KH. Daeng, Jejak Sunyi Kebijaksanaan Mandar
Oleh: DR. H. Farid Wajdi. M,Pd
Di Tanah Mandar dimana cahaya ilmu bersinar, ada ingatan kolektif masyarakatnya. Tentang kebijaksanaan tidak selalu hadir dalam suara lantang atau catatan sejarah resmi. Ia justru hidup dalam kisah-kisah sunyi, dalam teladan laku, dan dalam jejak spiritual yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
KH. Daeng adalah salah satu perwujudan paling nyata dari kebijaksanaan semacam itu.
Perihal kisah hidup KH. Daeng ini terungkap saat berlangsung acara ziarah makam ulama dan Wali (Zamali) oleh para santri pondok Pesantren Salafiyah, Parappe di area makam KH. Daeng depan Masjid Al-Hurriyah Tinambung baru-baru ini. Agenda tersebut dipimpin langsung Annangguru KH. Abd Latief Busrah.
Jejak Sunyi Seorang Alim Mandar
Pengakuan KH. Latif Busrah yang Pimpinan Pondok Pesantren Salafiah Campalagian, KH. Daeng sebagai ulama paling alim di Mandar bukanlah sanjungan kosong. Pernyataan itu mencerminkan pandangan banyak ulama Mandar dan Bugis yang menilai KH. Daeng sebagai Alimul Ulamaa wa Iddatihi: seorang alim yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi menghidupkannya dalam perilaku dan keteladanan.
Dalam tradisi keislaman Nusantara, kealiman semacam ini lebih tinggi nilainya dibanding kepandaian lisan atau popularitas. Jejak KH. Daeng tidak banyak ditemukan dalam bangunan megah atau karya tulis yang melimpah. Ia hadir dalam jalur pendidikan kitab kuning, dalam laku tasawuf yang sederhana, dan dalam cara membimbing murid dengan zuhud serta dzikir.
Di Kepulauan Salemo, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, hingga Tanah Mandar, dakwahnya tidak bersifat konfrontatif, melainkan meresap, mendidik batin sebelum mengatur perilaku.
Jejak KH Daeng di Pulau Salemo
Dari penuturan orang-orang tua, memang bukan kebetulan kalau nama KH Daeng begitu lekat dengan Pulau Salemo. Setelah menelusuri cerita lama, ternyata benar, KH Daeng pernah bermukim dan mengajar di Pulau Salemo dalam kurun waktu yang cukup lama. Saat itu, Salemo bukan hanya kampung nelayan, tapi juga menjadi titik singgah ulama dan para penuntut ilmu.
KH Daeng dikenal sebagai sosok yang tekun mengajarkan ilmu agama, mengaji, dan adab, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Pengajiannya sederhana, di rumah panggung, di langgar kecil, atau di serambi, namun muridnya datang dari berbagai penjuru pulau.
Dalam masa itulah, KH Daeng menikah lagi dengan Habibah. Dari istri terakhir ini, lahir dua orang anak perempuan salah satunya lahir di Pulau Salemo yang diberinya nama panggilan I Becce'.
Sebuah nama yang menegaskan panggilan pada perempuan Bugis masa itu. Lengkapnya, Aisyah Binti As’ad Hal ini makin menguatkan bahwa keberadaan beliau di Salemo bukan sekadar singgah, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan pulau.
Semua potongan itu seperti kepingan yang akhirnya menyatu; Pulau Salemo bukan hanya tempat kelahiran, tapi simpul sejarah keluarga, tempat bertemunya jalur ulama, darah keturunan, dan tradisi. Tak heran jika banyak cerita lama yang 'terasa dekat' dengan Salemo—karena memang di sanalah akar itu pernah tumbuh.
Kabossol dan Irama Waktu
Kisah-kisah yang menyertai KH. Daeng, seperti perjumpaannya dengan Imam Lapeo, Puanna Ki’da menuturkan sebuah kisah yang terukir dalam ingatan kolektif keluarga. Suatu hari, Imam Lapeo (KH. Muhammad Tahir) berkunjung ke rumah KH. Daeng di Binanga. Dalam keadaan tergesa, Imam Lapeo hendak segera kembali ke Lapeo.
Namun KH. Daeng memintanya menunggu sejenak—kabossol tengah digoreng sebagai jamuan. Imam Lapeo tetap pamit. Tak lama setelah itu, bendhi-nya rusak di Pattoanginan, seakan ada isyarat halus yang memanggilnya kembali. Ia pun kembali ke rumah KH. Daeng, dan tepat saat itu, kabossol telah tersaji di meja.
Dengan senyum bijak, KH. Daeng berkata, “Kue ini memang untuk kita cicipi bersama.” Dalam kesederhanaan itu, tersingkap pelajaran mendalam; hidup terkadang meminta kita berhenti sejenak, menghargai waktu, dan menerima takdir dengan lapang. Seperti kabossol yang sederhana, namun sarat rasa.
