Maulid sebagai Audit Cinta
Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Sadat, S.Ag., M.Ag (Guru Besar dalam bidang Ilmu Sosiologi Hukum Islam)
Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan tentang kelahiran seorang manusia agung di tanah Arab lebih dari empat belas abad silam. Maulid adalah panggilan untuk menghidupkan kembali cahaya beliau di tengah rumah kita, di ruang kerja kita, di pasar kita, di lembaga pendidikan kita, bahkan di layar telepon genggam yang setiap hari kita sentuh.
Kita sering bertanya; seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah SAW ?. Namun pada peringatan Maulid ini, ada pertanyaan yang lebih jujur dan lebih mengguncang; apakah Rasulullah benar-benar hadir dalam akhlak kita, atau beliau hanya hadir dalam spanduk, syair, dan seremonial ?.
Allah SWT berfirman;
“Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam," (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini tidak menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat hanya bagi satu suku, satu bangsa, satu golongan, atau bahkan hanya untuk orang-orang yang telah sempurna iman dan amalnya. Beliau adalah rahmat bagi seluruh alam. Maka, setiap kali kita menyebut nama Muhammad, seharusnya lahir pertanyaan dalam diri: sudahkah kehadiran kita juga menjadi rahmat bagi orang-orang di sekitar kita ?.
Kita memang patut bersyukur atas kelahiran Rasulullah SAW. Karena dari kelahiran beliau, dunia yang gelap memperoleh cahaya. Manusia yang tenggelam dalam penyembahan berhala diajak mengenal Allah Yang Maha Esa. Masyarakat yang kuat menindas yang lemah diajarkan keadilan. Perempuan yang direndahkan diangkat martabatnya. Anak yatim yang disia-siakan dipeluk dan dilindungi. Budak yang diperlakukan sebagai barang diperjuangkan kehormatannya sebagai manusia.
Namun Maulid akan kehilangan maknanya bila ia hanya menjadi acara tahunan. Masjid dihias, lampu dinyalakan, shalawat dikumandangkan, makanan dibagikan tetapi setelah acara berakhir, lidah kita tetap tajam, tangan kita tetap mengambil yang bukan hak, rumah tangga kita tetap dipenuhi amarah, dan hubungan sosial kita tetap dirusak oleh prasangka serta fitnah.
Jangan sampai kita begitu haru mendengar kisah kelahiran Nabi, tetapi tidak tersentuh melihat kesedihan orang-orang yang hidup bersama kita. Jangan sampai kita berdiri menghormati Nabi dalam sebuah acara, tetapi merendahkan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita melantunkan shalawat dengan lisan, tetapi mengingkari ajaran Nabi dengan perilaku.Sebab Nabi Muhammad SAW tidak membutuhkan perayaan kita. Kitalah yang membutuhkan standar hidup Nabi.
Bayangkan pada malam Maulid ini, Rasulullah SAW seakan datang ke rumah kita. Bukan untuk mencari pujian, bukan untuk meminta penghormatan, tetapi untuk melihat: apakah umatnya telah menjadikan akhlaknya sebagai jalan hidup ?. Di hadapan kita seolah terdapat tiga kursi kosong; kursi rahmat, kursi amanah, dan kursi martabat manusia. Pertanyaannya, siapakah yang duduk di tiga kursi itu dalam kehidupan kita ?.
1. Kursi Rahmat
Banyak rumah memiliki ruang tamu yang indah, tetapi tidak memiliki ruang untuk saling mendengar. Banyak keluarga mampu menyediakan makanan yang baik, tetapi gagal menyediakan kata-kata yang menenangkan. Banyak orang tua bekerja keras untuk membiayai pendidikan anak, tetapi lupa memeluk anaknya. Banyak suami memberi nafkah, tetapi lupa memberi penghargaan. Banyak istri menjalankan kewajiban, tetapi menyimpan kesedihan yang tidak pernah didengarkan.
Padahal Rasulullah SAW adalah manusia yang sangat lembut kepada keluarganya, kepada anak-anak, kepada orang miskin, kepada orang lemah, bahkan kepada mereka yang bersikap kasar kepada beliau. Maka Maulid seharusnya mengubah cara kita memperlakukan manusia. Jika seorang anak pulang ke rumah dengan wajah murung, apakah ia disambut dengan pelukan atau bentakan ?.
Jika pasangan melakukan kesalahan, apakah ia dihadapi dengan nasihat yang lembut atau kalimat yang melukai ?. Jika tetangga sedang kesulitan, apakah kita mendekat untuk membantu atau menjauh karena takut terganggu ?.
