PKB Sulbar Gelar Lomba Musabaqah Qira‘atul Kutub

Wacana.info
(Foto/Istimewa)

POLMAN--Sebagai rangkaian dari peringatan hari santri tahun ini, DPW PKB Sulawesi Barat menggelar lomba Musabaqah Qira'atul Kutub (MKK) di Pondok Pesantren Salafiyah Parappe, Campalagian, Polman, Senin kemarin.

Lombanya sendiri digelar dalam dua tingkataan, tingkat Ula (pemula) dan tingkat Ulya (dewasa). Untuk kitab yang dilombakan ialah kitab Fathul Qarib dan kitab Imrithi (tingkat Ula) dan Kitab Ihya Ulumiddin untk tingkat Ulya.

Sekretaris Umum DPW PKB Sulawesi Barat, Ahmad Al Yakin menjelaskan, kegiatan tersebut adalah yang pertama kali diadakan di Sulawesi Barat dan serentak diadakan DPW PKB di seluruh indonesia.

Di hadapan para santri, pria yang juga aktif sebagai Akademisi Unasman itu mengatakan, seorang santri ketika kelak memasuki ruang-ruang profesi dijamin akan mampu melaksanakan tugas dengan baik karena telah memiliki pondasi yang bagus.

"Bahwa santri bisa jadi ekonom, ahli matematika, jadi pejabat dan sebagainya. Santri punya kelebihan karena memahami dasar keagamaan yang bagus," kata Ahmad Al Yakin dalam rilis media yang diterima WACANA.Info, Selasa (11/06).

Di tempat yang sama, kordinator wilayah pelaksana Musabaqah Qira'atul Kutub Sulawesi Barat, Mas'ud Saleh menyebut, kegiatan tersebut merupakan cara yang paling tepat untuk memahami al quran dan hadis. 

"Saya sangat yakin bahwa santri-santri Sulawesi Barat mampu bersaing di tingkat nasional apalagi santri-santri memiliki jejak karir yang baik di bidang musabaqah kiraatul kutub" sebut dia.

"Mempelajari kitab kuning adalah tradisi pesantren dalam memahami hukum Islam dan itu adalah cara terbaik bagi kita khususnya kalangan pesantren untuk memahani makna Alquran dan Hadis" cetusnya.

Terpisah, Sekretaris Umum Pondok Pesantren Salafiyah Parappe, Ustadz Syuaib mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Apalagi, kata dia, kajian kitab kuning saat ini sudah semakin langka.

"Seorang santri tidak cukup baginya kalau hanya akan mendalami ilmu fikhi tanpa dibekali ilmu tasawwuf, begitupun sebaliknya seseorang yang mempelajari ilmu tasawwuf harus dibekali ilmu fikhi," jelas Ustadz Syuaib. (*/Keto)