Keberkahan yang Singgah
Kisah lain berbicara tentang sebuah azimat. KH. Daeng menuliskan raja pada secarik kertas, lalu memberikannya kepada Accawang Banggae (Daengna Ridu). Kertas itu disimpan di lipatan baju. Lama-kelamaan, ia mengeras dan mengeluarkan minyak. Minyak itu semakin banyak hingga membasahi pakaian—sebuah simbol keberkahan yang meluap.
Azimat tersebut kemudian disimpan dalam mangkuk di dalam lemari. Ajaibnya, setiap malam Jumat, mangkuk itu selalu penuh minyak. Accawang banggae menyebutnya minyak jari, digunakan untuk pengobatan dan keberkahan.
Penulis pun mengaku pernah merasakan langsung manfaatnya. Namun setelah wafat, minyak itu tak lagi muncul. Sebuah pengingat bahwa keberkahan adalah amanah yang singgah, bukan milik abadi. Hakikat keberkahan bukan pada benda, melainkan pada kebersihan jiwa dan ketulusan iman.
Badik Passesse' Ular; Keberanian dan Karomah
Di hutan Majene yang sunyi, KH. Daeng pernah terlelap di atas sorbannya, karena kelelahan setelah mengumpulkan kayu bakar. Seekor ular piton mendekat dan menelannya hidup-hidup. Dalam gelap perut ular, KH. Daeng menemukan ketenangan dan kekuatan batin.
Dengan badik passesse’ ular di tangannya, ia merobek perut ular dari dalam dan selamat. Badik itu bukan sekadar senjata, melainkan simbol keberanian dan karomah—bahwa kekuatan sejati bersumber dari iman. Sekaligus sebagai pesan, bahwa dalam diri kita ada kekuatan yang tidak terbatas, yang dapat membebaskan dari segala bentuk kesulitan dan ketakutan.
Kisah ini juga memberi pelajaran, bahwa keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, tetapi tentang kemampuan mengendalikan ketakutan menjadi kekuatan. Kisah ini dituturkan kepada penulis oleh Hj. Wardah, putri KH. Daeng.
Hingga kini, badik pusaka tersebut disimpan oleh salah satu cucunya di Labuang, Binanga, Majene.
Cahaya Spritual Di tengah Kegelapan
Diceritakan, malam itu sepi. Nampak bulan terangi jalan yang lengang, KH. Daeng mengungsi ke perkebunan to salama' di galung, mencari perlindungan dari badai kehidupan yang menghempas dirinya.
Dalam masa pengungsian ke perkebunan itu, KH. Daeng menyaksikan bambu-bambu di sekitar sungai menunduk seakan memberi hormat. Takzim itu menggetarkan batinnya. Ia berdoa agar keturunannya dianugerahi ilmu agama yang berkah. Doa itu, sebagaimana disaksikan hari ini, dikabulkan satu-persatu oleh Allah SWT.
KH. Daeng juga memiliki firasat tentang ajalnya. Ia memahami kematian bukan sebagai akhir, melainkan kepulangan. Menjelang wafat, sebuah botol minyak di rumahnya selalu terisi meski tak pernah diisi siapa pun. Penutup botolnya bahkan berubah dari batang nipa menjadi batu—sebuah simbol kekekalan ruh.
Azimat minyak jari, hingga badik passesse’ ular, sering dipahami sebagai karomah. Namun jika dibaca dengan kacamata budaya, kisah-kisah itu lebih dari sekadar keajaiban. Ia adalah simbol hubungan harmonis antara manusia, waktu, dan ketentuan Ilahi.
Peristiwa kabossol bersama Imam Lapeo, misalnya, menyiratkan pelajaran tentang kesabaran, penghormatan pada momen, dan keyakinan bahwa tidak ada peristiwa yang benar-benar kebetulan.
Begitu pula kisah minyak jari dan azimat. Keberkahan yang mengalir lalu berhenti setelah pemiliknya wafat memberi pesan kultural yang penting: berkah bukan benda, melainkan keadaan batin. Ia singgah pada jiwa yang bersih dan -pergi ketika amanah itu selesai.
Dalam masyarakat Mandar, pesan semacam ini menjadi pengingat bahwa spiritualitas tidak boleh dilepaskan dari etika dan kesadaran akan kefanaan.
Kisah badik passesse’ ular memperlihatkan dimensi lain dari kebijaksanaan KH. Daeng: keberanian spiritual. Keberanian di sini bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan ketenangan batin dalam menghadapi situasi paling genting. Pesannya jelas—kekuatan sejati bersumber dari iman dan keteguhan jiwa, bukan dari alat atau senjata.
Menjemput Pulang
Di usia senja, KH. Daeng mengunjungi putrinya di Tinambung, Hj. Siti Wardah. Ia dinikahkan dengan muridnya sendiri KH. Djalaluddin Gani, Imam masjid Raya Al-Hurriyah Tinambung. Di rumah puterinya itulah beliau jatuh sakit dan wafat pada tanggal 16 Agustus 1945. Beliau dimakamkan di depan masjid Tinambung.
Beliau seolah tetap menjaga umatnya, bahkan setelah wafat. Makamnya menjadi tempat ziarah, pengingat bahwa cahaya kebijaksanaan tidak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam doa, ingatan, dan laku hidup mereka yang meneladaninya.
