Soal Rapid Test, Pemprov Sulbar Tunggu Protokol dari Kementerian Kesehatan

Wacana.info
Konfrensi Pers Pencegahan Virus Corona oleh Pemprov Sulbar. (Foto/Eka)

MAMUJU--Tes massal atau rapid test jadi opsi yang diambil pemerintah pusat dalam mencegah penyebaran covid-19. Presiden RI, Joko Widodo pun telah meminya agar alat rapid test diperbanyak untuk memaksimalkan pelaksanaan tes massal tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Barat, dr. H. Muhammad Alief Satria Lahmuddin menjelasakan, hingga kini, pihaknya belum menerima protokol atau alur pelaksanaan rapid test. Hal yang sama juga berlaku pada penggunaan obat yang diyakini ampuh mengobati pasien covid-19.

"Rapid test serta pengobatan dengan menggunakan klorokuin dan sebagainya, Dirjen Kesmas (Kesehatan Masyarakat) mengatakan tunggu protokol berikutnya," beber Muhammad Alief dalam konfrensi pers yang digelar di aula kantor Gubernur Sulawesi Barat, Senin (23/03) sore.

Muhammad Alief menggaransi, publik akan langsung diberitahu jika protokol pelaksanaan rapid test atau penggunaan obat untuk pasien covid-19 itu telah ia terima.

"Kami selalu mencermati pengumuman protokol setiap saat. Setiap ada perubahan. Dan akan kita sampaikan ke publik bahwa protokolnyua seperti ini, dan bisa dilakukan seperti ini," sebutnya.

Pemerintah provinsi Sulawesi Barat, sambung Muhammad Alief, telah menyiaplan segala keperluan untuk merawat pasien covid-19. Gedung lama RS regional saat ini telah siap menampung dan merawat pasien yang terpapar virus asal Tiongkok itu.

"Kalau di sulbar sekarang ini, kita akan optimalkan RS regional. Pembersihan untuk area karantina di (gedung) rumah sakit lama sudah kita persiapkan. Kalau RS daerah di kabupaten belum bisa spesifikasi untuk kasus ini, tapi saya sudah koordinasi ke kabupaten untuk mempersiapkan itu. Sebagai rumah sakit rujukan, saya minta untuk disiapkan di RS regional. Sekarang RS regional mulai berbenah untuk menerima pasien rujukan dari kabupaten," papar Muhammad Alief.

Data Pemantauan Covid-19 di Sulbar. (Infografis/Dinas Komunikasi Informatika, Persandian dan Statistik Sulbar) 

Ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis jadi isu yang tak kalah urennya. dr. H. Muhammad Alief Satria Lahmuddin mengurai, saat ini terdapat 30 APD yang tersedia di RS regional.

Jumlah itu jelas jauh dari kata cukup. Hingga pemerintah provinsi Sulawesi Barat, kata Muhammad Alief, telah melunasi uang muka pembelian sebanyak 300 APD.

"Saya sudah hubungi Dirjen Kesmas, kita akan dikirimkan lagi 20 APD. Saya juga sudah melakukan pembayaran uang muka untuk 300 APD. Dan saya rasa, kita sudah bisa melakukan langkah-langkah yang semestinya. Saya tidak katakan cukup. Karena kalau cukup untuk semua kasus seperti ini, kita tidak bisa duga. Makanya kita harus bersiap untuk hal-hal yang tidak bisa kita duga," terangnya

Flu Belum Tentu Covid-19

Seperti yang telah banyak disebutkan, gejala yang ditimbulkan oleh penderita virus corona covid-19 tak beda jauh dengan pengidap virus influenza pada umumnya. Bahkan ada yang positif covid-19 tanpa disertai gejala apapun.

Dalam penjelasannya, Muhammad Alief menyebut, adalah hal yang keliru jika masyarakat yang terserang virus influenza lantas dikategorikan sebagai penderita covid-19. Penting bagi khalayak mengetahuinya agar tak menimbulkan kegaduhan di tengah publik.

"Memang bisa mirip-mirip. Tapi saya yakin dokter bisa mendiagnosanya dengan pelaratan laboratorium yang ada. Kemudian akhirnya harus dikonfirmasi kalau semua gejala penyakit tropis itu bisa disingkirkan, kemudian tidak ada lagi kemungkinannya dia demam berdarah, malaria, gejalanya sudah bisa disingkirkan semua. Tetap akan dikonfirmasi di laboratorium. Itu lah yang akan memperlihatkan apakah sesorang itu positif covid-19 atau tidak. Tapi mudah-mudahan di wilayah kita tidak ada," tutup dr. H. Muhammad Alief Satria Lahmuddin.

Informasi Seputar Pencegahan Penyebaran Virus Corona dan Fasilitas Cuci Tangan di Gerbang Gereja Paroki St. Maria Mamuju. (Foto/Nursalim Ismail)

Hingga Senin, 23 Maret 2020, tercatat satu orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Sulawesi Barat. 241 orang dalam status Orang Dalam Pengawasan (ODP). Dan tak satu pun warga Sulawesi Barat yang teridentifikasi positif covid-19.

PDP yang dimaksud ada di kabupaten Polman. Sementara ODP di Sulawesi Barat terdiri dari 71 orang di Majene, Polman 47 orang, Mamasa 43 orang, Pasangkayu 40 orang, Mateng 36 orang, dan Mamuju dengan empat orang.

"Kesimpulannya bahwa sampai tanggal 23 Maret 2020 di wilayah provinsi Sulawesi Barat: jumlah ODP: 110 (proses pemantauan), jumlah PDP satu (pasien dari RS Polman yang dirujuk ke Pare-Pare). Positif covid-19: 0," tulis keterangan dari Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Barat yang diterima WACANA.Info.

Masih dari rilis yang sama, yang dimaksud ODP adalah seseorang yang mengalami demam (>38 derajat celsius) atau riwayat demam atau gelaja gangguan sistem pernafasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk.

Termasuk tidak adan penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. Dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut; memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal, lalu memiliki riwayat perjalanan timnggal di area transmisi lokal di Indonesia.

Sementara PDP adalah seseorang dengan infeksi saluran pernapasan akut (Ispa) yaitu demam (>38 derajat celsius) atau riwayat demam disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan seperti: batuk/sesak nafas/askit tenggorokan/pilek/pneumonia ringan hingga berat. Dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut: memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal, serta memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal Indonesia. (*/Naf)