Di situlah ukuran cinta kepada Rasulullah SAW. Bukan semata pada merdunya suara bershalawat, tetapi pada hadirnya rahmat dalam cara kita berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan. Jika Maulid tidak membuat kita lebih lembut kepada keluarga, maka kita mungkin telah merayakan kelahiran Nabi, tetapi belum menghadirkan rahmat Nabi.
2. Kursi Amanah
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal sebagai al-Amin, manusia yang dapat dipercaya. Orang-orang menitipkan harta kepada beliau, mempercayakan urusan kepada beliau, dan yakin bahwa Muhammad tidak akan mengkhianati mereka. Hari ini kita memuji beliau sebagai al-Amin. Tetapi mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita juga dapat dipercaya ?.
Apakah kita amanah dalam jabatan ?. Apakah kita amanah dalam mengelola uang masjid, organisasi, lembaga, dan negara ?. Apakah kita amanah dalam mengajar, menilai, membimbing, dan mendidik generasi ?. Apakah kita amanah dalam berdagang, menimbang, berutang, dan menepati janji ?. Apakah kita amanah ketika menerima pesan, berita, dan informasi yang belum jelas kebenarannya ?. Jangan sampai tangan kita memegang tasbih, tetapi juga mengambil hak orang lain. Jangan sampai mulut kita memuji Rasulullah SAW, tetapi di saat yang sama kita mengkhianati kepercayaan keluarga, masyarakat, atau institusi.
Betapa banyak masalah umat bukan karena kekurangan ilmu, tetapi karena kekurangan amanah. Betapa banyak rumah tangga runtuh bukan karena kurang cinta, tetapi karena kejujuran hilang. Betapa banyak organisasi pecah bukan karena tidak punya program, tetapi karena kepentingan pribadi lebih besar daripada tanggung jawab bersama.
Maulid harus melahirkan manusia yang dapat dipercaya. Sebab umat yang mengaku mencintai al-Amin tidak boleh menjadi umat yang membiasakan pengkhianatan. Jangan sampai kita bershalawat dengan lisan, tetapi merusak kepercayaan dengan tindakan.
3. Kursi Martabat Manusia
Rasulullah SAW hadir ketika kemanusiaan sedang kehilangan kehormatannya. Yang kaya memandang rendah yang miskin. Yang kuat memperlakukan yang lemah sesuka hati. Perempuan tidak diberi penghargaan. Anak yatim dianggap beban. Budak diperjualbelikan. Orang yang berbeda suku dan warna kulit dipandang lebih rendah. Lalu Nabi Muhammad SAW datang membawa revolusi akhlak; manusia tidak dimuliakan karena hartanya, keturunannya, jabatannya, atau warna kulitnya.
Manusia dimuliakan karena ketakwaannya. Maka orang yang merayakan Maulid tetapi gemar menghina orang lain sesungguhnya belum memahami misi Rasulullah SAW. Orang yang rajin menghadiri pengajian tetapi suka mempermalukan orang miskin belum sungguh-sungguh meneladani Nabi.
Orang yang lantang membela agama tetapi berlaku zalim kepada keluarga, bawahan, tetangga, atau rekan kerja belum benar-benar membawa pesan Muhammad SAW. Di era media sosial, martabat manusia sering runtuh hanya karena satu unggahan. Seseorang dihina, dipermalukan, disebarkan aibnya, bahkan dihakimi tanpa mengetahui duduk persoalannya. Jari-jari kita bergerak cepat, tetapi hati kita sering tertinggal jauh dari akhlak Nabi.
Ilustrasi
Maka pada Maulid ini, mari kita belajar menahan diri. Tidak semua yang kita tahu harus disebarkan. Tidak semua yang kita dengar harus dipercaya. Tidak semua yang membuat kita marah harus dibalas dengan kemarahan. Kadang-kadang dakwah yang paling besar bukan berbicara keras, melainkan menahan diri agar tidak melukai.
Nabi Hadir dalam Hal-Hal Kecil
Banyak orang membayangkan meneladani Nabi sebagai sesuatu yang sangat besar dan berat. Padahal kehadiran akhlak Nabi justru dimulai dari perkara-perkara kecil. Rasulullah SAW hadir ketika kita mengucapkan salam dengan tulus. Beliau hadir ketika kita mendengarkan orang tua sebelum menyanggahnya. Beliau hadir ketika seorang ayah pulang ke rumah dan memilih memeluk anaknya, bukan hanya memeriksa kesalahannya. Beliau hadir ketika seorang anak meminta maaf kepada ibunya. Beliau hadir ketika seorang suami mengakui kesalahan kepada istrinya.
