Seni Menulis Takdir; Antara Tinta Spidol dan Lembutnya Penghapus
Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Sadat, S.Ag., M.Ag (Guru besar Sosiologi Hukum islam STAIN Majene Sulawesi Barat)
Dalam kehidupan manusia, spidol dan penghapus bukan sekadar alat tulis; keduanya adalah metafora yang menyentuh dimensi eksistensial kita. Spidol melambangkan keberanian untuk menegaskan jejak—menulis pilihan, komitmen, dan arah hidup secara tegas. Ia tidak samar, tidak mudah hilang. Sekali ditorehkan, ia menghadirkan konsekuensi. Dalam perspektif ini, spidol adalah simbol niat (niyyah) yang kuat dan tindakan (‘amal) yang nyata.
Sebaliknya, penghapus melambangkan rahmat, evaluasi diri, dan kesempatan kedua. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan makhluk yang steril dari kesalahan. Dalam setiap kekeliruan, selalu tersedia ruang untuk mengoreksi, memperbaiki, dan memulai kembali. Jika spidol adalah ekspresi tekad, maka penghapus adalah manifestasi taubat dan refleksi.
Namun, kehidupan yang matang tidak hanya memilih salah satu di antara keduanya. Kearifan justru terletak pada kemampuan menempatkan keduanya secara proporsional. Ada fase dalam hidup yang menuntut kita menulis dengan 'spidol'—menetapkan prinsip, menjaga integritas, dan tidak mudah tergoyahkan oleh godaan pragmatis.
Dalam konteks hukum Islam, ini sejalan dengan prinsip al-tsabat (keteguhan) dalam hal-hal yang qath’i dan fundamental. Di sisi lain, ada pula saat di mana kita harus menggunakan 'penghapus'—mengakui kesalahan, memperbaiki relasi, dan meninggalkan praktik lama yang tidak lagi selaras dengan nilai kebaikan. Ini beresonansi dengan konsep al-ruju’ ila al-haqq (kembali kepada kebenaran), yang justru merupakan bentuk kekuatan moral, bukan kelemahan.
Menariknya, dalam dinamika kehidupan sosial, banyak orang terjebak dalam dua ekstrem: terlalu sering 'menghapus' hingga kehilangan identitas dan prinsip, atau terlalu keras 'menulis' hingga menutup ruang perbaikan dan empati. Keseimbangan antara keduanya adalah inti dari kedewasaan spiritual dan intelektual.
Dalam kerangka yang lebih luas, kehidupan dapat dipahami sebagai naskah yang terus ditulis dan direvisi. Allah memberikan manusia kebebasan terbatas untuk menulis takdir ikhtiari-nya, namun juga menyediakan mekanisme penghapusan melalui taubat, istighfar, dan amal saleh. Dengan demikian, masa lalu yang buruk bukanlah akhir, melainkan bahan baku untuk membangun masa depan yang lebih bermakna.
Akhirnya, pencerahan dari metafora ini adalah: tulislah hidup dengan ketegasan nilai, tetapi jangan takut menghapus kesalahan. Jadilah pribadi yang memiliki prinsip sekuat tinta spidol, namun juga memiliki kerendahan hati selembut penghapus. Sebab, bukan kesempurnaan yang menjadikan manusia mulia, melainkan kesediaannya untuk terus memperbaiki diri di jalan kebenaran
Wallahu a'lam
Rea Barat, 12 Agustus 2026









