Kesehatan

Urusan Gigi dan Mulut, Jangan Tunggu Sampai Sakit !

Wacana.info
drg. Widya HS Parewasi, S.KG. (Foto/Istimewa)

MAMUJU--"kesehatan gigi dan mulut yang tidak terjaga dengan baik dapat memicu terjadinya penyakit jantung. Sudah ada beberapa pasien yang hendak operasi jantung, tapi dari dokter jantung meminta untuk diselesaikan dulu masalah dalam rongga mulut sebelum dilakukan operasi,". Sebuah statement dari drg. Widya HS Parewasi, S.KG kepada WACANA.Info belum lama ini.

Ditemui di sela-sela aktivitasnya, drg.Widya membagikan banyak pengatahuan seputar kesehatan gigi dan mulut. Salah satunya tentang bagaimana masalah gigi bisa berpengaruh pada penyakit jantung.

Kata dia, kesehatan gigi dan mulut yang tidak terjaga dapat memicu interaksi antara bakteri di mulut dengan gula dan pati dari sisa makanan atau minuman yang kemudian membentuk plak. Plak gigi yang tidak dibersihkan dapat menyebabkan terbentuknya karang gigi yang menjadi tempat perkembangbiakan bakteri. 

Bakteri di karang gigi ini lah yang dapat memicu gigi berlubang, sehingga terbukanya rongga pulpa yang berisi saraf-saraf serta pembuluh darah, kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko masuknya bakteri ke dalam pembuluh darah yang mengalirkan darah ke bagian tubuh lainnya, termasuk jantung. 

"Bakteri yang sudah mencapai jantung dapat menyebabkan terjadinya endokarditis (infeksi pada lapisan dalam jantung)," urai dia.

Kesehatan gigi dan mulut masih memang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan 57 Persen penduduk usia di atas tiga tahun mengalami masalah gigi, namun hanya 11,2 Persen atau sekitar 3 Juta orang yang mencari pengobatan. 

Kasus karies, gigi berlubang, gigi tanggal, hingga radang gusi masih jadi yang paling dominan. Rendahnya literasi kesehatan gigi memperparah kondisi tersebut.

Menurut drg.Widya, ada banyak faktor yang mempengaruhi minimnya pengetahuan masyarakat hingga ada semacam keengganan untuk bertandang ke dokter gigi. Mulai dari kekeliruan persepsi, hingga ada semacam rasa cemas atau takut terhadap prosedur perawatan.

"Ada yang bilang kalau ke praktek dokter gigi pasti biayanya mahal. Tapi sekarang di Faskes tingkat pertama, itu kan gratis. Ada juga semacam ketakutan tersendiri untuk dirawat, biasanya karena trauma. Ada juga yang nanti ke dokter kalau sudah sakit. Ini semua persepsi yang keliru. Padahal, kami sudah banyak melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait masalah ini," beber dia.

Idealnya, merawat gigi dan mulut itu dilakukan secara rutin. drg. Widya menyebut, sebaiknya perawatan gigi dan mulut itu dilakukan selama enam bulan sekali, apalagi pada pasien yang memiliki kebiasaan merokok.

"Merawat kebersihan rongga mulut secara menyeluruh Tidak serta merta selesai dengan anggapan bahwa 'saya sudah rajin sikat gigi', tapi hal ini tidak benar-benar menjamin bahwa kita bebas dari kuman atau bakteri. Memilih jenis sikat gigi dan pasta gigi yang tepat juga penting, cara menyikat gigi, menyikat gigi secara rutin minimal 2 kali sehari, membatasi konsumsi makanan dan minuman manis, termasuk yang mengandung asam tinggi. Itu poin yang juga mesti diperhatikan untuk meminimalkan terjadinya gigi berlubang. Saya selalu anjurkan pasien saya untuk juga menggunakan benang gigi (dental floss) agar sisa makanan yang tak dijangkau oleh sikat gigi itu bisa terangkat," jelas lulusan Universitas Hasanuddin itu.

Lapisan gigi yang sudah rusak, juga jadi penyebab terjadinya penyakit gusi, yang jika dibiarkan, dapat menyebabkan terbentuknya kantong berisi nanah (abses) di sekitar akar gigi.

"Peradangan yang terjadi dalam jangka waktu yang lama dan dibiarkan tanpa perawatan, ini juga bisa menggangu kinerja jantung," paparnya.

Bagi mereka yang memilih mengkonsumsi antibiotik saat ada keluhan gigi, drg. Widya menyarankan untuk tak melakukannya tanpa ada pengawasan dari dokter. Penggunaan Antibiotik harus sesuai indikasi, itu pun dengan dosis yang tepat.

"Misalnya dengan mengkonsumsi antibiotik tertentu atau obat pereda nyeri. Rasa sakitnya memang hilang, tapi itu tidak benar-benar menyelesaikan masalah pada gigi jika sumber infeksinya tidak diatasi. Yang juga harus diingat adalah ketika sering mengkonsumsi antibiotik tertentu, takutnya di masa yang akan datang, terjadi resistensi antibiotik, yaitu kondisi saat bakteri menjadi kebal sehingga obat tidak lagi mempan," demikian drg. Widya HS Parewasi, S.KG.

WACANA.Info sebelumnya juga telah merangkum pertanyaan dari beberapa pembaca setia WACANA.Info seputar keseharan gigi dan mulut. Berikut daftar pertanyaan dan jawaban dari drg. Hj. Widya HS Parewasi, S.KG.