Beliau hadir ketika seorang istri menghormati suaminya dalam keadaan sulit. Beliau hadir ketika seorang pedagang memilih jujur walaupun ia bisa memperoleh keuntungan lebih besar dengan cara curang. Beliau hadir ketika seorang pejabat menolak suap. Beliau hadir ketika seorang guru mengajar dengan kasih, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Beliau hadir ketika seorang pemuda membatalkan niat menulis komentar kasar di media sosial. Nabi Muhammad SAW tidak hanya ingin dikenang dalam sejarah. Beliau ingin diteladani dalam kehidupan.
Maulid sebagai Audit Cinta
Malam Maulid adalah waktu yang tepat untuk melakukan audit cinta kepada Rasulullah SAW. Bukan audit tentang seberapa banyak kita mengucapkan shalawat, tetapi audit tentang seberapa jauh shalawat itu membentuk akhlak kita. Bukan audit tentang seberapa meriah kegiatan Maulid, tetapi audit tentang seberapa besar perubahan yang lahir setelahnya. Bukan audit untuk mencari kesalahan orang lain, melainkan untuk membangunkan hati sendiri.
Mari masing-masing bertanya; Apakah kehadiranku di rumah membawa ketenangan atau ketegangan ?. Apakah lisanku menjadi jalan kebaikan atau sumber luka ?. Apakah aku dapat dipercaya dalam urusan kecil maupun besar ?. Apakah aku mudah menghakimi dan sulit memaafkan ?. Apakah aku peduli kepada orang yang lemah, miskin, terluka, dan membutuhkan pertolongan ?.
Jika Rasulullah SAW hadir di tengah keluarga dan masyarakatku, apakah beliau akan tersenyum melihat akhlakku ?. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata. Jawablah dengan perubahan.
Maulid yang Berbuah Perubahan
Maulid yang sejati bukan berhenti di masjid. Ia harus pulang bersama jamaah ke rumah masing-masing. Maulid harus menjadikan seorang ayah lebih sabar. Maulid harus menjadikan seorang ibu lebih kuat dan penuh kasih. Maulid harus menjadikan anak-anak lebih hormat kepada orang tua. Maulid harus menjadikan pemuda lebih beradab dalam pergaulan dan media sosial. Maulid harus menjadikan pemimpin lebih adil.
Maulid harus menjadikan pedagang lebih jujur. Maulid harus menjadikan orang berilmu lebih rendah hati. Maulid harus menjadikan orang yang berkecukupan lebih peduli kepada yang kekurangan. Kalau setelah peringatan Maulid seseorang berdamai dengan saudaranya, itulah Maulid yang hidup. Kalau setelah Maulid seorang suami berhenti berkata kasar kepada istrinya, itulah Maulid yang hidup. Kalau setelah Maulid seorang anak kembali meminta maaf dan mencium tangan ibunya, itulah Maulid yang hidup.
Kalau setelah Maulid seorang pejabat menolak korupsi dan menjaga amanah rakyat, itulah Maulid yang hidup. Kalau setelah Maulid seorang pemuda berhenti menyebarkan fitnah, itulah Maulid yang hidup. Akhirnya Jangan biarkan Nabi Muhammad SAW hanya lahir dalam kitab sirah. Jangan biarkan beliau hanya disebut dalam syair-syair pujian. Jangan biarkan shalawat hanya menjadi suara yang indah, tetapi tidak mengubah jiwa dan perilaku.
Biarkan Rasulullah SAW hadir dalam rumah kita melalui kasih sayang. Biarkan beliau hadir dalam pekerjaan kita melalui amanah. Biarkan beliau hadir dalam masyarakat kita melalui keadilan. Biarkan beliau hadir dalam pergaulan kita melalui penghormatan kepada martabat manusia.
Sebab Maulid yang paling indah bukan ketika panggung paling megah, lampu paling terang, atau hidangan paling banyak. Maulid yang paling indah adalah ketika seorang manusia pulang dari peringatan Nabi dengan hati yang lebih lembut, tangan yang lebih bersih, lisan yang lebih terjaga, dan tekad yang lebih kuat untuk menjadi rahmat bagi sesama.
Ya Allah, jangan jadikan kami umat yang hanya pandai menyebut nama Muhammad, tetapi jauh dari akhlaknya. Jadikan kami umat yang mencintainya dengan meneladaninya; yang bershalawat kepadanya dengan menghidupkan rahmatnya; dan yang merayakan Maulidnya dengan memperbaiki diri serta memperbaiki dunia di sekitar kami.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu 'alam (*)









