Era Baru PSSI Sulbar; Dari Rekonsiliasi Organisasi Menuju Pentas Nasional
MAMUJU--Babak baru sepak bola Sulawesi Barat resmi dimulai. Febrianto Wijaya terpilih secara aklamasi memimpin PSSI Sulawesi Barat periode 2026–2030 dalam Musyawarah Provinsi melalui Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Matos, Mamuju, Sabtu (07/11).
Terpilihnya kepengurusan baru ini mendapat perhatian serta pandangan dari berbagai pihak, KONI Sulawesi Barat salah satunya.
Ketua Umum KONI Sulawesi Barat, Syamsul Samad menekankan pentingnya sinergi yang kuat antara PSSI dan KONI sebagai induk dari 42 cabang organisasi olahraga di daerah. Ia berharap kepengurusan PSSI yang baru dapat menopang target prestasi olahraga daerah, khususnya dalam mempersiapkan atlet menghadapi ajang nasional seperti Pra-PON dan PON
"Target kita bukan muluk-muluk, sebab Bumi Manakarra Mamuju telah banyak mencetak pemain yang berprestasi di ajang nasional. Seperti Ardan Aras eks Timnas, Maldini Pali, hingga Resky Fandi. Semuanya itu lahir di Sulbar," ujar Syamsul Samad yang berkesempatan menghadiri KLB PSSI Sulawesi Barat.
Terpilih secara aklamasi, Febrianto Wijaya menyatakan bahwa jabatan itu merupakan amanah besar dan tanggung jawab nyata, bukan sekadar posisi seremonial atau ajang tebar janji.
Febrianto Wijaya Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PSSI Sulbar. (Foto/Istimewa)
"Amanah ini adalah tanggung jawab besar yang harus saya pertanggungjawabkan melalui kerja nyata. Saya tidak ingin hadir dengan janji. Kita harus hadir dengan program dan kerja yang nyata," tutur Febrianto.
"Kemarin kita mungkin memiliki pilihan dan pendapat berbeda. Namun hari ini kita adalah keluarga besar sepak bola Sulawesi Barat. Mari saling merangkul dan membangun kolaborasi bersama," sambung anggota DPRD Kabupaten Mamuju itu.
Dalam mewujudkan transformasi sepak bola Sulawesi Barat empat tahun ke depan, Febrianto menetapkan fokus pada pembenahan kompetisi seperti Liga 4 dan Piala Soeratin U-13 serta U-15, peningkatan kualitas pelatih dan wasit dengan target subsidi pelatihan hingga 80 persen, serta penguatan kapasitas klub agar memiliki peta jalan pengembangan dan kemitraan yang baik.
Selain itu, pembenahan tata kelola organisasi juga dilakukan dengan merangkul seluruh asosiasi mulai dari PSSI kabupaten, futsal, pelatih, sepak bola wanita—termasuk potensi atlet dari Mamasa—hingga sepak bola pantai. (*/Naf)