*Gigi semakin berjarak seiring bertambah usia, apa penyebabnya ? (Firman Pandiho)
"Harus kita lihat dulu apakah ada gigi yang telah hilang dan sudah berapa lama gigi tersebut sudah dicabut. Karena gigi itu akan cenderung akan mengisi ruang yang kosong. Jadi, kalau misalnya ada gigi yang sudah hilang, biasanya gigi di sebelahnya itu akan condong ke arah gigi yang sudah hilang tadi, dan bahkan kadang gigi terlihat seperti memanjang jika gigi antagonis nya sudah tanggal,".

*Pengaruh kopi dan rokok bagi kesehatan gigi dan mulut (Abdul Wahab)
"Jelas ada pengaruhnya. Utamanya rokok. Sangat jelas itu, kalau perokok biasanya gusinya cenderung berwarna merah muda kehitam-hitaman. Apalagi kalau perokok aktif, itu akan sangat kelihatan. Rokok dapat mengurangi produksi air liur, sehingga bakteri dapat berkembang lebih cepat. Kalau kopi, kandungan zat pada kopi dapat menempel ke lapisan luar gigi dan meninggalkan noda. Khususnya pada kopi yang dicampur pemanis, dapat menurunkan tingkat keasaman dari air liur sehingga bakteri dapat dengan mudah menempel dan merusak gigi. sehingga harus rutin untuk melakukan pembersihan karang gigi dan noda,".

*Pertimbangan prosedur implan gigi (Giri Pranata)
"Saya kira itu bagus, kaitannya dengan merawat keseharan gigi, karena dapat mengembalikan fungsi dan tampilan gigi secara permanen yang terasa serta terlihat seperti gigi aslinya. Seperti yang dipasang lewat prosedur itu sangat meyerupai gigi asli. Keuntungan implan salah satunya bisa bertahan seumur hidup jika dirawat dengan benar. Implan gigi juga memberikan kenyamanan dan percaya diri pada pasien. Jadi memang perlu konsultasi lebih ke dokter ahli. Dan yang perlu dicatat, implan gigi ini butuh biaya yang tidak murah,".

*Scalling atau pemeriksaan gigi itu baiknya dilakukan setiap berapa bulan ?. (Akbar)
"Seperti yang sudah saya jelaskan, pemeriksaan gigi itu idealnya dilakukan setiap enam bulan sekali. Khusus bagi perokok, saya sarankan untuk periksa lebih cepat dari yang non perokok,".

*Bagaimana tentang kesehatan gigi dan mulut bagi anak ?. (Restu Adi Putra)
"Ini butuh komunikasi yang baik dengan orang tua. Ada banyak kasus anak dengan keluhan gigi berlubang itu karena terlalu sering mengkonsumsi yang manis-manis, cokelat, dan semacamnya. Makanya peran orang tua itu penting. Jangan karena anaknya minta cemilan atau makanan yang manis-manis, orang tua langsung turuti. Selain itu itu, orang tua juga mesti mengajari kalau perlu mendampingi anak di masa ia belajar sikat gigi,".

*Bagaimana tanggapan dokter tentang veener gigi ?. (Suraidah Suhardi)
"Veener gigi, ini juga tidak murah. Tapi kalau kaitannya untuk memperbaiki warna, bentuk, ukuran, atau susunan gigi agar terlihat lebih rapi dan cerah, saya kira itu bagus. Veener itu kan semacam melapisi atau membungkus gigi dengan porselen. Sebelumnya, gigi itu dikikis tipis agar lapisan porselennya itu bisa menempel dengan baik. Yang perlu catat adalah karena lapisan gigi asli mesti dikikis sedikit, hal itu bisa jadi menyebabkan gigi kadang terasa ngilu,".

*Bagaimana cara paling efektif untuk membersihkan gigi ? (Muh Nehru Sagena)
"Saya selalu katakan sama pasien saya, sikat gigi dua kali sehari saja itu tidak cukup. Kalau ingin benar-benar maksimal, gunakan benang gigi. Memilih jenis sikat gigi juga penting, ada yang medium, ada soft, ada juga ekstra soft. Biasanya, tergantung kondisi gusi seseorang. Ukuran sikat gigi juga perlu diperhatikan. Sebaiknya menggunakan sikat gigi yang ukurannya sesuai dengan ukuran mulut agar sikat gigi bisa menjangkau seluruh permukaan gigi. Pemilihan pasta gigi pun tak kalah pentingnya. Saran saya, gunakan pasta gigi dengan kandungan fluoride yang tinggi. Satu lagi, cara menyikat gigi yang baik dan benar itu juga penting, tidak asal disikat. Sebaiknya, sikat gigi itu idealnya dilakukan selama dua menit, jangan terburu-buru. Miringkan sikat gigi membentuk sudut 45 derajat dari tepi gusi. Dengan kata lain, bulu sikat tidak menempel semuanya ke permukaan gigi. Sikat bagian luar dan dalam gigi menggunakan gerakan melingkar kecil yang lembut, yang berlawanan arah jarum jam. hindari menggosok terlalu keras atau dengan arah horizontal bolak-balik yang bisa melukai gusi, gerakan maju-mundur yang ringan pada bagian gigi yang dipakai untuk mengunyah makanan, kemudian sikat permukaan lidah secara perlahan dari arah dalam ke luar untuk menyingkirkan bakteri,". (*/Naf)