Namun jelang akhir hayatnya, KH. Daeng justru menampilkan keteduhan yang semakin dalam. Firasat tentang kematian, doa untuk keturunan, dan ketenangan menerima ajal menunjukkan pemahaman mendalam tentang hidup sebagai perjalanan pulang.
Wafatnya di Tinambung, serta makamnya yang berada di depan Masjid Raya, menegaskan posisinya sebagai figur yang menyatu dengan ruang spiritual dan sosial masyarakat.
KH. Daeng mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah nasional, tetapi dalam kebudayaan Mandar, ia adalah cahaya yang tidak pernah benar-benar padam. Ia mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak harus berisik, bahwa pengaruh paling kuat sering kali lahir dari kesederhanaan, dan bahwa ilmu menemukan maknanya ketika diamalkan dengan rendah hati. Dalam dunia yang semakin gaduh oleh ambisi dan citra, jejak sunyi KH. Daeng justru terasa semakin relevan.
Momentum yang Berlalu dan Amanah yang Menunggu
Ada satu lapis makna lain dalam jejak KH. Daeng yang baru terasa jelas ketika waktu terus bergerak maju. Ia bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang kemungkinan yang pernah terbuka, lalu tertunda oleh takdir.
Dalam perjalanan sejarah keluarga, datanglah satu momentum penting, ketika cucu dan cicit KH. Daeng menempati posisi-posisi strategis di ruang pengabdian publik.
Di antara mereka, DR. Fahmi Massiara yang pernah menjadi Bupati Majene, Prof. Dr. Nafis Juaeni, MA mengemban amanah sebagai Ketua STAIN, dan Dr. Muflih BF yang sempat menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Barat.
Dr. Abdul Majid Djalaluddin sebagai Imam pada Masjid Abrar Binanga posisi ini, pada masanya, menghadirkan harapan besar—bukan semata karena jabatan, tetapi karena bertemunya kekuasaan struktural dengan akar spiritual yang sama.
Ditambah lagi dengan cucu-cicit KH. Daeng lainnya yang berkiprah sebagai pejabat, dokter spesialis, akademisi, dan profesional di berbagai bidang, terbentanglah potensi sumber daya yang sangat langka: sumber daya yang berilmu, berpengaruh, dan berakar pada nilai keagamaan.
Momentum itu sesungguhnya menyimpan peluang besar untuk mewujudkan cita-cita yang sejalan dengan jejak KH. Daeng: pendirian lembaga pendidikan keagamaan, pesantren, serta lembaga pelayanan sosial seperti ambulans dan kegiatan kemasyarakatan lainnya melalui sebuah yayasan atas nama KH. Daeng.
Sebuah upaya yang bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan perpanjangan nilai—melanjutkan dakwah dengan cara yang sesuai dengan zaman.
Niat dan kesiapan itu bahkan telah dinyatakan secara nyata. Salah satu cucu beliau, dr. Idham Khalik, dokter ahli saraf yang memiliki klinik besar di Palopo menyampaikan kesediaannya untuk menghibahkan dua hektare tanah—bahkan lebih—apabila keluarga membutuhkan lahan untuk pembangunan pesantren. Sebuah ikrar yang mencerminkan kesinambungan nilai: bahwa ilmu dan keberkahan seharusnya kembali kepada umat.
Namun waktu menakdirkannya lain. Momentum itu berlalu tanpa sempat menjelma menjadi bangunan dan lembaga yang berdiri kokoh. Bukan karena ketiadaan niat, melainkan karena hidup sering kali berjalan dengan iramanya sendiri.
Dalam kebijaksanaan Mandar, hal semacam ini tidak selalu dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai amanah yang dititipkan kepada generasi berikutnya.
Jejak KH. Daeng mengajarkan bahwa tidak semua kebaikan harus selesai dalam satu zaman. Ada cita-cita yang sengaja dibiarkan menggantung, agar generasi setelahnya belajar memikul tanggung jawab. Pesantren yang belum berdiri, lembaga sosial yang belum terwujud, bukanlah kekosongan, melainkan ruang harapan. Ia menunggu tangan-tangan baru yang tumbuh dari nilai yang sama: keikhlasan, kesederhanaan, dan pengabdian.
Mungkin inilah bentuk kebijaksanaan paling sunyi dari KH. Daeng, bahwa warisan sejati bukan hanya apa yang dibangun, tetapi juga apa yang dipercayakan. Kepada cucu, cicit, dan generasi setelahnya, sejarah seolah berbisik—jejak telah ditunjukkan, arah telah dibuka, tinggal keberanian dan kesungguhan untuk melangkah.
Dan jika kelak pesantren itu berdiri, ambulans itu berjalan melayani masyarakat, dan lembaga-lembaga sosial itu hidup, maka semua itu bukan sekadar pencapaian institusional. Ia akan menjadi jawaban perlahan atas amanah yang pernah tertunda, sekaligus bukti bahwa jejak sunyi KH. Daeng tidak pernah benar-benar berhenti—ia hanya menunggu waktu untuk dilanjutkan !
*Penulis adalah cucu KH.As'ad Bin KH. Harun Al-Rasyid/KH. Daeng









