ingin mempertentangkan antara tradisi dan substansi. Kegembiraan dalam memperingati Maulid merupakan ekspresi kecintaan yang memiliki nilai sosial dan spiritual. Masyarakat berkumpul, bershalawat, mendengarkan kisah kehidupan Rasulullah, berbagi makanan, dan mempererat silaturahmi.
Namun, sebuah perayaan akan menjadi semakin bermakna apabila tidak berhenti sebagai acara. Maulid hendaknya menjadi ruang untuk melakukan penghayatan terhadap kehidupan Rasulullah. Sebab, Nabi tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteladani.
Karena itu, ukuran keberhasilan Maulid tidak semata-mata terletak pada seberapa meriah acara dilaksanakan, tetapi juga pada seberapa jauh nilai-nilai kenabian tumbuh setelah acara tersebut selesai.
Maulid yang hidup adalah Maulid yang melahirkan perubahan dalam kehidupan.
Cinta kepada Nabi Harus Melahirkan Akhlak
Kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diwujudkan melalui shalawat, pujian, dan kegembiraan. Cinta kepada Nabi semestinya menemukan bentuknya dalam sikap mengikuti dan meneladani beliau.
Rasulullah adalah teladan dalam kejujuran, kelembutan, kesabaran, kasih sayang, penghormatan kepada sesama, serta kepedulian kepada orang-orang yang lemah. Karena itu, semakin besar kecintaan kita kepada beliau, semestinya semakin baik pula cara kita memperlakukan orang lain.
Di sinilah Maulid dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah akhlak Nabi sudah terlihat dalam cara kita berbicara ?. Apakah sudah terlihat dalam cara kita memperlakukan keluarga, tetangga, teman, orang yang berbeda pandangan, bahkan orang yang tidak menyukai kita ?. Maulid yang bermakna adalah Maulid yang membuat akhlak Nabi semakin hidup dalam perilaku kita.
Kemewahan Seremonial Menuju Kemanfaatan Sosial
Kegembiraan dalam Maulid tentu tidak harus dihilangkan. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan. Jangan sampai kemeriahan sebuah perayaan justru membuat kita lupa pada pesan kesederhanaan, kepedulian, dan kemanfaatan yang menjadi bagian dari ajaran Islam.
Karena itu, kita tidak perlu terburu-buru menyalahkan bentuk-bentuk tradisi yang sudah hidup di masyarakat. Yang lebih penting adalah mengajak kita semua untuk melakukan refleksi; apakah energi, waktu, dan biaya yang kita keluarkan dalam perayaan Maulid telah memberikan manfaat yang luas ?.
Bayangkan jika semangat Maulid juga diwujudkan dalam membantu fakir miskin dan anak yatim, mendukung pendidikan, memperkuat solidaritas warga, menyediakan makanan bagi masyarakat yang membutuhkan, atau membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Dengan demikian, kegembiraan tidak kehilangan makna. Kemeriahan tidak harus menjadi sesuatu yang sia-sia. Ia dapat berubah menjadi energi sosial yang menghadirkan keberkahan bagi masyarakat.
Kemeriahan akan menjadi lebih indah ketika berubah menjadi kemanfaatan.
Maulid dan Kesantunan Sosial; Menghadirkan Rahmah Nabi
Pada akhirnya, pembicaraan tentang Maulid membawa kita kepada persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu kesantunan sosial. Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka semangat Maulid semestinya dapat dirasakan dalam hubungan sosial kita.
Kesantunan itu tampak dalam cara kita berbicara, cara kita berbeda pendapat, cara kita menggunakan media sosial, cara kita memperlakukan tetangga, cara kita menyayangi orang yang lemah. Bahkan dalam cara kita memperlakukan lingkungan.
Maka dari itu, masyarakat yang sering memperingati Maulid idealnya bukan hanya masyarakat yang ramai dalam perayaan, tetapi juga masyarakat yang semakin lembut dalam perkataan, semakin dewasa dalam perbuatan. (*/Naf)









